Pekan Glaukoma Sedunia 2026: Pentingnya Deteksi Dini untuk Mencegah Kebutaan
Di tengah kesibukan kehidupan sehari-hari, banyak orang sering kali mengabaikan kesehatan mata. Namun, penyakit seperti glaukoma bisa sangat berbahaya jika tidak terdeteksi dini. Glaukoma adalah kondisi yang menyerang saraf optik secara progresif dan tanpa gejala jelas. Penyakit ini sering disebut sebagai “the silent thief of sight” karena dapat merusak penglihatan secara bertahap hingga akhirnya menyebabkan kebutaan.
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pemeriksaan mata, JEC Group, jaringan rumah sakit dan klinik mata ternama, menggelar edukasi dan skrining di beberapa kota dalam rangka memperingati Pekan Glaukoma Sedunia 2026 pada 8–14 Maret. Tujuannya adalah agar masyarakat lebih memahami risiko dan cara pencegahan glaukoma.
Dr. Zeiras Eka Djamal, SpM(K), dokter mata spesialis glaukoma di JEC Group, menjelaskan bahwa glaukoma menjadi penyebab kebutaan kedua terbanyak setelah katarak. “Sekitar 80%–90% kasus glaukoma tidak terdiagnosis, terutama di negara berkembang,” katanya. Ia menambahkan bahwa gejala umumnya muncul saat kerusakan sudah parah, seperti penglihatan yang mulai menyempit atau ada kehitaman di bagian atas dan bawah.
Jika glaukoma sudah mencapai stadium lanjut, kerusakan pada saraf optik tidak dapat dipulihkan. Meski demikian, deteksi dini dan pengobatan bisa membantu mencegah penyebaran kerusakan. Faktor risiko glaukoma meliputi usia di atas 40 tahun, minus tinggi, diabetes, penggunaan steroid jangka panjang, serta riwayat keluarga dengan penyakit ini.
Jenis-Jenis Glaukoma yang Perlu Diketahui
Glaukoma bukan satu jenis penyakit tunggal, melainkan terdiri dari beberapa tipe berdasarkan karakteristiknya:
- Glaukoma Primer Sudut Terbuka: Tipe yang paling umum, berkembang perlahan dan sering tanpa gejala. Penglihatan biasanya menyempit dari sisi samping secara bertahap.
- Glaukoma Primer Sudut Tertutup: Terjadi secara mendadak dengan gejala nyeri mata hebat, mata merah, sakit kepala, dan penglihatan kabur. Ini termasuk kegawatdaruratan medis.
- Glaukoma Kongenital: Terjadi pada bayi atau anak-anak akibat kelainan bawaan pada sistem aliran cairan mata.
- Glaukoma Sekunder: Disebabkan oleh kondisi lain seperti cedera mata, penggunaan steroid jangka panjang, diabetes, atau penyakit mata tertentu.
Setiap jenis glaukoma memiliki penanganan yang berbeda, mulai dari obat tetes, laser, hingga operasi. Dr. Zeiras menekankan bahwa diagnosis awal sangat penting dalam menentukan metode pengobatan yang tepat.
Mitos dan Pertanyaan Umum Seputar Glaukoma
Banyak mitos dan pertanyaan umum berkembang di masyarakat tentang glaukoma. Berikut jawaban dari beberapa pertanyaan tersebut:
-
Apakah minus tinggi bisa menyebabkan glaukoma?
Jawabannya benar sebagian. Minus tinggi di atas enam, terutama sampai minus belasan atau puluhan, meningkatkan risiko glaukoma. Struktur mata yang minus membuat saraf lebih tipis dan saluran air mata lebih rentan tersumbat. -
Apakah katarak beriringan dengan glaukoma?
Ya, lensa mata yang tebal akibat katarak bisa memicu peningkatan tekanan bola mata, sehingga menyebabkan glaukoma sudut tertutup. Operasi katarak biasanya bisa membantu mengurangi tekanan tersebut. -
Apakah diabetes selalu berhubungan dengan glaukoma?
Ini adalah mitos sebagian. Meskipun diabetes merupakan faktor risiko, mayoritas kasus glaukoma lebih disebabkan oleh faktor genetik. -
Apakah penglihatan bisa kembali normal setelah operasi?
Operasi bertujuan untuk mengontrol tekanan bola mata dan mencegah kerusakan lebih lanjut. Namun, operasi tidak bisa memperbaiki kerusakan saraf yang sudah terjadi. -
Apakah setelah operasi, mata tidak perlu kontrol lagi?
Ini juga mitos. Mayoritas pasien glaukoma tetap perlu kontrol rutin, terutama karena risiko munculnya glaukoma di mata lain mencapai 50%.
Kesimpulan
Glaukoma adalah penyakit yang sangat serius dan bisa menyebabkan kebutaan permanen jika tidak segera ditangani. Deteksi dini dan pemeriksaan rutin menjadi kunci untuk mencegah komplikasi. Dengan kesadaran yang lebih baik, masyarakat dapat mengambil langkah-langkah pencegahan dan pengobatan yang tepat.
Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”












