Perjalanan Astia Mulyawati dalam Mengangkat Sagu sebagai Identitas Papua
Di sebuah dapur kecil di sudut Kota Jayapura, aroma sagu yang dipanggang perlahan menyebar. Di atas meja sederhana, kue kering berwarna cokelat keemasan tersusun rapi dalam kemasan modern. Tidak banyak yang menyangka bahwa camilan renyah ini berasal dari bahan pangan tradisional Papua: sagu.
Astia Mulyawati, seorang perantau asal Jawa Barat, memulai langkahnya dengan membuat sagu menjadi aneka camilan yang mulai mendunia. Lewat UMKM Basyira Kukis, ia mengolah sagu menjadi Sagu Biscotti dan Brownchips Sagu. Camilan modern ini kini dipasarkan di toko oleh-oleh, supermarket, bandara, bahkan melalui platform daring serta pameran bertaraf internasional.
Sebelumnya, Astia hanya seorang ibu rumah tangga. Tanpa keluarga dekat di Jayapura, ia memilih bertahan dengan prinsip tidak menyerah dan selalu berpikir positif. Awalnya, ia hanya membuat kue kering saat hari raya. Namun, ia melihat potensi sagu yang belum dimanfaatkan secara maksimal.
“Saya awalnya hanya ibu rumah tangga. Bikin kue kering kalau hari raya saja. Tapi saya melihat oleh-oleh khas Papua yang benar-benar lokal dan dikemas modern masih sangat sedikit,” ujarnya.
Di Papua, sagu tersedia melimpah, namun pemanfaatannya masih terbatas pada konsumsi tradisional seperti papeda. Bahkan, banyak sagu yang terbuang karena tidak terserap pasar. Hal ini mendorong Astia untuk melihat sagu sebagai aset pangan lokal yang dapat diolah secara berkelanjutan.
“Saya lihat banyak sagu, tapi belum dimanfaatkan maksimal. Padahal kalau diolah dan dikemas dengan baik, sagu bisa memiliki nilai ekonomi tinggi,” katanya.
Sejak 2021, Astia mulai bereksperimen. Prosesnya tidak mudah, karena karakter sagu yang bebas gluten membuat adonan sulit dibentuk. Namun, ia terus mencoba hingga menemukan komposisi yang tepat, yaitu memadukan sagu dengan tepung keladi olahan sendiri serta kenari yang akrab dengan lidah masyarakat timur Indonesia.
Fokus produksi mulai dilakukan pada 2023–2024. Bahan baku sagu diambil langsung dari masyarakat secara tradisional di Sentani, Kabupaten Jayapura, sehingga memberikan pasar tetap bagi petani lokal.
Kesempatan besar datang pada 2024, saat Basyira Kukis diikutkan dalam pameran nasional di Sarinah, Jakarta. “Produk biscotti sagu langsung habis terjual. Banyak pembeli dari luar negeri penasaran karena biasanya biscotti dibuat dari tepung terigu. Ini hal baru bagi mereka,” jelas Astia.
Sejak itu, produk Sagu Biscotti dan Brownchips Sagu dipasarkan di berbagai toko oleh-oleh, supermarket, bandara, serta melalui platform daring. Pesanan datang dari Jayapura, Nabire, Mimika, hingga Jakarta. Pada 2025, produk ini bahkan dibawa ke Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) serta pameran dagang di Hamburg, Jerman.
Bagi Astia, usaha yang dirintisnya bukan sekadar soal bisnis. Ia berkomitmen membeli sagu langsung dari masyarakat kampung, sehingga petani memperoleh penghasilan berkelanjutan.
“Kalau saya ambil langsung dari mereka, petani senang karena ada pembeli rutin. Usaha saya jalan, mereka juga dapat penghasilan,” ujarnya.
Meski produknya mulai dikenal luas, tantangan tetap ada. Biaya distribusi dari Papua relatif tinggi, proses sertifikasi pangan dan ekspor juga membutuhkan pendampingan. Namun Astia memilih tetap optimistis.
“Saya percaya kalau kita mau belajar dan tidak menyerah, pasti ada jalan. Yang penting konsisten,” katanya.
Ke depan, Astia berharap sagu tidak lagi dipandang sebagai pangan tradisional semata, tetapi sebagai identitas Papua yang mampu bersaing di pasar global.
“Saya ingin orang luar kalau dengar Papua, ingat sagu. Karena sagu bukan hanya makanan, tapi jati diri,” ucapnya.
Bagi perempuan perantau asal Jawa Barat itu, sagu bukan sekadar bahan pangan tradisional, melainkan potensi masa depan yang mampu menggerakkan ekonomi lokal dan memperkenalkan identitas Papua ke panggung global.
“Sagu ini bukan hanya warisan leluhur yang harus dikenang, tapi masa depan yang harus kita hidupkan,” ujar Astia menutup pembicaraan.












