Penemuan Bayi Perempuan di Gang Sempit Pejaten, Jakarta Selatan
Di kawasan Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, warga dihebohkan dengan penemuan seorang bayi perempuan yang ditemukan dalam tas belanja yang diletakkan di atas gerobak nasi uduk. Kejadian ini terjadi pada Selasa (3/3/2026) di Jalan Pejaten Raya.
Bayi tersebut ditemukan dalam kondisi kulit menguning dan membutuhkan perawatan medis intensif. Awalnya, suara tangis bayi terdengar oleh warga bernama Dinda (20) yang sedang berada di lantai dua rumahnya. Ia pun mencari sumber suara dan menemukan tas belanja itu dengan bayi beserta perlengkapannya di dalamnya. Lantas Dinda memanggil ibunya untuk membawa bayi itu ke dalam rumah sebelum memanggil pihak yang berwajib.
Pada kertas yang ditemukan bersama bayi itu, tertulis bahwa bayi itu telah diberi nama dengan inisial AR yang baru lahir pada Senin (2/3/2026). Surat tersebut ditulis oleh diduga kakaknya yang berinisial Z (12), yang mengatakan bahwa ibu mereka sudah meninggal saat melahirkan. Isi surat itu berbunyi:
“Assalamualaikum, Bapak/Ibu yang menemukan adik saya, saya Zidan ingin minta tolong untuk merawat adik saya, karena ibu saya meninggal saat melahirkan, tolong anggap seperti anak sendiri, karena saya tidak akan menemukan atau mengunjunginya dia lagi, saya tidak mau masa depan dia seperti saya, Terima kasih.”
Setelah ditemukan, bayi tersebut dibawa ke Puskesmas Pasar Minggu untuk menerima perawatan medis sebelum ditangani oleh Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan.
Warga Berbondong-bondong Ingin Mengadopsi Bayi
Setelah kabar penemuan bayi itu tersebar, banyak warga menyatakan keinginan untuk mengadopsi bayi tersebut. Marlinah (49), warga yang pertama kali mengetahui keberadaan bayi itu, mengatakan sejumlah orang telah menghubunginya untuk menanyakan kemungkinan mengadopsi bayi perempuan tersebut. Bahkan, Ketua RW setempat juga sempat menyampaikan minat serupa.
“Katanya banyak yang mau adopsi. Warga sini ada, Pak RW mau, udah nge-chat saya, ‘Ibu kalau nggak mau mah saya mau ambil’,” ujar Marlinah ditemui di kediamannya, Kamis (5/3/2026).
Marlinah mengaku sebenarnya juga memiliki keinginan untuk merawat bayi tersebut. Namun, kondisi ekonomi dan kesibukannya membuat ia ragu mampu memberikan perawatan yang maksimal. Ia menjelaskan bahwa suaminya sedang dalam kondisi sakit, sementara dirinya harus bekerja setiap hari. Anak-anaknya pun memiliki kesibukan sendiri karena bekerja dan kuliah.
“Kalau mampu sih saya mau saja. Tapi yang ngurusnya itu, ayahnya sakit-sakitan, saya juga kerja, anak saya juga sibuk,” katanya.
Hal serupa disampaikan Ketua RT 10 RW 2 Pejaten Barat, Pulung. Ia menyebut ada warga di lingkungannya yang juga berminat untuk mengadopsi bayi tersebut. Menurutnya, pihak RT dan RW sudah berkoordinasi dengan Dinas Sosial terkait prosedur adopsi. Mereka juga menanyakan persyaratan yang harus dipenuhi oleh warga yang ingin mengadopsi bayi itu.
“Nah, alhamdulillah ini ada warga saya juga mau mengadopsi. Kami juga udah bilang sama Dinas Sosial, ‘Ini warga saya yang kemarin menemukan bayi itu mau mengadopsi, syaratnya apa?’. Semua sudah saya follow up-kan ke dinas,” jelas Pulung.
Proses Adopsi yang Harus Diikuti
Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Selatan, Bernard Tambunan, mengatakan bayi tersebut saat ini telah diserahkan ke Panti Sosial Asuhan Anak Balita Tunas Bangsa di kawasan Cipayung, Jakarta Timur.
“Kami bawa ke Panti Balita di Cipayung, sudah diserahkan siang ini,” kata Bernard saat dihubungi Kompas.com, Kamis.
Bernard menjelaskan bahwa masyarakat yang berminat mengadopsi bayi tersebut harus mengikuti prosedur resmi yang berlaku. “Kalau ingin mengadopsi, silakan datang langsung ke panti. Nanti akan dijelaskan prosedurnya karena ada banyak tahapan yang harus dilalui, termasuk melalui sidang,” jelasnya.
Proses adopsi ini sangat penting agar bayi bisa mendapatkan perlindungan hukum dan perawatan yang layak. Warga yang ingin mengadopsi harus memenuhi berbagai persyaratan, termasuk pengajuan dokumen, survei sosial, dan persetujuan dari pihak berwenang.
Kesimpulan
Penemuan bayi perempuan di gang sempit Pejaten menjadi perhatian besar bagi warga sekitar. Banyak orang menyatakan keinginan untuk mengadopsi, tetapi prosesnya harus dilakukan secara resmi dan terstruktur. Meskipun ada rasa empati dan keinginan untuk merawat, warga juga harus mempertimbangkan kemampuan finansial dan waktu untuk memberikan perawatan terbaik bagi bayi tersebut.












