Masjid Tjia Kang Hoo, Simbol Kerukunan Umat Beragama di Jakarta Timur
Masjid Tjia Kang Hoo yang berada di wilayah Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur menjadi salah satu contoh nyata kerukunan antar umat beragama. Dalam perayaan Ramadan 1447 Hijriah, masjid ini berharap bisa menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan kebersamaan antar pemeluk agama yang berbeda.
Imam Rawatib Masjid Tjia Kang Hoo, Alldi Nugraha menyampaikan bahwa ia berharap pada bulan Ramadan tahun ini, kerukunan antar umat beragama semakin terpupuk dan tidak terpecah belah. Di sekitar masjid, terdapat keberagaman tempat ibadah seperti gereja dan vihara, yang menunjukkan hubungan harmonis antar komunitas.
“Enggak usahlah kita mengacak-ngacak ajaran (agama yang berbeda), enggak usahlah. Kita masing-masing aja, sesama umat manusia kita mah rukun-rukun saja,” ujar Alldi saat diwawancarai.
Kerukunan ini juga terlihat dari kehidupan warga sekitar yang bermukim di sekitar Masjid Tjia Kang Hoo. Warga etnis Tionghoa dan Betawi tinggal bersama meski memiliki keyakinan berbeda. Hal ini diharapkan tetap terjaga dalam jangka panjang.
Sejarah dan Nama Masjid Tjia Kang Hoo
Nama Tjia Kang Hoo sendiri berasal dari seorang warga keturunan Tionghoa yang kemudian memeluk agama Islam. Lahan tempat masjid kini berdiri dahulunya adalah kediaman Tjia Kang Hoo.
“Sebelumnya masjid kan ini rumah, rumah Haji Abdul Soleh (nama Tjia Kang Hoo setelah menjadi mualaf). Jadi sudah dipakai taklim, Tarawih, Salat Idulfitri, Iduladha,” jelas Alldi.
Arsitektur yang Mencerminkan Rukun Islam
Arsitektur Masjid Tjia Kang Hoo memiliki lima bagian pagoda yang mencerminkan Rukun Islam, yakni syahadat, salat, zakat, puasa, dan naik haji bagi yang mampu. Bagian pagoda pada atap induk terdiri dari tiga susun yang mencerminkan rukun atau kerangka dasar beragama yang benar sebagai jalan menuju Surga yaitu Iman, Islam, dan Ihsan.
Pagoda kecil dibangun dua susun memiliki arti untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat, yang perlu ditempuh melalui hubungan dengan Allah dan sesama makhluk hidup, baik manusia maupun makhluk lain.
Ciri bangunan budaya Tionghoa tampak pada bentuk pagoda, sudut atap, warna merah, dan sejumlah ornamen yang menunjukkan asal mayoritas warga sebagai etnis Tionghoa. Sementara ciri bangunan Betawi terlihat dari gigi balang atau bagian yang ada pada tepi atap rumah-rumah masyarakat Betawi berbentuk segitiga dan bulatan, ornamen ini dipasang pada lisplang.
“Kadang orang yang lewat itu enggak menyangka kalau ini masjid. Pasti orang yang lewat itu kira Klenteng. Padahal mah kalau kita ke bawah itu ada lafadz Allah-nya,” tutur Alldi.

Jemaah Membludak Saat Ramadan
Jemaah Salat Tarawih Ramadan 1447 Hijriah di Masjid Tjia Kang Hoo tidak hanya berasal dari warga sekitar. Bahkan, banyak warga dari luar Kelurahan Pekayon datang untuk menunaikan salat.
Alldi mengungkapkan bahwa jumlah jemaah dari luar wilayah mencapai sekitar 65 persen dari total daya tampung masjid yang mencapai 300 orang. Hal ini mengejutkan pihak pengurus karena masjid ini terbilang baru berdiri dan tidak berada di antara permukiman warga yang mayoritas menganut Islam.
“Semalam itu saf jemaah perempuan sampaikan kita majukan karena memang jemaah perempuan lebih banyak dibandingkan laki-laki. Alhamdulillah semalam ramai,” tambah Alldi.

Faktor yang Menarik Jemaah dari Luar Wilayah
Faktor utama yang membuat jemaah dari luar wilayah tertarik adalah arsitektur masjid yang memadukan unsur Islam, budaya Tionghoa, dan Betawi. Hal ini membuat masjid ini menjadi unik dan menarik perhatian masyarakat luas.
Dengan konsep yang unik dan nilai-nilai kerukunan yang terus dijaga, Masjid Tjia Kang Hoo menjadi bukti bahwa perbedaan agama tidak menjadi penghalang untuk saling menghormati dan hidup rukun dalam masyarakat.












