Barcelona kalah dari Atletico Madrid, dan kondisi lapangan serta keputusan wasit menjadi sorotan utama Joan Laporta.
Seorang tokoh yang baru saja mundur untuk mencalonkan diri kembali sebagai Presiden Barcelona menggunakan media sosial sebagai tempat melampiaskan kekecewaannya dan memberikan kritik.

Tim Hansi Flick terpuruk dalam laga pertama semifinal Copa del Rey melawan Atletico Madrid. Bertandang ke Civitas Metropolitano pada Kamis (12/2/2026), Barcelona dikalahkan dengan skor 0-4. Hasil ini diwarnai sejumlah insiden kontroversial.
Insiden paling menonjol bagi Barcelona adalah gol Pau Cubarsi yang dianulir dan kartu merah untuk Eric Garcia. Kekalahan empat gol tanpa balas membuat misi Blaugrana untuk melakukan comeback pada leg kedua di Madrid (3/3/2026) semakin mustahil. Namun, Laporta masih percaya bahwa Lamine Yamal dkk dapat menciptakan keajaiban.
Hal menarik, selain momen pembatalan gol Cubarsi, pria Spanyol itu menganggap kondisi lapangan juga memengaruhi performa buruk timnya.
“Seluruh dukungan saya untuk Hansi Flick, para pemain, Deco (direktur olahraga), dan timnya,” begitu bunyi kalimat pembuka pernyataan Laporta di akun X.
“Dengan kekuatan semua pendukung Barça, saya yakin kami memiliki kesempatan bersejarah untuk melakukan comeback besar di Spotify Camp Nou pada 3 Maret mendatang.”
“Sayangnya, kemarin kami mengalami serangkaian kemalangan, mulai dari kondisi lapangan yang buruk hingga gol yang dianulir secara tidak adil.”
“Mengenai gol Pau Cubarsi yang dibatalkan secara tidak adil, ini seperti hujan di atas tanah basah karena mengingatkan kita pada gol Lamine Yamal yang juga dibatalkan secara tidak adil di Anoeta (18/1/2026).”
“Tidak ada yang tidak bersalah. Itulah mengapa kita harus berjuang melawan segala sesuatu dan semua orang. Sekarang, lebih dari sebelumnya, kita harus berada di sisi para pemain.”
“Saya meminta para anggota klub dan seluruh pendukung untuk menunjukkan betapa kita mencintai mereka,” lanjutnya.
Sejatinya, pertandingan kemarin bisa dibilang kelar dalam satu babak. Atletico Madrid sudah mengantongi keunggulan masif 4-0 saat turun minum.
Gawang Barca bobol karena aksi bunuh diri konyol Eric Garcia serta gol-gol cantik Antoine Griezmann, Ademola Lookman, dan Julian Alvarez.
Barca sempat mencium angin remontada ketika Pau Cubarsi menjebol gawang Atleti pada awal babak kedua. Hanya, gol itu dianulir wasit Juan Martinez Munuera secara kontroversial.
Pada awalnya Munuera mengesahkan gol tersebut, tetapi ruang kontrol memerintahkannya mengevaluasi lewat VAR.
VAR 7 Menit
Di sinilah letak masalahnya. Wasit membutuhkan waktu lebih dari tujuh menit untuk mengesahkan atau membatalkan gol sang defender muda.
Setelah menunggu lama, Munuera akhirnya memutuskan gol dianulir karena posisi Robert Lewandowski dianggap offside tipis saja ketika bola memantul kena kakinya sebelum diambil Cubarsi.
Waktu tujuh menit untuk mengevaluasi sebuah insiden dianggap pihak Barca terlalu berlebihan.
“Saya tidak mengerti wasit di negara ini,” ucap Hansi Flick mengutarakan kekesalannya selepas pertandingan.
“Gol yang dianulir untuk Cubarsi? Ayolah, tujuh menit untuk mencari sesuatu buat melihat apakah mereka menemukannya.”
“Bagi saya, jika Anda harus mencari selama tujuh menit, itu sudah bukan offside.”
“Dan jika Anda menemukan sesuatu, setidaknya jelaskan, karena mereka bahkan tidak berbicara (di lapangan),” tegasnya, dikutip dari Mundo Deportivo.
Komite Wasit akhirnya menjelaskan kenapa proses evaluasi gol Cubarsi sampai memakan waktu begitu lama.
“Tim VAR tidak dapat menentukan keputusan menggunakan teknologi offside semi-otomatis (SAOT) karena situasi terlalu banyak pemain (di sekitar kejadian), sehingga menarik garis offside secara manual untuk mengambil keputusan yang tepat,” tulis laporan di Marca.
Selain gol Cubarsi yang dianulir, Barca dirugikan karena kartu merah yang diterima Eric Garcia pada menit ke-85.
Bek Spanyol tersebut diusir karena menjatuhkan Alex Baena sebagai pemain outfield terakhir di pertahanan Barca.
Munuera awalnya hanya memberinya kartu kuning, tapi diubah menjadi merah setelah menengok VAR.
Sebaliknya, kubu Barcelona meradang karena Munuera tidak memberikan sanksi berat atas pelanggaran Giuliano Simeone yang mendaratkan sepatu ke pergelangan kaki Alejandro Balde di menit pertama.
Di pihak Atletico Madrid sendiri, pelatih Diego Simeone tidak banyak membahas kontroversi. Dia lebih memilih untuk mengapresiasi anak buahnya yang tampil luar biasa karena dianggap berhasil menyegel kemenangan dalam satu babak.
“Menurut saya, pada akhirnya kerja keras membuahkan hasil,” kata pria Argentina tersebut.
“Saya percaya kepada tim, kepada apa yang kita lakukan, kepada pendukung, kepada energi yang terpancar di stadion.”
“Saya merasa tim ini bisa bermain seperti yang mereka lakukan. (Tapi) Persaingan ini belum berakhir, kami tahu lawan yang kami hadapi.”
“Kami harus menyambutnya dengan semangat yang sama seperti hari ini,” tuturnya menunggu semifinal leg kedua di Camp Nou bulan depan.












