Budaya  

Mega Masjid Al-Mabrur di Tanjungpandan, Kekayaan Arsitektur Melayu Belitung

Sejarah dan Keistimewaan Masjid Agung Al-Mabrur

Masjid Agung Al-Mabrur, yang berada di Tanjungpandan, Kepulauan Bangka Belitung, adalah salah satu bangunan bersejarah yang memiliki nilai historis dan spiritual yang sangat tinggi. Dari luar, masjid ini menawarkan pemandangan yang ikonik dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar. Suara lalu lalang kendaraan di depannya tidak mengurangi keindahan masjid yang telah berdiri sejak dulu.

Pilar-pilar beton yang kokoh berdiri berjajar, menyambut setiap jemaah yang datang untuk beribadah. Di dalamnya, hamparan sajadah yang bersih dan sejuk menjadi pengiring langkah kaki menuju saf. Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol peradaban masyarakat Negeri Laskar Pelangi yang akarnya terus tumbuh selama lebih dari satu setengah abad.

Asal Usul dan Perkembangan Masjid

Jejak sejarah masjid ini terkait erat dengan sosok Kiai Agoes Mohamad Saleh, adik dari Depati Rahat, yang menyandang gelar Depati Cakraningrat IX (1856-1873). Di atas tanah wakaf keluarganya, cikal bakal pusat spiritualitas warga Belitung mulai dipancangkan. Pembangunan fisik masjid yang monumental ini tercatat dimulai pada tahun 1870, dengan proses pengerjaan yang memakan waktu selama dua tahun. Hal ini menunjukkan betapa seriusnya masyarakat masa itu dalam membangun rumah ibadah secara swadaya.

Awalnya, Al-Mabrur hanya merupakan sebuah bangunan kayu ulin yang sederhana. Dindingnya tersusun dari papan dengan atap sirap yang ikonik, mencerminkan arsitektur khas Melayu Belitung pada zamannya. Secara historis, luas awal masjid ini adalah 16,5 meter persegi, dengan lokasi yang strategis, yaitu berbatasan dengan sekolah HIS yang kini menjadi SMP Negeri 1 Tanjungpandan di sisi selatan, serta jalan raya utama di sisi utara.

Renovasi dan Pemeliharaan

Seiring bergulirnya waktu, struktur kayu masjid mulai termakan usia. Pada 30 April 1936, sebuah langkah besar dilakukan melalui permufakatan yang dipimpin oleh K.A. Mohamad Joesoef, seorang Demang atau Districshoofd West Billiton. Pertemuan tersebut menyepakati perbaikan total demi menyelamatkan marwah masjid. Di bawah komando Comite Pendoedoek Kota Moeslimin Tanjongpandan, K.A.H. Abd. Hamid ditunjuk memimpin renovasi perdana yang didanai sepenuhnya oleh sedekah wakaf masyarakat muslim setempat.

Anom (76), Penasehat Masjid Agung Al-Mabrur, menekankan bahwa masjid ini adalah simbol kemandirian. “Semua dibangun dari gabungan dana masyarakat, sebuah bukti gotong royong yang nyata,” ujarnya. Meskipun ada catatan tahun 1870 sebagai awal konstruksi, Anom menyebut ada indikasi sejarah wakaf yang mungkin lebih tua, meski perlu dilakukan peninjauan kembali terhadap dokumen-dokumen otentik. Hal ini menambah misteri sekaligus kharisma sejarah yang menyelimuti Al-Mabrur.

Tradisi dan Aktivitas Masjid

Lebih dari sekadar monumen, Masjid Agung Al-Mabrur tetap hidup melalui tradisi intelektualnya. Salah satu yang paling konsisten adalah kajian kitab Fadhilah Amal yang dilaksanakan setiap selesai Salat Dzuhur sejak sembilan tahun terakhir. Tradisi ini membuat aktivitas masjid tetap terisi meski di luar jam salat wajib. Jemaah Salat Dzuhur di sini pun tergolong ramai, rata-rata mencapai tiga hingga lima saf setiap harinya.

Sehubungan dengan dimulainya bulan Ramadhan, Anom menjelaskan bahwa masjid ini juga menjadi rujukan utama bagi warga yang ingin melaksanakan itikaf. Setiap tahunnya, puluhan jemaah memilih bermalam di sini untuk mengejar keberkahan di sepuluh malam terakhir bulan suci. Anom menceritakan saat itikaf, pengalaman spiritual di Al-Mabrur semakin mendalam dengan kehadiran para imam penghafal Al-Qur’an (Hafiz) yang memimpin salat malam.

Keamanan dan Ketenteraman

Keamanan dan ketenangan inilah yang membuat warga dari berbagai penjuru kampung, bahkan dari luar Tanjungpandan, selalu menyempatkan diri untuk singgah dan bersujud di bawah kubahnya. Kini, wajah Al-Mabrur telah bertransformasi total menjadi bangunan yang modern dan ikonik. Namun, nilai-nilai luhur yang dititipkan oleh para Depati zaman dahulu tetap dijaga dengan baik oleh para pengurusnya.

Al-Mabrur bukan hanya tempat untuk bersujud, tapi juga tempat untuk menoleh ke belakang, melihat sejarah, dan mengambil pelajaran bagi masa depan. Sebagai simbol religi, masjid ini terus menawarkan keteduhan batin bagi siapa saja yang ingin melarikan diri sejenak dari keruwetan duniawi.


Ratna Purnama

Seorang reporter yang gemar meliput isu publik, transportasi, dan dinamika perkotaan. Ia memiliki kebiasaan membaca opini koran setiap pagi untuk memperluas perspektif. Hobi utamanya adalah jogging, fotografi, dan menikmati senja. Motto: "Kepekaan adalah modal utama seorang penulis."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *