Dua Perampokan Berulang di Banyumas dengan Modus Serupa
Dalam sepekan terakhir, wilayah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, digegerkan oleh dua kejadian perampokan yang terjadi secara berurutan. Kedua kejadian ini memiliki pola serupa, termasuk waktu pelaku tindak kriminal dan cara mereka masuk ke rumah korban.
Perampokan Pertama di Kotayasa
Perampokan pertama terjadi di rumah Nurgiyanti (39) yang tinggal di Desa Kotayasa, Kecamatan Sumbang, pada Senin (9/2/2026) dini hari. Kejadian ini terjadi antara pukul 01.30 hingga 02.00 WIB. Saat itu, empat penghuni rumah sedang tidur. Dugaannya, para perampok masuk melalui jendela kamar yang dicongkel.
Nurgiyanti terbangun saat dua orang tak dikenal masuk ke kamarnya. Mereka mengikat tangannya dan meminta dia serta anak bungsunya keluar kamar. Di luar, suami Nurgiyanti sudah dalam kondisi terikat. Anak sulungnya mencoba memberi perlawanan, tetapi kemudian ditindih oleh dua pelaku lain.
Salah satu pelaku menekan kepala anak Nurgiyanti sementara yang lain menahan kakinya. Wajah anaknya dibekap menggunakan bantal hingga darah keluar dari hidung. Nurgiyanti memohon kepada para pelaku untuk berhenti, tetapi mereka memintanya diam dan tidak berteriak.
Menurut Nurgiyanti, para pelaku membawa kabur uang Rp12 juta yang disimpan, termasuk uang milik anak-anak dan uang arisan. Selain itu, perhiasan emas seperti kalung, cincin, dan anting juga hilang, serta tiga unit telepon genggam.
Perampokan Kedua di Kebasen
Perampokan kedua terjadi di rumah Parsiti (70) di Karangsari, Kecamatan Kebasen, pada Sabtu (14/2/2026) tengah malam. Kejadian ini baru dilaporkan ke polisi pada Minggu (15/2/2026) dini hari. Dua perampok masuk lewat jendela depan rumah. Saat itu, Parsiti terbangun dan melihat aksi para pelaku, sehingga langsung dipukuli dan diikat menggunakan lakban.
Menurut Kepala Dusun Karangsari Ikung, perampok merupakan dua pria yang berhasil membawa uang tunai, emas hampir 100 gram, serta tiga kartu ATM beserta PIN-nya.
Modus Pelaku yang Sama
Para pelaku di kedua lokasi sama-sama membawa senjata tajam. Di Kotayasa, senjata yang digunakan adalah kapak, sabit, pisau, dan linggis kecil. Sementara di Kebasen, pelaku menggunakan celurit. Senjata ini digunakan untuk mengancam para korban. Misalnya, saat perampok menyatroni rumah Parsiti, mereka bertanya, “Mau hidup atau mati?” sebelum melumpuhkan korban dengan cara mengikat tangan dan kaki.
Di Kotayasa, korban diikat menggunakan tali sepatu, sedangkan di Kebasen, korban diikat menggunakan lakban.
Ciri-Ciri Pelaku
Polisi masih melakukan penyelidikan terhadap kedua kasus ini. Dari keterangan korban, diketahui bahwa para pelaku memakai masker dan memiliki logat yang berbeda. Di wilayah Sumbang, perampokan dilakukan oleh empat orang yang memakai masker. Dua di antaranya berperawakan tinggi, sedangkan dua lainnya lebih pendek. Saat berbicara, mereka menggunakan logat berbeda: dua orang menggunakan logat Jawa, sedangkan dua lainnya berbicara dalam bahasa Indonesia.
Sementara itu, dua perampok di Kebasen diduga berasal dari daerah dekat. Menurut keterangan korban, mereka menggunakan logat ngapak saat berbicara.
Penyelidikan Polisi
Kapolresta Banyumas Kombes Pol Petrus Silalahi menyatakan bahwa polisi telah melakukan olah TKP dan meminta keterangan saksi. Penyelidikan terus dilakukan untuk menemukan keberadaan terduga pelaku.
Kesimpulan
Dua perampokan yang terjadi di Banyumas menunjukkan modus serupa, yaitu masuk melalui jendela, menggunakan senjata tajam, dan mengancam korban. Para pelaku juga memakai masker dan logat yang berbeda. Polisi masih berusaha mengidentifikasi dan menangkap para pelaku.
Penulis berita yang tekun mengeksplorasi cerita di balik fenomena yang terjadi di masyarakat. Ia suka berkunjung ke tempat baru, memotret suasana, serta berbincang dengan orang-orang dari berbagai latar. Hobinya adalah menulis cerpen dan bercocok tanam. Motto: "Tulisan terbaik lahir dari observasi yang jujur."












