Budaya  

Wajib Tahu! Cara dan Bacaan Salat Witir Ramadan

Pengertian Salat Witir

Salat witir merupakan salah satu bentuk salat sunah yang dikerjakan setelah salat Isya dan menjadi penutup dari rangkaian salat dalam sehari. Pada bulan Ramadan, salat witir biasanya dilaksanakan setelah salat tarawih, baik secara berjamaah maupun sendiri. Secara bahasa, kata “witir” bermakna ganjil. Oleh karena itu, jumlah rakaatnya disunahkan dalam bentuk ganjil, seperti satu, tiga, lima, tujuh, sembilan, hingga maksimal sebelas rakaat. Di tengah masyarakat, terutama saat Ramadan, salat witir umumnya dikerjakan tiga rakaat setelah 20 rakaat tarawih sehingga totalnya menjadi 23 rakaat.

Hukum Salat Witir

Hukum salat witir adalah sunah muakkadah (sangat dianjurkan). Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Berwitirlah kalian semua, wahai ahli Al-Qur’an, karena sesungguhnya Allah itu ganjil, dan menyukai hal-hal yang ganjil” (HR Khuzaimah).

Jumlah Rakaat Salat Witir

Berdasarkan penjelasan Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in, ketentuan rakaat witir adalah:

  • Minimal: 1 rakaat
  • Batas kesempurnaan minimal (adnal kamal): 3 rakaat
  • Lebih sempurna: 5, 7, atau 9 rakaat
  • Maksimal: 11 rakaat

Dalilnya:

“Minimal salat witir adalah satu rakaat, meskipun tidak didahului salat sunah berupa salat sunah (ba’diyah) Isya’ atau salat sunah lainnya. Imam An-Nawawi berkata dalam kitab Al-Majmu’: “Jumlah rakaat yang mendekati sempurna adalah tiga rakaat, dan jumlah yang paling sempurna adalah lima, tujuh, lalu sembilan rakaat. Adapun jumlah maksimal rakaatnya adalah 11 rakaat.”

Waktu dan Tata Cara Salat Witir

Waktu salat witir dimulai setelah salat Isya hingga terbit fajar. Bagi yang yakin bisa bangun sebelum fajar, lebih utama melaksanakan witir di akhir malam. Bagi yang tidak yakin, lebih utama melaksanakannya sebelum tidur.

Salat witir dapat dilakukan dengan dua cara:

1. Washal (Disambung)

Menyambung rakaat terakhir dengan rakaat sebelumnya. Contoh: Tiga rakaat dengan satu salam. Boleh satu tasyahud di rakaat terakhir. Boleh dua tasyahud pada dua rakaat terakhir seperti salat Magrib.

Niat salat witir washal tiga rakaat:

اُصَلِّى سُنَّةَ الْوِتْرِ ثَلَاثَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatal witri tsalâtsa raka‘âtin mustaqbilal qiblati adâ’an lillâhi ta‘âlâ

Artinya, “Aku salat sunat witir tiga rakaat dengan menghadap kiblat, karena Allah ta’ala.”

2. Fashal (Dipisah)

Memisahkan satu rakaat terakhir dari rakaat sebelumnya. Dua rakaat salam, lalu satu rakaat salam. Cara fashal dinilai lebih utama dibanding washal.

Niat dua rakaat:

أُصَلِّيْ سُنَّةً مِنَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatam minal witri rak’ataini lillahi ta’ala.

Artinya, “Aku niat salat sunah dari bagian salat witir dengan dua rakaat karena Allah ta’ala.”

Niat satu rakaat:

أُصَلِّيْ سُنَّةً مِنَ الْوِتْرِ رَكْعَةً لِلَّهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatal witri rak’atal lillahi ta’ala.

Artinya, “Aku niat salat sunah witir satu rakaat karena Allah ta’ala.”

Bacaan Surat dalam Salat Witir

Jika tiga rakaat, disunahkan membaca:
– Rakaat pertama: Surat Al-A’la

– Rakaat kedua: Surat Al-Kafirun

– Rakaat ketiga: Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas

Jika satu rakaat, dianjurkan membaca:
– Surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas setelah Al-Fatihah

Pada witir di bulan Ramadan, mulai malam ke-16 disunahkan membaca doa qunut pada rakaat terakhir.

Bacaan Setelah Salat Witir

Setelah salam, dianjurkan tidak langsung beranjak dan membaca dzikir berikut:

  • Dzikir 3 kali:

    سُبْحَانَ المَلِكِ القُدُّوسِ

    Subhānal malikil quddūs.

    Artinya, “Maha Suci Dzat Yang Maha Merajai dan Maha Suci.”

  • Doa:

    سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ، جَلَّلْتَ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْعَظَمَةِ وَالْجَبَرُوْتِ، وَتَعَزَّزْتَ بِالْقُدْرَةِ، وَقَهَّرْتَ الْعِبَادَ بِالْمَوْتِ. اَللّٰهُمَّ إنِّيْ أَعُوذُ بِرِضَـاكَ مِنْ سُخْطِكَ بِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِيْ ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ فَلَكَ الْحَمْدُ حَتَّى تَرْضَى

    “Subbûhun quddûsun rabbul malâikati war rûh jallaltas samâwâti wal ardha bil ‘azhamati wal jabarût wa ta’azzazta bil qudrati wa qahhartal ‘ibâda bil maûti allâhumma innî a’ûzu bi ridaka min sakhatika wa bimu’âf âtika min ‘uqû batika wa a’udzu bika minka lâ uhsî tsanâ ‘an ‘alaîka anta kama atsnaîta ‘ala nafsika falakal hamdu hattâ tardha.”

    Artinya, “Maha Suci Allah Penguasa Yang Kudus…”

Bacaan berikut, dan paling baik dibaca 40 kali:

لَا إِلٰهَ اِلَّا أَنْتَ سُبْحَــانَكَ إِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ

Lâ ilâha illâ anta subhânaka innî kuntu minazzhalimîn

Artinya, “Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau. Sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.”

Dengan memahami tata cara, jumlah rakaat, waktu pelaksanaan, dan bacaannya, salat witir dapat dijalankan dengan lebih tertib dan khusyuk. Semoga ibadah yang dilakukan diterima Allah SWT dan menjadi penyempurna amal di bulan Ramadan.

Hasnah Najmatul

Penulis yang dikenal teliti dalam riset dan penyajian data. Ia menaruh minat pada dunia ekonomi, statistik ringan, dan analisis tren. Di waktu luang, ia menikmati sudoku, membaca artikel panjang, dan mendengarkan musik instrumental. Motto: “Akurasi adalah bentuk tanggung jawab.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *