Kondisi Tanah Gerak di Kampung Sekip Memperburuk Kekhawatiran Warga
Kondisi tanah gerak yang terjadi di Kampung Sekip, RT 7 RW 1, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Semarang, semakin memprihatinkan. Dalam waktu singkat, kerusakan yang terjadi telah meningkat secara signifikan, membuat warga semakin khawatir akan keselamatan mereka.
Perkembangan Kerusakan dalam Hitungan Hari
Pada awalnya, saat dilakukan pemantauan pertama pada Kamis (5/2/2026), jalan kampung masih dapat dilalui sepeda motor meskipun telah muncul retakan dan patahan sekitar 30 sentimeter. Warga sempat menutup celah tersebut dengan batu dan tanah agar satu lajur tetap bisa digunakan secara bergantian oleh pengendara.
Saat itu, hanya satu rumah yang roboh, yaitu milik Supriyadi. Beberapa bangunan lain masih berdiri meski mengalami kerusakan struktural. Rumah milik Sri terlihat miring dengan lantai yang mulai retak, sementara rumah Slamet menunjukkan tanda-tanda keretakan meski kandang kambing di sampingnya masih dalam kondisi utuh. Permukaan jalan pun belum mengalami perubahan kontur yang signifikan.
Namun, dalam perkembangan terbaru pada Minggu (15/2/2026), kondisi kampung mengalami lonjakan kerusakan yang drastis. Jalan utama kampung yang sebelumnya hanya retak kini terputus total. Lebar patahan bertambah hingga sekitar satu meter, membuat akses sepeda motor sama sekali tidak memungkinkan. Selain itu, struktur jalan yang semula relatif datar kini berubah menjadi bergelombang dan tidak stabil.
Jumlah rumah yang roboh pun bertambah. Setelah rumah Supriyadi ambruk lebih dulu, rumah milik Sri, Slamet, dan Supardi menyusul runtuh akibat pergerakan tanah yang terus berlangsung. Bangunan yang roboh tampak hancur dan tidak lagi layak huni.
Di bagian terluar kampung, tepat di depan musala, berdiri tenda pengungsian sebagai tempat bertahan sementara bagi warga terdampak.

Tindakan Darurat untuk Keselamatan Warga
Sejumlah keluarga yang kehilangan tempat tinggal kini menempati musala tersebut. Ketua RT setempat, Joko Sukaryono, menyebut peningkatan kerusakan dalam waktu singkat ini menjadi pertimbangan kuat untuk melakukan relokasi total warga dari kawasan rawan tersebut demi keselamatan bersama.
“Yang roboh bertambah. Antisipasinya, kami bangun tenda pengungsian sementara di seberang kampung, sekitar 200 meter dari lokasi kejadian, lebih aman,” jelas dia. Sukaryono menegaskan, setelah kampung dikosongkan, wilayah tersebut akan ditetapkan sebagai zona merah dan tidak boleh lagi dihuni.
Perubahan drastis dari kondisi itu menjadi sorotan pemerintah. Hal itu diketahui dari kunjungan Wakil Presiden dan Gubernur Jawa Tengah sehari sebelumnya.

Kunjungan Wakil Presiden Gibran
Pemberitaan soal tanah gerak di Kampung Sekip, RT 7 RW 1, Kelurahan Jangli, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, telah menjadi sorotan pemerintah pusat. Sabtu (14/2/2026) sore menjelang petang, Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka bersama Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, datang ke sana.
Dalam kondisi hujan lebat, di bawah tenda depan musala, para pejabat itu berbincang dengan warga. Gibran mengatakan bahwa keselamatan warga setempat menjadi prioritas utama pemerintah. Dia meminta warga tidak memaksakan diri kembali ke rumah lama yang berada di zona rawan.
“Ini keselamatan bapak ibu yang nomor satu ya. Jadi nanti untuk masalah relokasi dan lain-lain akan segera dicarikan solusi oleh Pak Gubernur dan Bu Wali Kota juga. Bapak ibu, saya mohon jangan bolak-balik ke rumah yang lama. Ini kita nggak tahu tanah bergeraknya ini nanti seberapa meluas,” kata Gibran, dalam rekaman video yang diambil warga.

Gibran bahkan membandingkan kondisi Jangli dengan tanah gerak di Tegal yang pernah dia kunjungi sebelumnya. “Minggu lalu kita ke Tegal, situasinya sama, juga cukup parah. Warga kami kondisikan untuk mengungsi dulu. Kalau kembali ke tempat lama dengan kondisi seperti ini sangat riskan. Kemarin tidak ada korban, itu yang paling penting,” katanya.
Tak hanya soal relokasi, Gibran juga membahas soal pemenuhan kebutuhan dasar warga selama masa pengungsian. “Di pengungsian makan tiga kali sehari, ada posko berobat juga. Jangan sampai ada yang sakit, ini kondisi masih hujan terus,” ucapnya kepada lurah dan camat setempat.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi mengatakan pihaknya menanggung kebutuhan warga terdampak dan memastikan relokasi benar-benar berjalan. “Akan kita lakukan relokasi. Semuanya nanti biaya akan ditanggung oleh pemerintah kota maupun provinsi. Pak Wapres dan Wakil Menteri PU akan membantu. Semua kebutuhan pokok akan dipenuhi,” kata Luthfi.
Ketua RT setempat, Joko Sukaryono, ketika ditemui, menyebut kunjungan itu berfokus seputar relokasi saja. “Dari kunjungan wapres, yang bisa kami dapatkan yaitu relokasi atau pindah rumah. Beliau menyarankan camat dan lurah untuk mengusahakan relokasi. Soal tempatnya, kami belum menerima kabar, kemungkinan di tempat yang aman,” ujar Sukaryono, Minggu (15/2/2026).
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."












