JAKARTA — Saat dunia sedang sibuk dengan berita konflik dan ketegangan, saya justru teringat pada sebuah kelas kecil di Ciputat. Bukan tentang diplomasi PBB atau meja perundingan internasional, melainkan kelas perkuliahan Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang bekerja sama dengan Coventry University, Inggris. Di sanalah saya pertama kali benar-benar “belajar” tentang perdamaian, bukan sebagai jargon politik, tetapi sebagai sikap hidup.
Pengajarnya adalah Dr. Miho Taka, seorang perempuan asal Jepang yang menjadi dosen di Coventry University. Bersama Dr. David Curran, ia mengampu mata kuliah Peace Building and Conflict Resolution. Di bawah bimbingan Ibu Yanti Amran yang baik hati dan sabar, kelas ini menjadi tempat belajar yang tidak hanya mengedepankan teori, tetapi juga pengalaman nyata.
Sosoknya sederhana, tenang, dan jauh dari kesan akademisi yang kaku. Namun justru dari ketenangan itulah makna perdamaian terasa hidup. Kenangan itu muncul kembali ketika membaca berita tentang eskalasi di Gaza yang kembali menelan korban sipil dan merusak gencatan senjata. Di saat yang sama, Indonesia melalui Presiden Prabowo Subianto mendorong rekonstruksi Gaza dan solusi dua negara lewat jalur diplomasi internasional. Menteri Agama Nasaruddin Umar pun menggerakkan jejaring kampus dan ulama untuk memperkuat posisi moderat Indonesia di panggung global. Semua itu mengingatkan saya bahwa perdamaian bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar umat manusia.
Di kelas peace studies yang diajar oleh Miho, perdamaian tidak diajarkan sebagai teori kering. Ia dibantu Yanti Amran mengelola kelas dengan memperlakukan mahasiswa seperti keluarga. Tidak ada teguran keras bagi yang terlambat, tidak ada jarak kaku antara dosen dan mahasiswa. Yang ada justru pertanyaan pembuka yang sederhana, “Apa yang ingin kalian ceritakan tentang Indonesia kepada kami?”
Dari situ, kelas langsung berubah menjadi ikatan kebersamaan yang menyenangkan. Mahasiswa dari Indonesia, Malaysia, India, Pakistan, hingga Afrika saling berbagi cerita, dari isu Palestina sampai rekomendasi kantin kampus. Harapan ditulis di sticky notes dan ditempel di dinding. Perdamaian, rupanya dimulai dari merasa didengar.
Miho lalu memperkenalkan gagasan Johan Galtung tentang negative peace dan positive peace. Negative peace hanyalah ketiadaan perang, yang sering lahir dari paksaan. Sementara positive peace adalah hadirnya keadilan, rasa aman, kesempatan hidup layak, dan relasi sosial yang sehat. Konflik, jelasnya, bukan sekadar benturan fisik, melainkan benturan tujuan, kepentingan, dan struktur yang tidak adil. Di titik itu saya sadar, perang tidak selalu berupa senjata. Tapi bisa berupa sistem, bahasa, kebijakan, bahkan cara kita memandang orang lain.
Metode belajar kami pun tidak biasa. Diskusi kelompok, role play, hingga simulasi negosiasi dijalankan dengan satu prinsip, mendengar sampai tuntas. Miho tidak memotong pendapat mahasiswa. Bahkan saat mengambil foto kelas, ia selalu meminta izin, dan menawarkan untuk memburamkan wajah siapa pun yang tidak ingin ditampilkan. Hal kecil, tetapi sarat makna, martabat manusia didahulukan.
Ada satu momen yang sulit saya lupakan. Di akhir perkuliahan, Dr. Miho tiba-tiba meneteskan air mata. Ia meminta maaf atas sejarah kelam Jepang di Asia, termasuk Indonesia. Bukan karena ia bersekutu, tetapi karena ia merasa rekonsiliasi selalu perlu dimulai dari keberanian mengakui luka. Yanti Amran memeluk momen ini, dan kelas seketika berubah menjadi senyawa empati. Saat itu saya belajar, perdamaian bukan hanya kebijakan, tapi keberanian emosional.
Pengalaman itu terasa relevan ketika membaca dinamika Gaza hari ini. Gencatan senjata yang rapuh adalah contoh negative peace, tanpa keadilan. Yang dibutuhkan Gaza bukan hanya berhentinya bom, tetapi hadirnya positive peace yakni akses kemanusiaan, rekonstruksi sosial, pemulihan trauma, dan dialog yang inklusif.
Upaya diplomasi Indonesia yang diberitakan sejalan dengan semangat itu. Ketika pemerintah melibatkan ulama, akademisi, dan jejaring global, sesungguhnya Indonesia sedang mempraktikkan apa yang kami alami di kelas Ciputat, membangun empati lintas budaya, bukan sekadar negosiasi kepentingan.
Di era perang hibrida, ketika konflik juga berlangsung lewat hoaks, propaganda, dan polarisasi digital, pelajaran perdamaian menjadi semakin penting. Kampus tidak cukup mencetak ahli, tetapi juga penenun kemanusiaan. Peace studies seharusnya tidak berhenti sebagai mata kuliah, melainkan menjadi etos bersama.
Dari Coventry ke Ciputat, dari kelas kecil hingga diplomasi global, Miho Taka mengajarkan banyak hal, minimal satu hal sebagai titik mula bahwa perdamaian lahir dari sikap menghargai manusia. Terkadang kedamaian dimulai bukan dari meja perundingan, melainkan dari senyum, dari mendengar, dari keberanian mengakui luka.
Kita semua berharap perang dan konflik meredam. Dan, barangkali kita memang perlu kembali belajar, bagaimana caranya menjadi manusia yang damai terlebih dahulu, sebelum belajar hal-hal rumit lainnya.
Seorang jurnalis online yang gemar membahas tren baru dan peristiwa cepat. Ia menyukai fotografi jalanan, nonton dokumenter, dan mendengar musik jazz sebagai relaksasi. Menulis baginya adalah cara memahami arah dunia. Motto hidupnya: "Setiap berita harus memberi manfaat, bukan sekadar informasi."












