Daerah  

Sahur di Bawah Terpal, Ramadan dari Pengungsian

Ramadhan di Tengah Kebangkitan yang Tidak Sempurna

Di tengah luka banjir yang menghancurkan ribuan warga Aceh, bulan Ramadhan datang dengan nuansa yang berbeda. Bagi sebagian orang, ini adalah waktu untuk beribadah dan berkumpul bersama keluarga. Namun bagi para penyintas banjir, Ramadhan kali ini membawa kesedihan dan tantangan yang tidak mudah dilewati.

Di Gampong Ujung Karang, Kecamatan Serbajadi, Aceh Timur, suasana kampung yang dulu penuh dengan aroma masakan dan kehidupan yang ramai kini hampa. Banjir bandang beberapa bulan lalu telah merusak segalanya. Rumah-rumah hanyut, lahan pertanian rusak, bahkan sepeda motor Usman masih tertanam di lumpur.

Usman, salah satu korban banjir, masih ingat bagaimana air mulai naik pada pagi Rabu. Ia dan keluarganya terpaksa meninggalkan rumah dalam kepanikan. Setelah air surut, mereka kembali dan melihat kehancuran yang mengejutkan. “Rumah saya sudah tidak ada lagi. Hanya tanah tandus dan kenangan,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Kini, Usman dan keluarganya tinggal di bangunan PAUD yang masih utuh. Mereka harus makan dari bantuan keluarga atau kemanusiaan. Saat Ramadhan tiba, tradisi meugang yang biasanya menjadi momen istimewa hilang. “Saya hanya bisa bersyukur jika bisa makan,” katanya sambil menghela napas.

Trauma yang Masih Menyertai

Trauma dari bencana itu masih membekas. Setiap kali hujan turun, warga langsung waspada. “Kami takut akan kejadian seperti kemarin,” kata Usman.

Di tempat lain, Abdul Wahab (55), warga Gampong Leubok Mane, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara, juga mengalami hal serupa. Ia bertahan di atap rumah selama banjir dan akhirnya dievakuasi ke tenda pengungsian. Setelah air surut, ia membangun rumah darurat dari material yang tersisa. “Dari kayu-kayu yang tidak hanyut, saya bangun rumah seadanya,” ujarnya.

Di rumah darurat itu, Abdul Wahab dan tiga anaknya menjalani Ramadhan. “Sahur sama seperti makan biasa, masak sendiri di rumah,” katanya. Meski hidup dalam kondisi yang sulit, ia tetap menjalani ibadah puasa dengan penuh kesabaran.

Kehidupan di Hunian Sementara

Di Kabupaten Aceh Tamiang, ratusan keluarga korban banjir kini tinggal di hunian sementara yang dibangun pemerintah. Meskipun kondisinya lebih baik dibandingkan tinggal di tenda darurat, kehidupan para penyintas masih jauh dari normal. Masalah air bersih, sanitasi, dan kepadatan hunian masih menjadi tantangan besar.

Namun, di tengah segala keterbatasan itu, Ramadhan tetap dijalani. Sahur dimasak di dapur bersama, anak-anak mencoba menjalani puasa di ruang sempit, dan setiap malam warga berkumpul untuk shalat Tarawih. “Meski tidak sempurna, kami tetap menjalani ibadah dengan penuh keyakinan,” ujar salah satu warga.

Harapan di Tengah Kegelapan

Bagi Usman dan ribuan korban banjir lainnya, Ramadhan tahun ini mungkin tidak menghadirkan suasana seperti biasanya. Tidak ada dapur yang ramai oleh aroma masakan meugang. Tidak ada rumah yang utuh. Tidak ada kepastian kapan kehidupan akan benar-benar kembali seperti dulu.

Namun di bawah terpal pengungsian, di rumah darurat dari kayu hanyut, dan di hunian sementara yang sempit, mereka tetap menjalani puasa. Dengan kesabaran dan harapan bahwa suatu hari nanti mereka akan kembali menyambut Ramadhan di rumah sendiri.




Amri Nufail

Reporter digital yang menggemari berita olahraga, kegiatan komunitas, dan isu pergerakan anak muda. Ia hobi berlari pagi, bermain badminton, dan menonton pertandingan olahraga. Ketika istirahat, ia menyukai membaca artikel inspiratif. Motto: “Semangat dalam berita harus sama kuatnya dengan semangat di lapangan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *