Peristiwa Tragis Siswa SD di NTT yang Mengguncang Naluri Kemanusiaan
Peristiwa tragis yang menimpa seorang siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengguncang nurani masyarakat luas. Anak berusia 10 tahun tersebut diduga mengakhiri hidupnya karena tidak mampu membeli alat tulis seperti buku dan pena. Kejadian ini menjadi perhatian khusus dari pengamat politik Rocky Gerung, yang menilai bahwa kasus ini tidak bisa dipandang sebagai persoalan individu semata.
Menurut Rocky Gerung, kejadian ini mencerminkan kebijakan negara yang tidak berpihak pada kelompok rentan, terutama anak-anak. Ia menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam memastikan akses pendidikan dasar yang layak bagi seluruh warga negara. “Ini bukan hanya masalah individu, tapi juga tentang arah kebijakan negara yang tidak menjaga kepentingan rakyat,” ujarnya.
Kebijakan Negara yang Berdampak pada Daerah Terpencil
Rocky Gerung menyebutkan bahwa ada keterkaitan kuat antara tragedi ini dengan kebijakan pemerintah pusat, khususnya terkait pengelolaan anggaran. Salah satu isu utama adalah pemotongan besar-besaran anggaran Transfer ke Daerah (TKD), yang secara langsung memengaruhi kemampuan daerah untuk memenuhi kebutuhan dasar warganya. Di sisi lain, anggaran pendidikan juga dikurangi demi membiayai program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kondisi ini dinilai mempersempit ruang fiskal daerah, terutama wilayah dengan kondisi ekonomi yang lemah seperti NTT. “Daerah-daerah ini sangat bergantung pada dukungan pemerintah pusat, namun ketika hak mereka untuk mendapatkan bantuan itu dipersempit, dampak sosial yang serius tak terhindarkan,” tambah Rocky.
Keterbatasan Ekonomi dan Kepedulian Negara
Wilayah-wilayah seperti NTT memiliki rendahnya pendapatan asli daerah, terbatasnya akses terhadap sumber daya ekstraktif, serta ketiadaan sumber ekonomi berkelanjutan. Hal ini membuat daerah tersebut sangat bergantung pada bantuan dari pemerintah pusat. Ketika dukungan itu tidak cukup atau bahkan terputus, dampaknya akan sangat terasa oleh masyarakat.
Rocky Gerung menegaskan bahwa negara sejatinya sudah memahami kondisi banyak daerah. Namun, kebijakan yang diambil justru memperparah kesenjangan. “Tragedi ini menjadi cerminan pahit dari kebijakan yang tidak berpihak pada kelompok paling rentan, khususnya anak-anak,” katanya.
Dari Pidato Hingga Fakta Nyata
Rocky Gerung juga menyentil pidato Presiden Prabowo Subianto yang penuh semangat, termasuk janji-janji tentang penindasan koruptor dan kebesaran bangsa. Namun, ia menilai bahwa semua itu gugur ketika fakta-fakta kecil seperti ini terabaikan. “Janji-janji itu akan dibatalkan oleh fakta-fakta kecil yang berdampak besar, yaitu keretakan psikologi manusia,” ujarnya.
Peran Psikologis dalam Tragedi Ini
Selain aspek kebijakan, Rocky Gerung juga menyoroti sisi psikologis dari kejadian ini. Seorang anak berusia 10 tahun memutuskan mengakhiri hidupnya setelah memahami beban yang dialami ibunya. Sang ibu, MGT (47), merupakan single parent yang menghidupi lima anak. Ia juga memiliki pengalaman tiga kali perceraian.
Surat sederhana yang ditinggalkan korban menunjukkan betapa dalamnya pemahaman anak tersebut terhadap kondisi ibunya. “Dia memahami jalan hidup ibunya, penderitaan yang ditanggungnya, dan beban yang ia rasakan,” kata Rocky.
Kesimpulan: Isu Besar Negara Runah Oleh Fakta Kecil
Pada akhirnya, Rocky Gerung menilai bahwa tragedi ini menjadi pengingat keras bahwa isu-isu besar negara bisa runtuh karena fakta-fakta kecil yang diabaikan. “Ini menjadi pedoman pertama untuk mengembalikan hak rakyat untuk menuntut keadilan,” ujarnya.
Kronologi Singkat Peristiwa
Siswa berinisial YBS, yang duduk di kelas IV SD di Kabupaten Ngada, NTT, putus asa dengan keadaannya. Saat meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp10.000, ibunya MGT (47) menjawab tidak punya uang. Pihak kepolisian menyatakan dugaan awal mengarah pada tindakan mengakhiri hidup. Proses penyelidikan masih berlangsung, dengan pemeriksaan saksi dan pengamatan barang bukti berupa pesan tertulis yang diduga dibuat korban.
Seorang anak pergi dalam sunyi, membawa beban yang seharusnya tak pernah ia pikul sendiri. Tragedi ini menyisakan pertanyaan mendasar, sejauh mana negara benar-benar hadir ketika kebutuhan belajar paling sederhana saja belum terjamin.
Disclaimer
Berita atau artikel ini tidak bertujuan menginspirasi tindakan bunuh diri. Pembaca yang merasa memerlukan layanan konsultasi masalah kejiwaan, terlebih pernah terbersit keinginan melakukan percobaan bunuh diri, jangan ragu bercerita, konsultasi atau memeriksakan diri ke psikiater di rumah sakit yang memiliki fasilitas layanan kesehatan jiwa.
Berbagai saluran telah tersedia bagi pembaca untuk menghindari tindakan tersebut. Jika Anda memiliki permasalahan yang sama, jangan menyerah dan memutuskan mengakhiri hidup. Anda tidak sendiri. Layanan konseling bisa menjadi pilihan Anda untuk meringankan keresahan yang ada.
Untuk mendapatkan layanan kesehatan jiwa atau untuk mendapatkan berbagai alternatif layanan konseling, pembaca bisa menghubungi Hotline Kesehatan Jiwa Kemenkes (021-500-454) atau LSM Jangan Bunuh Diri (021 9696 9293) atau melalui email janganbunuhdiri@yahoo.com.
Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."












