Ibu di Tangsel Menangis, Kekhawatiran Anak Usai Dugaan Pencabulan

Pengalaman Trauma yang Mendalam pada Anak Akibat Kekerasan Seksual

Seorang ibu berinisial H mengungkapkan dampak psikologis yang dialami anak keduanya, seorang anak laki-laki berusia 5 tahun, setelah mengalami kekerasan seksual. Dugaan tersebut melibatkan anggota keluarga dan menimpa tiga anak, yaitu A (11 tahun), I (5 tahun), dan M (3 tahun).

Dengan suara bergetar dan sesekali menahan tangis, H menceritakan pengalaman trauma yang masih membekas pada sang anak. “Sakit, iya. Ketakutan, iya,” ujarnya saat berbicara kepada media. Rasa takut itu muncul hampir setiap hari, terutama di malam hari. Anaknya sering terbangun dan sulit kembali tidur.

“Kalau malam itu enggak pernah tidur. Kayak meluk saya, gitu. Terus suka lihatin muka saya,” tuturnya. Buah hatinya itu selalu memastikan bahwa ibunya ada di sampingnya. “Saya bilang, ‘Kak, Mama nggak apa-apa. Mama sehat. Mama nggak sakit,’” ujarnya sebelum kembali menangis.

Kekecemasan sang anak tidak hanya muncul di malam hari. Putranya bahkan pernah menangis sambil memeluk ibunya. “Maafin AA (kakak) Mak. Gak bisa jagain dedek,” ucapnya menirukan perkataan anak berinisial A. Bagi ibu tersebut, ucapan itu menjadi beban emosional yang sangat berat bagi anak seusianya.

Setiap hari, ia berusaha menguatkan anak-anaknya dengan berkata, “Udah nggak apa-apa. Ada Mama, Kak. Jangan takut. Ada Mama.” Namun, ketika ia harus bekerja, anak keduanya selalu diliputi rasa cemas. “Jadi kalau saya mau kerja itu dia selalu nanya, ‘Mama mau kerja ya? Mama jangan kerja,’ katanya. ‘Aku takut di rumah’,” ujarnya menirukan omongan sang anak.

Rasa takut itu membuat sang anak tak mau berpisah meski hanya sebentar. Kasus ini diketahui oleh H pada awal Februari 2026 setelah pihak sekolah memanggil dan menjelaskan kejadian yang melibatkan dua anak. Awalnya, H tidak curiga ketika anaknya mengeluh sakit pada bagian anus. Ia mengira itu disebabkan gangguan pencernaan biasa.

Namun, keluhan itu terus berulang selama beberapa hari. Informasi awal justru terungkap dari sekolah setelah seorang siswa yang merupakan anak tetangga H terlihat memiliki bekas kemerahan di bagian leher. “Sempat dipanggil sama guru, ditanya kenapa lehernya merah,” tutur H.

Awalnya, anak tersebut mengaku hanya bercanda dengan anaknya. Namun, guru merasa ada kejanggalan dan membawa anaknya bersama rekannya ke ruang kepala sekolah untuk dimintai keterangan lebih lanjut. “Di situ ditanya sama guru-guru, siapa yang nyuruh. Mereka jawab ada yang nyuruh,” ujarnya.

Berdasarkan cerita dari pihak sekolah, anak-anak sempat diberi minuman sebelum kejadian. “Katanya disuruh minum obat, dicampur sama minuman,” kata H menirukan keterangan yang ia terima. Ia menyebut, berdasarkan cerita tersebut, anak-anak sempat diminta melakukan tindakan yang tidak pantas sebelum dugaan kekerasan terjadi.

H mengaku baru mengetahui dugaan peristiwa tersebut sekitar dua minggu lalu. “Masih di tahun ini, bulan ini juga. Dua minggu yang lalu,” katanya. Setelah mendapat informasi tersebut, H mencoba menanyakan langsung kepada anak-anaknya untuk memastikan kebenarannya.

Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, H menyebut anaknya yang berusia lima tahun mengalami dampak paling serius. “Yang lima tahun yang parah. Karena dia sudah sering,” katanya sambil menangis. Menurut penuturan anaknya, setiap kali mencoba melawan, ia mendapat tekanan dan ancaman sehingga merasa takut untuk bercerita.

“Setiap dia berontak katanya dibekep badannya, terus diancem. Dibilang jangan sampai bilang ke orangtua,” ujar H. Ia menilai, di usia yang masih sangat kecil, anaknya belum mampu melindungi diri. “Anak sekecil itu kan takut. Dicubit saja dia sudah takut,” katanya.

Sebelum kasus ini terungkap, H mengaku anaknya kerap mengeluhkan rasa sakit di bagian anusnya. “Dia suka ngeluh sakit,” ucapnya lirih. Sebelum laporan resmi dibuat ke Polres Tangerang Selatan, H sempat mendatangi keluarga untuk meminta penjelasan.

H menjelaskan terduga pelaku yang melakukan pencabulan tersebut masih memiliki hubungan keluarga dengannya. “Saya sempat berdebat dulu dengan keluarga, baru ke polres,” katanya. Karena tidak mendapatkan titik temu, laporan kepada polisi dilakukan pada awal pekan setelah kejadian. Menurut H, laporan resmi diajukan salah satu tetangganya.

“Yang melaporkan tetangga saya (orang tua anak yang juga menjadi korban),” ucapnya. H berharap dan memohon kepada aparat penegak hukum agar segera menuntaskan kasus yang menimpa anak-anaknya. Dengan nada penuh emosi, sambil menangis ia meminta keadilan ditegakkan tanpa berlarut-larut.

Ia berharap pihak kepolisian dapat segera mengambil langkah dan memberikan kepastian hukum. “Saya mohon dengan sangat. Saya ingin keadilan untuk anak-anak saya,” ujarnya. Ia meminta perlindungan dan pembelaan untuk hak-hak anaknya saat ini.

“Saya ingin seadil-adilnya. Saya ingin cepat dilakukan. Saya ingin keadilan untuk anak-anak saya. Itu saja,” pungkasnya. Laporan telah teregister Nomor LP/B/410/8/2026/SPKT/POLRES TANGERANG SELATAN/POLDA METRO JAYA tanggal 10 Februari 2026 pukul 10.29 WIB, bertempat di kantor kepolisian.


Bayu Purnomo

Penulis yang terbiasa meliput isu-isu pemerintahan, ekonomi, hingga gaya hidup ringan. Ia gemar bersepeda sore dan merawat tanaman hias di rumah. Rutinitas sederhana itu membantunya menjaga fokus dan kreativitas. Motto: "Berpikir jernih menghasilkan tulisan yang kuat."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *