Opini  

Puasa dan Kekuatan Iman yang Rapuh

Perubahan Makna Puasa dalam Ruang Publik

Puasa, yang sejatinya merupakan bentuk kontrol diri internal, kini mulai bergeser menjadi alat kontrol eksternal untuk mendominasi ruang publik. Fenomena ini menunjukkan pergeseran makna yang signifikan dari praktik kesalehan yang seharusnya bersifat pribadi dan spiritual.

Kolonisasi Ruang Publik oleh Sentimen Identitas

Setiap kali bulan Ramadan tiba, ruang publik seringkali diisi oleh narasi pembatasan dan pelarangan berjualan makanan. Ada ambisi kolektif yang ingin mengubah seluruh sudut kota menjadi “disterilkan” dari gangguan bagi mereka yang beribadah. Warung-warung nasi ditutup paksa, tirai-tirai dipasang rapat, dan terkadang terjadi tekanan massa yang memaksa penutupan lapak daging babi di beberapa daerah.

Perlu disayangkan bahwa respons pemerintah melalui surat edaran penataan lokasi dan pengelolaan limbah daging non-halal terkesan sebagai langkah pragmatis yang terburu-buru. Di balik dalih administratif tersebut, kebijakan ini dinilai diskriminatif oleh sebagian masyarakat.

Namun, tulisan ini tidak fokus pada polemik kebijakan tersebut. Tulisan ini lebih bermuara pada kegelisahan tentang bagaimana praktik kesalehan telah bergeser maknanya di tengah ruang publik yang plural.

Anomali dalam Praktik Kesalehan

Puasa, yang sejatinya adalah aktivitas privat untuk mengasah kontrol diri internal, kini justru kerap digunakan sebagai instrumen kontrol eksternal. Ia digunakan sebagai alat untuk mendominasi ruang bersama melalui tekanan massa. Fenomena ini bukan sekadar soal tertib sosial, tetapi sebuah kegagalan kolektif dalam memaknai puasa sebagai proses pendewasaan moral individu.

Bukannya menundukkan ego sendiri, kita justru sibuk menundukkan hak orang lain atas nama kesucian ibadah. Ini mencerminkan paradoks dalam praktik kesalehan yang sebenarnya harus bersifat personal dan tidak mengganggu hak orang lain.

Rumah Bersama yang Terkolonisasi

Wajah Indonesia adalah tenunan pluralitas yang berkelindan. Meskipun ada realitas mayoritas, dalam demokrasi, angka besar bukanlah mandat untuk mendikte ruang hidup orang lain. Ketika satu kelompok mulai memaksakan standar moralitas pribadinya ke ranah publik, harmoni yang kita banggakan sebenarnya sedang mengalami luka yang dalam.

Merujuk pada pemikiran Jürgen Habermas, ruang publik idealnya adalah arena netral yang bebas dari tekanan. Namun, fenomena penggerebekan warung makan hingga pelarangan penjualan komoditas tertentu selama Ramadan adalah potret nyata dari kolonisasi ruang publik. Dalam kolonisasi ini, ruang publik tidak lagi menjadi milik warga, melainkan dikuasai oleh sentimen identitas tunggal.

Puasa Tanpa Roh: Saat Ibadah Menjadi Intimidasi

Setiap kali terjadi aksi penggerebekan warung makan atau pelarangan komoditas pangan di bulan suci, muncul paradoks yang menggelitik, yakni upaya paksa untuk “mensterilkan” dunia dari godaan. Padahal, bila kembali ke makna spiritualitasnya, esensi puasa itu terletak pada kemampuan individu untuk menaklukkan diri sendiri di tengah berbagai godaan.

Secara teologis, agama-agama mengajarkan puasa sebagai sarana pengendalian diri. Namun, saat ruang publik dipaksa menjadi sunyi dari aroma masakan, dan bersih dari pemandangan makanan, ada pergeseran makna yang fatal atas puasa. Puasa tidak lagi menjadi proses mengendalikan diri (internal), tetapi upaya untuk menyingkirkan godaan (eksternal) melalui pemegang otoritas, atau tekanan massa.

Di sini muncul logika yang terputus dalam memaknai puasa. Bila seluruh “godaan” di ruang publik harus dihilangkan paksa supaya seseorang bisa berpuasa dengan tenang, maka puasa tersebut kehilangan nilai juangnya. Bukankah kemenangan itu hanya akan lebih berarti jika ada tantangan? Bukankah kendali diri itu akan teruji bila ada sesuatu yang bisa dikendalikan?

Mengembalikan Makna Puasa

Kegaduhan di ruang publik setiap Ramadan adalah cermin kegagalan kita memisahkan kesalehan personal dengan etika warga negara. Memaksakan narasi tunggal melalui pelarangan dagangan atau razia warung makan bukan sekadar tindakan intoleran, melainkan potret kemunduran beragama dan berdemokrasi.

Puasa seharusnya menjadi sarana pengendalian diri yang melahirkan kedamaian. Namun, yang sering tampak justru sebaliknya: luapan emosi yang berujung intimidasi. Alih-alih mengasah mental tangguh, praktik ini justru memanjakan mentalitas rapuh yang menuntut dunia bersujud demi kenyamanan ibadah segelintir orang.

Mari kita kembalikan puasa sebagai urusan privat yang mendalam antara hamba dan Sang Pencipta. Biarlah ruang publik menjadi medan laga demokrasi, sementara hati kita menjadi medan laga pengendalian diri yang sesungguhnya. Sebab, iman yang sejati tak akan pernah merasa terancam hanya karena melihat piring-piring yang terisi.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *