Sejarah dan Keunikan Masjid Ar-Rahman Waipare di Pulau Flores
Masjid Ar-Rahman Waipare yang berada di Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, adalah salah satu bangunan keagamaan tertua di wilayah ini. Berdiri sejak awal abad ke-20, masjid ini memiliki makna penting sebagai simbol masuknya Islam ke Bumi Sikka. Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjadi penanda sejarah dari persaudaraan antara pelaut Bugis dengan penguasa lokal.
Lokasi dan Ciri Bangunan
Masjid ini terletak di pesisir Pulau Flores, hanya beberapa langkah dari bibir pantai utara. Lingkungan sekitar masjid terlihat asri, dikelilingi oleh pohon kelapa dan pemukiman warga. Bangunan utama masjid menampilkan atap tumpang biru cerah, kubah emas kecil dengan lambang bulan bintang, serta menara tinggi di sisi kanan bangunan. Menara tersebut memiliki pola zig-zag biru-putih yang menjadi ciri khas. Tidak hanya sebagai elemen estetika, menara ini juga berfungsi sebagai penanda visual bagi para pelaut di perairan Sikka.
Asal Usul dan Tradisi “Sumpah Darah”
Menurut cerita masyarakat setempat, kehadiran Islam di daerah ini dibawa oleh para pelaut asal Gujarat dan Sulawesi sekitar tahun 1901. Mereka bertemu dengan Raja Kangae, dan hubungan antara pendatang dan penguasa lokal tidak berakhir dengan konflik. Justru, mereka menjalin persahabatan erat melalui tradisi unik “minum darah” sebagai simbol persaudaraan yang tak terputuskan.
Raja Kangae memberikan lahan di sepanjang pesisir pantai hingga ke Tanjung Darat untuk dikelola para pendatang. Di lahan inilah, pemukiman dan tempat ibadah mulai dibangun. Awalnya, rumah ibadah dibangun secara darurat, dan baru setelah peristiwa gempa pada tahun 1992, masjid ini direnovasi hingga menjadi seperti yang kita lihat sekarang.
Filosofi Nama “Waipare” dan Akulturasi Budaya
Nama “Waipare” memiliki makna mendalam dalam bahasa setempat. “Wai” berarti air dan “Pare” berarti beras. Konon, wilayah ini memiliki sumur dengan air yang tampak seperti air cucian beras, yang menjadi sumber kehidupan bagi masyarakat gunung saat masa panen. Seiring waktu, terjadi akulturasi budaya. Masyarakat asli mulai memeluk Islam dan menyatu dengan para pendatang.
Orang asli Waipare dan orang Bugis kemudian menyatu, berkeluarga, dan menetap hingga membentuk kampung ini. Bukti sejarah para pionir Islam ini masih dapat dijumpai melalui makam-makam tua berusia ratusan tahun, salah satunya makam Haji Taning. Arsip nisan kuno di sana memiliki kemiripan dengan model di Pulau Jawa, menandakan jejaring dagang yang luas di masa lampau.
Saksi Bisu Bencana
Yusuf Keneng (74), Imam Masjid Ar-Rahman yang telah mengabdi lebih dari 25 tahun, memberikan gambaran mengenai transformasi fisik masjid. Ia mengenang rupa asli masjid yang sangat sederhana sebelum hancur diterjang bencana besar. Saat ia datang sekitar tahun 1979, masjid ini masih berbentuk rumah panggung kayu dengan tiang-tiang. Namun, begitu gempa bumi dan tsunami Flores menerjang pada tahun 1992, bangunan itu hancur total.
Pasca-bencana, upaya membangun kembali masjid dilakukan dengan penuh perjuangan. Yusuf mengungkapkan bahwa pembangunan kembali masjid ini lebih banyak mengandalkan swadaya masyarakat yang mayoritas bekerja sebagai nelayan. Meskipun pernah ada kendala administrasi terkait status “masjid tertua” di tingkat pemerintah daerah, jemaah tetap teguh membangun secara mandiri melalui bantuan dari MUI Sikka dan donatur pribadi.
Pengabdian Dua Dekade
Di usianya yang menginjak 74 tahun, Yusuf masih setia memimpin jemaah di tengah keterbatasan fisik. Baginya, menjaga Masjid Ar-Rahman adalah amanah yang ia pikul sejak sebelum bencana 1992, saat dirinya masih aktif berdinas sebagai pegawai kantor. Ia sudah 25 tahun lebih menjadi imam di sini. Sempat ingin istirahat, tapi masyarakat meminta kembali. Selama itu pula ia merangkap sebagai ketua takmir sebelum akhirnya kepengurusan sekarang lebih lengkap dan tertata.
Kini, Masjid Ar-Rahman melayani sekitar 900 jiwa jemaah atau sekitar 300 kepala keluarga.












