Daerah  

Senyum di Balik Huntara Tapanuli Selatan, Para Penyintas Menyambut Lebaran dengan Semangat Baru

Kehidupan Penyintas Banjir di Hunian Sementara

Di Desa Napa, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, lantunan ayat suci Al-Quran membelah kesunyian di waktu fajar. Di tengah suasana yang masih gelap, suara bacaan Al-Quran menjadi alarm spiritual yang membangunkan para penyintas banjir.

Pantauan Tribun Medan, Senin (9/3/2026), menunjukkan bahwa satu per satu pintu rumah terbuka. Pemandangan hangat terlihat saat para penyintas banjir saling mengetuk pintu tetangga untuk memastikan tidak ada satupun jiwa yang melewatkan sahur. Meski dinding Huntara cukup tipis, ikatan kekeluargaan mereka justru sangat kuat. Bagi mereka, seluruh korban bencana adalah keluarga.

“Kak sahur,” ucap seorang penyintas banjir sambil melangkah menuju Masjid Huntara untuk makan sahur dan salat subuh berjamaah. Bagi mereka, Ramadan tahun ini terasa berbeda dan sulit dilalui meski sudah tinggal di Huntara.

Dulu, alamat rumah pribadi mereka hanya ditandai dengan cat warna atau nomor cantik di depan rumah. Kini, identitas mereka tertuang dalam tulisan nama pemilik dan daftar anggota keluarga yang tertempel di dinding, lengkap dengan lambang Kementerian Pekerjaan Umum (PU) sebagai penanda kepemilikan negara.

Ruang gerak mereka menyusut drastis. Tak lagi ada ruang tamu luas atau meja makan terpisah. Hidup mereka kini terangkum dalam satu petak ruangan yang diisi dua kasur, dua lemari, dan satu kipas angin yang setia mengusir gerah. Urusan privasi pun menjadi tantangan. Fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang dulunya tersedia di setiap rumah, kini harus dibagi. Satu kamar mandi pria dan satu wanita disediakan untuk setiap sepuluh kamar.

Meski fasilitas Huntara tergolong sangat layak, nurani para penyintas tak bisa berbohong. Bagi mereka, rumah lama yang lenyap disapu banjir dan longsor pada November lalu tetaplah istana paling nyaman yang pernah mereka miliki.

Kartini Sihombing (62), salah satu penyintas banjir, mengenang perjalanan pasca bencana hingga akhirnya sampai di Huntara. “Mulai hari Sabtu kemarin kami di sini atau puasa ke 17. Pertama kali lihat ini, pastinya bersyukur, senang dan tenang. Karena tidak perlu lagi mengontrak,” jelasnya kepada Tribun Medan, Senin (9/3/2026).

Menurut warga Huntara yang tinggal di Blok 3 Nomor A13 ini, rumah mereka habis di sapu banjir bandang beberapa waktu lalu. Mereka sempat ikut di tenda pengungsian, namun lama kelamaan tempat pengungsian penuh, akhirnya mereka memilih mencari kontrakan.

“Tempat kontrakan kami itu jauh, jadi alhamdulillah Huntara ini selesai. Saya di Huntara ini tinggal sama anak saya dan dua cucu saja,” ucapnya.

Ia mengatakan, dengan adanya Huntara dan fasilitas dalam rumah yang sudah disiapkan cukup nyaman. “Ada bantal, ada kasur dua, ada lemari dua, kipas itu aja tapi cukup nyaman. Kalau dulu setiap bangun sakit kepala, gak tenang. Sekarang sudah tenang. Karena ada tempat berteduh yang layak dan gratis,” katanya.

Diakuinya, banyak perbedaan Ramadan dan Lebaran tahun ini yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Tapi hanya bisa disyukuri. “Ya gimanalah, tidak bisa diceritakan rasa senang, haru pasti ada tinggal di Huntara. Pasti ada juga sedihnya. Aku gak pandai bercerita cukup di rasalah,” ucapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Ia pun mengenang jika puasa tahun lalu, kata Kartini ada kegiatan tadarus. Namun sejak di Huntara menjadi tadarus masing-masing. “Kalau di sini mungkin hanya di air aja yang susah. Tapi selebihnya harus disyukuri alhamdulillah tidak ada lagi pikiran susah saat bangun tidur,” ucapnya.

Ia pun tidak ingin berlarut-larut mengenang harta bendanya yang habis disapu banjir. Baginya Lebaran Idul Fitri ini harus dirayakan dengan semangat baru. “Sini ada dapur umum, tapi kami belum ada alat-alatnya. Jadi harus dibeli baru. Ini mencicil ulang kembali (membeli perabotan masak) Dan sebagai simbol menyambut Lebaran dengan semangat baru. Dan harus disyukuri karena alhamdulillah gak sempat hanyut dan masih selamat dalam keadaan sehat,” ucapnya.

Kerap kali, saat rindu tak lagi terbendung, mereka sengaja melintasi area Desa Garoga. Di sana, mereka hanya berdiri menatap lahan kosong yang kini rata dengan tanah sisa-sisa dari pemukiman yang dulunya hidup sebelum disapu bencana.

Di atas puing-puing ingatan itulah, mereka mencoba merajut sisa hidup, mensyukuri napas yang masih ada, meski dalam kesederhanaan petak Huntara.

Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *