Samalanga, Kota Santri yang Tetap Bersemangat Meski Dalam Banjir
Samalanga dikenal dengan sebutan “Kota Santri”. Penamaan ini berasal dari banyaknya dayah yang berdiri dan berkembang di kawasan tersebut. Beberapa dayah yang terkenal antara lain Dayah MUDI Mesjid Raya, Dayah Putri Muslimat, Ummul Ayman, dan beberapa dayah lainnya. Pada Januari lalu, penulis berkesempatan untuk mengikuti kunjungan relawan tim medis dari PUSKESMAS Darul Imarah Aceh Besar ke Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga.
Saat memasuki jalan menuju dayah, terlihat bekas banjir yang masih terlihat di sepanjang jalanan. Sesampainya di dayah, para santriwati sedang bergotong royong membersihkan pekarangan dayah. Karena kunjungan tersebut bertepatan dengan hari Jum’at, yaitu jadwal gotong royong mingguan di dayah. Meskipun dalam suasana banjir, para santriwati tetap tersenyum. Di balik senyum mereka, mungkin ada perasaan sedih karena beberapa di antara mereka kehilangan tempat tinggal atau tidak sempat menyelamatkan kitab-kitabnya. Namun, hal ini tidak menghalangi mereka untuk terus melanjutkan kegiatan pengajian.
Ada nasehat yang menjadi penguat dan selalu membuat keteguhan hati para pengajar dan santri-santriwati untuk terus melaksanakan beut-seumeubeut dalam segala kondisi. Aktivitas beut-seumeubeut tetap berjalan meski kompleks dayah masih dalam masa pemulihan. Selama kunjungan tersebut, penulis berbincang sejenak dengan Ummi Nailus, istri Abi H. Zahrul Mubarrak yang kerap disapa Abi MUDI, Mudir Ma’had Aly MUDI Mesjid Raya.
Pihak dayah berinisiatif untuk membersihkan dayah sedikit demi sedikit agar aktivitas beut-seumeubeut segera berjalan. Karena jika tidak dimulai dari pihak sendiri, maka kecil kemungkinan aktivitas tersebut akan segera berjalan.
Kilas Balik Sejarah Beut-Seumeubeut di Aceh
Aceh dikenal sebagai Serambi Mekkah yang memiliki tradisi pendidikan Islam sejak masa kesultanan. Beut-Seumeubeut merupakan salah satu istilah populer dalam kegiatan pendidikan agama di Aceh. Kegiatan ini tumbuh atas dasar kesadaran masyarakat terhadap agama. Beut-Seumeubeut terdiri dari dua kata yaitu “Beut” dan “Seumeubeut” yang berasal dari Bahasa Aceh artinya “belajar-mengajar”.
Tradisi beut-seumeubeut sudah berlangsung lintas generasi dan menjadi pondasi utama dalam keberlangsungan pendidikan Islam di Aceh. Dalam buku Filosofi Seumeubeut dalam Budaya Aceh yang ditulis oleh Prof. Dr. H. Warul Walidin, AK, MA disebutkan bahwa pada masa kesultanan, Aceh memiliki struktur lembaga pendidikan yang jelas, mulai dari lingkungan keluarga, rumoh beut, meunasah, masjid, rangkang, dan dayah. Semua tingkatan pembelajaran saling berkesinambungan satu sama lain.
Orang tua memiliki tanggung jawab utama dalam mengajarkan dasar-dasar agama kepada anaknya. Namun jika orang tua tidak mampu untuk mengajarkan sendiri, maka anak-anak akan diserahkan kepada rumoh beut. Rumoh beut merupakan lembaga pendidikan awal yang tersebar di desa-desa. Biasanya proses pembelajarannya secara talaqqi dan syafahi. Di mana murid belajar langsung dari guru (teungku) melalui pendengaran dan pengulangan.
Jenjang pendidikan berikutnya adalah masjid. Di mana masjid berfungsi sebagai pusat segala aktivitas umat dalam satu mukim sebagaimana diatur dalam Qanun Meukuta Alam. Pun demikian, masjid berfungsi sebagai pusat pendidikan Islam. Di mana di masjid tersebut ada teungku yang mengajar. Santri yang berasal dari daerah jauh biasanya tinggal di bilik-bilik sederhana yang dibangun di sekitar masjid (kerap disebut rangkang atau bale).
Sedangkan puncak dari sistem Beut-Seumeubeut adalah dayah. Di dayah santri mempelajari berbagai disiplin ilmu agama. Adapun tradisi beut-seumeubeut di dayah secara teknis dapat dijelaskan bahwa para santri duduk dalam satu halaqah, di mana guru akan duduk di tengah. Pada tingkatan ini proses pembelajaran juga secara talaqqi dan syafahi. Sedangkan ketika menjadi dewan guru maka akan berubah dengan metode muzakarah dan mubahasah.
Beut-Seumeubeut dari Masa ke Masa
Beut-Seumeubeut merupakan salah satu tradisi pendidikan Islam yang berlaku sejak masa lampau. Konsep pembelajaran ini lah yang diterapkan oleh Abon Abdul Aziz selama menjadi pimpinan dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga. Abon bergelar Al-Mantiqi. Gelar ini diberikan kepada Abon karena Abon memiliki spesialis khusus dan kedalaman dalam fan ilmu Manthiq.
Abon selalu berpesan kepada murid-muridnya untuk tidak meninggalkan beut-seumeubeut kapan pun dan di mana pun kita berada, dan bagaimana pun posisi dalam masyarakat. Hal tersebut harus selalu diprioritaskan. Nasehat ini terus menerus Abon sampaikan hingga sangat melekat di hati murid-muridnya.
Hal ini terlihat dari salah satu murid Abon yang juga menjadi ulama yaitu Alm. Abu Usman bin Ali (kerap disapa dengan Abu Kuta Krueng). Mengilas balik pembicaraan penulis dengan ananda perempuan Abu satu-satunya (biasa dipanggil Tu Mar di kompleks Dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng). Alm. Abu juga selalu berpesan kepada anak-anaknya “Jak u dayah jak beut, oh leuh ta beut, ta seumeubeut, walau Al-Qur`an jeut sit, yang penteng seumeubeut”.
Begitulah para ulama selalu mengingatkan anak-anak dan murid-muridnya untuk terus melestarikan beut-seumeubeut baik selama masih belajar di dayah mau pun ketika sudah kembali ke kampung halaman. Meskipun hanya mengajar Iqra` dan yang kita ajar kan pun hanya keluarga di rumah. Yang perlu digaris bawahi adalah tetap beut-seumeubeut sepanjang hayat.
Transformasi Ruang Beut-Seumeubeut
Di zaman yang serba canggih ini semakin memudahkan kita untuk menyebarkan dakwah dan ajaran agama. Pun demikian dengan aktivitas beut-seumeubeut, maka tidak hanya sebatas di ruang kelas dan balai pengajian saja. Namun bisa disebarkan melalui media digital tanpa menghilangkan esensi beut-seumeubeut tersebut. Jika dahulu beut-seumeubeut berlangsung di rumah, meunasah, masjid, dan dayah maka kini bisa melauli media digital.
Kehadiran digitalisasi telah memberikan ruang beut-seumeubeut baru. Pemanfaatan media digital tidak hanya digunakan sebagai media hiburan saja, dan bertansformasi menjadi kebutuhan. Sehingga bisa digunakan sebagai media untuk mentransfer ilmu agama dan media dakwah. Dengan banyaknya cara untuk melaksanakan aktivitas beut-seumeubeut tersebut, maka sudah seyogyanya bagi kita, terlebih bagi para santri, teungku, dan juga alumni-alumni dayah untuk terus merawat dan melanjutkannya. Sebagaimana yang diamanahkan oleh para guru kita.
Mari kita manfaatkan kecanggihan teknologi dan informasi untuk terus menyebarkan kebaikan dan ilmu agama. Semoga menjadi amal jariyah yang akan membantu kita di yaumil hisab kelak. Aamiin ya rabbal ‘aalaamiin..












