Seorang Anggota Polisi yang Berjualan Siomay di Malam Hari
Daffa Mahessa Hamid (25), seorang anggota Bimbingan Masyarakat (Binmas) Polda Gorontalo, memiliki kisah menarik dalam hidupnya. Di luar tugas dinasnya sebagai polisi, ia juga menjalankan usaha berjualan siomay menggunakan bentor. Usaha ini sudah ia jalani sejak masih sekolah dan kini mampu menghasilkan omzet hingga Rp2 juta sampai Rp4 juta per malam.
Bagi Daffa, bekerja keras di masa muda adalah cara untuk membantu orang tua dan mempersiapkan masa depan. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. Meskipun memiliki pekerjaan tetap sebagai anggota polisi, ia tetap mempertahankan usaha kecilnya tersebut.
Kebiasaan Berdagang Sejak Sekolah
Kebiasaan berdagang sudah melekat dalam kehidupan Daffa sejak lama. Ia mulai berjualan sejak masih duduk di bangku sekolah menengah sekitar tahun 2016. Saat itu, ia menjual makanan kecil di lingkungan sekolah. Kebiasaan tersebut terus terbawa hingga sekarang. “Kalau tidak jualan rasanya seperti ada yang kurang,” ujarnya.
Setelah diterima sebagai anggota polisi pada tahun 2021, ia tetap mempertahankan usahanya. Setelah selesai menjalankan tugas dinas pada sore hari, Daffa langsung menyiapkan perlengkapan jualan. Biasanya ia mulai berjualan pada sore hingga malam hari. Pada bulan Ramadan, ia sering berjualan di kawasan Bundaran Saronde bersama pedagang lainnya. Sementara pada hari-hari biasa, ia berkeliling menjajarkan siomay ke sejumlah lokasi, termasuk area pesantren dan permukiman warga.
Dari Gerobak Dorong Hingga Bentor
Awalnya Daffa berjualan menggunakan gerobak dorong. Setiap sore ia mendorong gerobak tersebut berkeliling untuk mencari pembeli. Namun cara itu cukup melelahkan, terlebih saat cuaca tidak bersahabat. Ia mengaku sering kehujanan ketika sedang berjualan. Pengalaman itu membuatnya kemudian berinisiatif menggunakan bentor agar lebih praktis.
Dengan bentor, ia juga dapat membawa perlengkapan tambahan, termasuk air minum bagi pelanggan. “Biasanya orang habis makan suka tanya air, jadi saya sekalian bawa,” katanya.
Omzet Jutaan Rupiah
Usaha siomay yang dijalani Daffa ternyata mampu menghasilkan pendapatan yang cukup baik. Dalam satu malam, ia mengaku bisa memperoleh omzet sekitar Rp2 juta hingga Rp2,5 juta. Pada hari-hari tertentu, terutama saat ramai pembeli atau hari libur, pendapatannya bisa mencapai Rp3 juta sampai Rp4 juta.
Meski demikian, ia menyadari bahwa usaha kuliner tidak selalu stabil. “Kadang ramai, kadang biasa saja, tapi kita tetap harus semangat dan selalu bersyukur,” ujarnya.
Merantau dari Lampung
Daffa berasal dari Lampung dan kini tinggal di Desa Tulandenggi, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo. Ia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Ayahnya meninggal dunia ketika ia masih berusia lima tahun dan dimakamkan di Tilamuta, Kabupaten Boalemo. Sejak kecil ia hidup bersama ibunya.
Keputusan merantau ke Gorontalo juga berkaitan dengan keinginan untuk mendekatkan diri dengan keluarga yang berada di daerah tersebut. Selain itu, ia ingin mencari kehidupan yang lebih baik.
Pernah Menjalani Banyak Pekerjaan
Sebelum menjadi anggota polisi, Daffa pernah menjalani berbagai pekerjaan untuk bertahan hidup. Ia pernah ngamen di jalan, menjadi kuli bangunan, hingga berjualan martabak. Selain itu, ia juga pernah bekerja sebagai terapis pijat refleksi. Tak hanya itu, ia juga membuka privat mengaji dari rumah ke rumah.
Berbagai pekerjaan tersebut ia jalani sebelum akhirnya berhasil menjadi anggota kepolisian. “Macam-macam pekerjaan pernah saya lakukan, dan itu membuat saya paham banyak hal,” katanya.
Perjalanan Menjadi Polisi
Keinginan menjadi polisi tidak langsung terwujud. Saat pertama kali mencoba mendaftar, Daffa gagal. Dalam kondisi itu, ia sempat mendapatkan nasihat dari seorang ibu yang ditemuinya. Perempuan tersebut menyarankan agar ia terlebih dahulu melaksanakan salat di masjid. Daffa mengikuti saran tersebut dan bahkan sempat mengumandangkan azan. Ia menganggap peristiwa itu sebagai salah satu titik yang menguatkan tekadnya.
Beberapa waktu kemudian, ia kembali mencoba mendaftar dan akhirnya berhasil diterima sebagai anggota kepolisian pada tahun 2021.
Masa Muda untuk Bekerja
Bagi Daffa, masa muda adalah waktu untuk bekerja dan mempersiapkan masa depan. Ia tidak ingin menyia-nyiakan waktu dengan hal-hal yang tidak bermanfaat. “Masa muda saya bukan untuk bermain. Saya tidak mau nanti tua susah,” katanya.
Motivasi terbesar yang mendorongnya bekerja keras adalah keluarga, terutama ibunya. Ia mengaku sebagian besar usaha yang dilakukan saat ini diniatkan untuk membantu orang tua. “Saya mencari untuk orang tua saya, jadi semua tentang ibu,” ujarnya.
Capek yang Menghasilkan
Meski sudah memiliki pekerjaan tetap sebagai polisi, Daffa tetap mempertahankan usaha kecilnya. Ia tidak merasa gengsi berjualan di jalan. Baginya, semua pekerjaan yang halal patut dijalani dengan penuh tanggung jawab. “Capek itu pasti. Tapi capek yang saya lakukan menghasilkan,” katanya.
Setiap malam setelah berjualan, ia pulang dengan membawa hasil dari kerja kerasnya. Di Bundaran Saronde malam itu, Daffa kembali sibuk melayani pembeli yang datang satu per satu. Tangannya kembali mengambil siomay dari plastik, memasukkannya ke wajan panas, lalu menyajikannya dengan bumbu kacang. Rutinitas itu terus ia jalani setiap malam setelah melepas seragam dinasnya sebagai anggota polisi.
Meski masih muda dan belum menikah, keuletan Daffa menjadi pengingat bahwa kerja keras dan usaha tidak pernah mengkhianati hasil.












