Opini  

Puasa Komunikasi Negatif

Puasa sebagai Latihan Menahan Diri dan Membangun Komunikasi Positif

Puasa sering dikaitkan dengan menjaga diri dan menahan diri dari berbagai tindakan tertentu. Bagi umat Islam, puasa tidak hanya melibatkan penahanan diri dari makan dan minum, tetapi juga dari aktivitas yang biasanya diperbolehkan di luar bulan Ramadan, seperti berhubungan suami istri atau melakukan kegiatan sehari-hari lainnya. Hal ini membuat puasa menjadi ajang latihan untuk mengendalikan diri secara efektif.

Dalam konteks komunikasi, puasa juga bisa menjadi momentum penting untuk membangun tradisi baik dan menghilangkan kebiasaan buruk. Selama bulan Ramadan, banyak umat Islam berusaha untuk menghindari perkataan dan perbuatan negatif. Ketakutan situasional selama bulan ini menjadi modal penting dalam membangun komunikasi yang lebih baik, terutama bagi individu yang cenderung bersikap negatif.

Banyak orang menggunakan kesempatan Ramadan untuk meninggalkan kebiasaan yang dianggap tidak menguntungkan. Contohnya, para perokok aktif mulai mengurangi atau bahkan berhenti merokok selama bulan puasa. Begitu pula dengan kebiasaan berkomunikasi negatif, seperti menyakiti hati orang lain atau menyebarkan informasi yang tidak benar. Momentum puasa bisa menjadi ajang untuk mengakhiri kebiasaan tersebut.

Dalam berkomunikasi, ada aturan-aturan yang harus dipatuhi agar komunikasi berjalan efektif. Oleh karena itu, menahan diri dari menyampaikan pesan-pesan negatif selama puasa bukan hanya untuk menjaga kemurnian ibadah, tetapi juga untuk melatih komunikasi yang lebih baik. Pesan-pesan negatif bisa menjadi hambatan dalam komunikasi sosial, baik dari sumber eksternal maupun internal.

Setiap orang pasti pernah memproduksi pesan negatif, baik secara sadar maupun tidak sadar, yang bisa menyakiti mitra komunikasi. Di era digital saat ini, setiap individu memiliki platform media sosial yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan. Sayangnya, banyak pesan yang masih mengandung ujaran kebencian, hujatan, atau konten negatif lainnya, sehingga ruang digital penuh dengan polusi pesan.

Jika puasa adalah ajang menahan diri, maka komunikasi negatif juga seharusnya turut “puasa” selama bulan Ramadan. Kita sadar bahwa komunikasi negatif bisa mengurangi nilai puasa. Tidak hanya pesan yang terlihat, aspek psikis juga memengaruhi komunikasi. Cara pandang kita terhadap orang lain bisa memengaruhi isi pesan yang disampaikan. Jika kita memiliki pikiran negatif, pesan yang disampaikan pun cenderung negatif.

Untuk membangun hubungan positif dengan mitra komunikasi, kita harus memulai dengan pikiran positif. Ibadah puasa mengajarkan kita untuk menghilangkan pikiran negatif terhadap orang lain, sehingga alumni-alumni madrasah Ramadan diharapkan menjadi pelopor komunikasi positif.

Idealnya, komunikasi negatif tidak hanya dihindari selama Ramadan, tetapi juga dalam aktivitas komunikasi sehari-hari. Ibadah puasa selama satu bulan ini bisa menjadi ajang latihan untuk menghilangkan kebiasaan komunikasi negatif dan membiasakan budaya komunikasi positif, baik dalam interaksi langsung maupun via media sosial.

Jika hal ini berhasil dilakukan, efek puasa akan sangat berkontribusi pada terciptanya tatanan sosial yang harmonis, baik di dunia nyata maupun maya. Ruang digital kita saat ini sering dipenuhi oleh pesan-pesan yang kurang bijak dan berita-berita yang tidak menggembirakan, seperti ujaran kebencian dan kekerasan verbal antarindividu atau antarkelompok.

Bullying terhadap tokoh dan selebritis, ujaran kebencian terhadap kelompok minoritas, serta berita-berita pelecehan seksual telah menjadi pemandangan yang lumrah di ruang digital. Semua sisi negatif ini tidak hanya merusak mental korban, tetapi juga memporak-porandakan tatanan sosial yang seharusnya dijaga dengan baik.

Momentum puasa Ramadan dianggap tepat untuk menyebarluaskan hal-hal baik dan religius agar ruang digital lebih adem dan menyenangkan. Ucapan selamat menjalankan ibadah puasa dengan beragam versi yang diposting netizen memperkaya nuansa religiusitas Ramadhan di jagad digital.

Namun, harapan kita semua adalah bahwa religiusitas tidak hanya menjadi asesoris media sosial tahunan, tetapi benar-benar mencerminkan kebiasaan kreatornya yang akan terus bertahan meskipun Ramadan sudah berlalu.

Ibadah yang baik tidak hanya diukur dari kebenaran prosedur pelaksanaannya, tetapi juga dari efek pasca pelaksanaannya. Misalnya, melempar jumrah saat ritual haji tidak hanya dinilai dari kesesuaian prosesnya, tetapi juga dari sejauh mana pelakunya mampu menghadapi godaan setelah kembali ke tanah air.

Hal yang sama juga berlaku dalam ibadah salat. Nilai salat seseorang dilihat dari sejauh mana ia mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar setelah sholat. Demikian pula dengan puasa, kesabaran yang dilatih selama sebulan harus terlihat efeknya pada perilaku pelakunya setelah Ramadan berakhir.

Artinya, jika komunikasi negatif ikut puasa selama Ramadan, diharapkan komunikasi negatif tidak lagi hadir selama sebelas bulan setelahnya. Puasa Ramadan mungkin hanya berlangsung sebulan, tetapi komunikasi negatif harus terus menerus di-puasa-kan. Semoga…

Hasnah Najmatul

Penulis yang dikenal teliti dalam riset dan penyajian data. Ia menaruh minat pada dunia ekonomi, statistik ringan, dan analisis tren. Di waktu luang, ia menikmati sudoku, membaca artikel panjang, dan mendengarkan musik instrumental. Motto: “Akurasi adalah bentuk tanggung jawab.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *