Budaya  

5 Masjid Bersejarah di Solo Jateng untuk Wisata Religi Ramadan 2026

Wisata Religi di Lima Masjid Tertua Solo Selama Ramadan 2026

Solo tidak hanya dikenal dengan budaya dan kulinernya yang khas, tetapi juga memiliki sejumlah masjid tua yang kaya akan sejarah. Beberapa dari masjid ini bahkan telah berdiri sejak zaman kerajaan, dengan arsitektur dan tradisi unik yang masih terjaga hingga saat ini. Momen Ramadan 2026 bisa menjadi waktu yang tepat untuk menjelajahi sejarah Islam di Solo melalui lima masjid tertua yang menarik untuk dikunjungi.

1. Masjid Darussalam di Jayengan, Serengan



Masjid Darussalam didirikan oleh komunitas Banjar perantau di Solo sekitar tahun 1900. Arsitekturnya memadukan unsur Jawa dan Sumatera, menciptakan nuansa hangat dan tradisional yang unik. Setiap Ramadan, masjid ini menjadi pusat kegiatan sosial dengan pembagian ribuan porsi bubur Samin secara gratis. Tradisi ini berasal dari perantau Banjar yang ingin berbagi kepada masyarakat sekitar. Ribuan warga dari Solo dan kota sekitarnya, termasuk Karanganyar, Sukoharjo, dan Boyolali, antre untuk menikmati hidangan khas ini. Masjid Darussalam juga tetap menjadi tempat ibadah aktif bagi jamaah lokal, memperkuat nilai spiritual di tengah tradisi berbagi.

2. Masjid Al Wustho di Kawasan Puro Mangkunegaran



Masjid Al Wustho awalnya bernama Masjid Mangkunegaran dan dibangun oleh KGPAA Mangkunegoro I pada masa 1725–1795. Terletak di sisi barat Puro Mangkunegaran, keunikan masjid ini terlihat dari dinding tebal, kaligrafi indah, menara, dan gapura khas yang mempertahankan arsitektur Jawa tradisional. Selama berabad-abad, masjid ini tetap menjadi pusat ibadah keluarga kerajaan dan sejak 1924 mulai dibuka untuk masyarakat umum. Masjid Al Wustho juga sering menjadi bagian dari ritual kerajaan seperti pelantunan Al-Qur’an saat kirab pusaka atau perayaan Tahun Baru Jawa. Keaslian arsitektur dan keindahan kaligrafi membuat masjid ini menjadi daya tarik bagi wisatawan yang ingin menelusuri sejarah Mangkunegaran.

3. Masjid Laweyan di Jalan Liris I, Pajang



Masjid Laweyan dibangun pada 1546 di masa pemerintahan Kerajaan Pajang dan dikenal juga sebagai Masjid Ki Ageng Henis. Masjid ini unik karena arsitekturnya menyerupai pura dengan dua belas pilar utama dari kayu jati kuno yang masih kokoh hingga kini. Sejarahnya menarik, karena Ki Beluk, seorang pemuka Hindu, memeluk Islam setelah berdakwah oleh Ki Ageng Henis dan menyumbangkan lahannya untuk masjid. Di sekitar masjid terdapat makam Ki Ageng Henis dan kerabat kerajaan, menjadikannya tidak hanya sebagai tempat ibadah tapi juga situs sejarah yang sarat nilai budaya. Masjid Laweyan aktif digunakan hingga kini dan tetap mempertahankan kesakralan dan keaslian arsitektur.

4. Masjid Agung Surakarta di Alun-alun Utara Keraton



Masjid Agung Surakarta dibangun pada 1745, setelah pemindahan Keraton Kartasura ke Surakarta akibat peristiwa Geger Pacinan. Seluruh kayu bangunannya diambil dari Masjid Agung Kartasura yang hancur, mengikuti pola arsitektur Masjid Agung Demak. Masjid ini menjadi pusat ibadah utama, dengan nuansa klasik dan sakral yang kental, serta sering dijadikan tempat istirahat dan refleksi bagi wisatawan. Lokasinya yang strategis di Alun-alun Utara membuat masjid ini mudah dijangkau, sekaligus menjadi saksi sejarah perjalanan keraton dan masyarakat Surakarta. Arsitektur kayu dan ornamen klasiknya tetap dipertahankan, menarik minat wisatawan dari berbagai daerah.

5. Masjid Al Fatih Kepatihan di Jalan Pamedan



Masjid Al Fatih Kepatihan dibangun pada 1312 H / 1891 M atas inisiatif Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV atas perintah Pakubuwono IX. Awalnya, bangunan hanya terdiri dari satu ruangan yang kini menjadi ruang sholat utama. Masjid memiliki empat saka guru dan delapan saka rawa dari kayu jati, serta jendela besar berterali besi di sisi kanan dan kiri mihrab. Menariknya, pembangunan masjid juga terkait dengan kisah mahar lamaran Pakubuwono IX. Saat ini, Masjid Al Fatih tetap berfungsi sebagai tempat ibadah aktif dan menjadi tujuan wisata religi, memberi pengalaman menyelami sejarah sekaligus budaya Islam di Solo.

Bahjah Jamilah

Bahjah Jamilah adalah seorang penulis berita yang menyoroti dunia kuliner dan perjalanan. Ia suka mengeksplorasi makanan baru, memotret hidangan, serta menulis ulasan perjalanan. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca blog kuliner. Motto: “Setiap rasa menyimpan cerita.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *