Budaya  

Fesyen Kain Tappan: Potensi Wastra Lampung yang Menanti Pengembangan

Inspirasi dari Kain Tappan dalam Fesyen Modern

Sony Oktaria, seorang desainer fesyen asal Bandar Lampung, mengambil inspirasi dari kain tappan untuk menciptakan karya-karya modern yang unik. Kain tappan, yang merupakan salah satu wastra khas Lampung, menjadi sumber utama bagi Sony dalam mengembangkan berbagai produk fesyen seperti outer, home dekor, hingga sarung.

Kain tappan memiliki motif yang khas dan bermakna mendalam. Motif kapal, figur manusia, fauna, serta ornamen geometris sering muncul dalam kain ini. Menurut Sony, kain tappan tidak hanya sekadar kain biasa, tetapi juga merupakan simbol budaya dan identitas masyarakat Lampung Saibathin.

Filosofi di Balik Kain Tappan

Kain tappan memiliki sejarah panjang, dengan keberadaannya sudah ada sejak abad ke-15 hingga ke-17 Masehi. Kain ini berkembang di wilayah pesisir Lampung, yang dipengaruhi oleh tradisi maritim dan jalur perdagangan Nusantara. Motif kapal yang dominan pada kain ini menjadi penanda kuat bahwa masyarakat Saibathin adalah komunitas pesisir yang berorientasi pada laut dan perdagangan.

Selain itu, kain tappan juga memiliki makna spiritual. Dalam tradisi masyarakat Saibathin, kain ini bersifat sakral dan eksklusif. Penggunaannya dibatasi hanya pada upacara adat besar, seperti perkawinan, penobatan, atau ritual kematian bangsawan adat.

Motif flora dan fauna pada kain tappan menegaskan falsafah hidup masyarakat Lampung yang menjunjung keseimbangan antara manusia, alam, dan adat istiadat. Kain ini bukan hanya sebagai busana adat, tetapi juga sebagai media narasi sejarah yang merekam jejak peradaban maritim Lampung.

Kiprah Sony dalam Melestarikan Budaya

Meski kain tappan memiliki nilai sejarah dan budaya yang tinggi, sayangnya banyak orang Lampung sendiri belum mengenalnya. Mereka lebih akrab dengan kain tapis, meskipun kain tappan memiliki potensi yang sama bahkan lebih dalam.

Sony memilih untuk mengembangkan kain tappan karena ia melihat potensi yang belum tergarap. Ia percaya bahwa tapis penting, tetapi Lampung jauh lebih kaya dari sekadar satu kain. “Orang selalu berpikir Lampung itu tapis. Padahal tidak hanya itu,” ujarnya.

Dalam upayanya melestarikan kain tappan, Sony membuka galeri di Bandar Lampung pada tahun 2020, tepat saat pandemi COVID-19. Galeri tersebut kini telah berjalan selama lima tahun dan memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan fesyen modern berbasis budaya lokal.

Produk dan Pasar yang Berkembang

Di galeri miliknya, Sony menampilkan berbagai produk fesyen yang terinspirasi dari kain tappan. Beberapa di antaranya adalah outer, home dekor, dan sarung. Omzet bulanan galerinya fluktuatif, dengan angka terendah mencapai Rp 25 juta dan tertinggi bisa mencapai Rp 100 juta.

Pasarnya masih didominasi oleh pembeli yang datang langsung ke galeri atau melalui jaringan yang sudah mengenalnya. Namun, Sony berharap dapat memperluas pasar dan membuat kain tappan lebih dikenal oleh masyarakat luas.

Kesadaran Budaya yang Masih Rendah

Ironisnya, saat Sony mengikuti pameran di Jakarta Convention Center, justru pengunjung dari luar negeri lebih memahami kisah kain tappan dibanding masyarakat lokal. Hal ini menunjukkan bahwa informasi tentang kain tappan masih terputus dan kurang tersampaikan secara efektif.

Sony menyadari bahwa kesadaran budaya tentang kain tappan masih rendah. Ia berharap dapat mengangkat kain ini agar lebih dikenal oleh masyarakat Lampung dan luar Lampung. “Informasinya terputus. Kita hanya dapat dari literasi, museum, dan cerita turun-temurun,” jelasnya.

Upaya Melestarikan Budaya Lokal

Melalui galeri dan karya-karyanya, Sony berkomitmen untuk melestarikan wastra Lampung. Bagi dia, ini bukan hanya bisnis, tetapi juga upaya menjaga identitas kebudayaan. Dengan menggabungkan seni dan budaya, Sony ingin menunjukkan bahwa kain tappan memiliki nilai yang layak dihargai dan diperkenalkan kepada dunia.




Amirah Rahimah

Reporter berita perkotaan yang gemar berkeliling kota untuk mencari cerita. Ia menikmati fotografi gedung, membaca artikel arsitektur, dan menyusun catatan kecil tentang perubahan kota. Hobi lainnya adalah menikmati kopi di kedai lokal. Motto: “Kota bicara melalui cerita warganya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *