Krisis Air Bersih di Bintan dan Tanjungpinang Berlangsung Lebih dari Sebulan
Krisis air bersih yang melanda wilayah Bintan dan Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), telah berlangsung lebih dari sebulan. Masalah ini terjadi akibat sumur warga dan beberapa waduk yang mengering, sehingga memaksa masyarakat untuk mencari solusi alternatif agar bisa memenuhi kebutuhan air sehari-hari.
Warga Terpaksa Membeli Air Tangki dengan Biaya Tinggi
Salah satu warga yang terdampak adalah Heni Setiawati, warga RT01/RW02 Kampung Sungai Jeram, Desa Lancang Kuning. Ia mengaku sudah membeli air tangki selama sebulan terakhir. “Saya beli air sekali dalam sebulan seharga Rp70 ribu, dan satu ton air itu bisa digunakan selama seminggu,” katanya. Dengan biaya tambahan hingga Rp280 ribu per bulan, ia dan keluarganya harus membatasi penggunaan air hanya untuk kebutuhan MCK.
Heni berharap pemerintah setempat dapat memberikan bantuan air minum. Namun, sampai saat ini belum ada tindakan nyata yang dilakukan oleh pihak berwenang.
Distribusi Air Bergiliran di Bintan Utara
Di Bintan Utara, krisis air juga mulai dirasakan oleh warga. Mereka mengeluhkan distribusi air yang tidak lancar, terutama karena debit Waduk Sei Jago yang terus menurun. Saat ini, ketinggian air waduk hanya mencapai 57 cm. Hal ini menyebabkan warga harus bergiliran mendapatkan pasokan air.
Budiono, salah satu warga Bintan, mengaku kesulitan karena tidak memiliki cadangan air. “Saya tidak bisa mencuci pakaian karena tidak ada air,” ujarnya. Meski ingin membeli air tangki, ia merasa biaya yang dikeluarkan terlalu besar.
Kerusakan Mesin Pompa Memperparah Krisis di Tanjungpinang
Di Kota Tanjungpinang, krisis air bersih semakin parah akibat kerusakan mesin pompa di Perumahan Pinangmas Residence. Warga di sana mengalami krisis air selama empat bulan, yaitu sejak Oktober 2025 hingga Januari 2026. Masalah ini bukan disebabkan oleh musim kemarau, melainkan oleh pengelolaan air yang tidak optimal.
Mak Neng, warga setempat, mengaku harus memilih mana yang lebih penting dalam penggunaan air. “Saya lebih memprioritaskan memasak daripada mandi,” katanya. Ia dan warga lainnya terpaksa membeli air tangki sebanyak 1.000 liter dengan harga Rp60 ribu, namun air tersebut hanya bertahan selama tiga hari.
Pengelola Air Mengajukan Kenaikan Tarif
Arpandi, seorang warga setempat, menyebut krisis air ini sudah berlangsung lama. Menurutnya, masalah utamanya adalah mesin penyedot air tanah yang rusak. Pihak pengelola, CV Ridho Drilling, mengaku tidak memiliki dana untuk memperbaiki mesin tersebut. Oleh karena itu, mereka mengusulkan kenaikan tarif air.
“Kami akan menaikkan tarif air dari Rp4 ribu menjadi Rp8 ribu per 10 kubik,” ujar Taufik, pengelola air. Ia menjelaskan bahwa kenaikan tarif ini diperlukan untuk menutupi biaya operasional bulanan. Dengan kenaikan tarif, setiap KK harus membayar hingga Rp80 ribu per bulan, ditambah biaya perawatan sebesar Rp15 ribu, sehingga totalnya mencapai Rp95 ribu per bulan.
Penyebab dan Solusi yang Dicari
Totok, pengelola air di Perumahan Pinangmas, mengaku dibohongi oleh pihak pengembang. Ia mengatakan bahwa selama dua tahun mengelola air, pihaknya merasa rugi karena tarif air tidak bisa dinaikkan. Ia sempat meminta dana pemeliharaan sebesar Rp24 juta kepada pengembang, tetapi permintaan itu ditolak.
Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya pernah menyerahkan kembali pengelolaan air kepada pengembang jika tarif tidak disetujui. Namun, menurut informasi dari korlap Bayu, warga akhirnya setuju dengan kenaikan tarif. Totok berharap air akan kembali normal dalam waktu dekat.
Tantangan yang Dihadapi Warga
Deby, warga lainnya, mengaku menggunakan pompa air untuk mengatasi masalah aliran air yang kecil. “Tanpa pompa, air tidak naik,” katanya. Ia menyebut kondisi ini sudah berlangsung beberapa bulan. Warga lain juga mengalami kesulitan yang sama, sehingga banyak yang harus menunggu lama untuk menampung air.
Meskipun pihak pengelola sedang mencari solusi, para warga masih menunggu kebijakan yang jelas dari pemerintah dan pengelola air agar situasi krisis ini bisa segera teratasi.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."












