Gus Iqdam Terharu di GBT, Bonek Nyanyikan Lagu Kebanggaan

Pengalaman Emosional Gus Iqdam Saat Menonton Persebaya Surabaya di Stadion Gelora Bung Tomo



Cerita Gus Iqdam yang menonton pertandingan Persebaya Surabaya secara langsung di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) menjadi sorotan utama di kalangan penggemar sepak bola dan netizen. Sosok pendakwah muda ini mengungkapkan perasaan emosional yang tak terlupakan saat ia menyaksikan laga Persebaya Surabaya melawan Dewa United pada pekan ke-19 Super League 2025/2026.

Pertandingan tersebut berakhir dengan skor imbang 1-1, sehingga Green Force harus puas berbagi poin di kandang sendiri. Meskipun hasilnya biasa saja, momen yang justru membuat banyak orang terkesan adalah pengalaman Gus Iqdam di tribun penonton.

Dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube resmi Gus Iqdam Official, ia membagikan kesannya setelah pertama kali berada di GBT. Dari awal masuk hingga akhir pertandingan, ia merasakan atmosfer yang sangat spesial.

“Pisan kuwi aku, pengalaman hidup iki. Pertama kali saya nonton di GBT… Di GBT, Masyaallah. Poh wayah nyanyi opo kuwi… Song opo?” tanya Gus Iqdam, yang kemudian dijawab oleh jamaahnya: “Song For Pride.”

Mendengar jawaban itu, Gus Iqdam langsung merasakan perasaan yang mendalam. “Nah, wayah nyanyi Song For Pride kuwi wis… poh terenyuh panjenengan,” ujarnya dengan nada penuh rasa.

Ia mengaku sebelumnya sempat mendengar cerita dari warga Surabaya tentang lagu kebanggaan Bonek tersebut. Awalnya, cerita itu terdengar seperti lelucon baginya. “Aku mbiyen dikabari wong Suroboyo, enek jemaah mriki nggian… Pak Haji Malik ki jarene nek wayah nangise iki wayah nyanyi Song For Pride karo Mahalul Qiyam,” katanya mengenang.

Saat itu, Gus Iqdam justru tertawa dan sulit mempercayainya. “Kuwi aku ngguyu aku dicritani. ‘Kok iso? Nyapo iso nangis?’” ujarnya, mengungkapkan keheranannya di masa lalu.

Namun, semua keraguan itu runtuh ketika ia benar-benar berada di tribun GBT dan merasakan atmosfernya. Ia menyadari sendiri mengapa banyak orang bisa menitikkan air mata saat lagu tersebut dikumandangkan.

“Lha tibakno aku ndek wingi mari ngelokne ngono kuwi, mari ngerasani ngono kuwi, nyapo nangis… wayah nyanyi ngono kui tenan, krana kabeh iki kompak,” tutur Gus Iqdam dengan jujur.

Kekompakan ribuan Bonek yang bernyanyi serempak membuat suasana stadion berubah menjadi sangat emosional. Gus Iqdam menyebut momen itu sebagai berkah dari kerukunan yang nyata terasa.

“Yo iki barokahe kerukunan ki ngoten niku lho. Moro-moro terenyuh, mripatku iki koco-koco,” ucapnya menggambarkan matanya yang mulai berkaca-kaca.

Ia terkesan melihat seluruh tribun bernyanyi penuh semangat tanpa sekat. “Wong nyanyi kabeh semangat, Masyaallah,” lanjut Gus Iqdam dengan nada takjub.

Menurutnya, pengalaman menonton langsung di tribun sangat berbeda dibandingkan menyaksikan pertandingan lewat layar televisi. Sensasi emosi yang hadir terasa jauh lebih kuat dan hidup.

“Tapi tenan lho, ternyata ndelok bal-balan kuwi ning tribun langsung Pak Komandan, dengan lihat live di TV beda,” ujarnya menegaskan perbedaan tersebut.

Gus Iqdam juga menekankan bahwa laga tersebut menjadi pengalaman pertamanya berada di tribun stadion. “Itu pertama kali saya di tribun tadi malam,” katanya dengan penuh kesan.

Di akhir ceritanya, Gus Iqdam menyampaikan pesan reflektif tentang para suporter. Ia menilai luapan emosi di tribun adalah sesuatu yang manusiawi dan patut dipahami.

“Di tribun… poh terenyuh Pak. Terenyuh tenan, pancen awake dhewe ra oleh lho maido wong-wong sing bengok-bengok ning tribun,” tuturnya.

Baginya, teriakan dan nyanyian suporter bukan sekadar euforia kosong. “Emosine pancen meluap-luap tenan,” ucap Gus Iqdam menutup ceritanya dengan penuh empati.

Cerita Gus Iqdam menonton Persebaya Surabaya ini memperlihatkan sisi lain sepak bola. Bukan hanya tentang skor dan klasemen, tetapi juga tentang kebersamaan, emosi, dan rasa memiliki yang tumbuh di tribun stadion.

Wahyudi

Jurnalis yang menaruh perhatian pada dunia pendidikan dan komunitas lokal. Ia senang menghabiskan waktu membaca biografi tokoh inspiratif, menulis catatan belajar, serta menghadiri diskusi publik. Aktivitas ini membantunya memahami sudut pandang masyarakat. Motto: "Berita harus menggerakkan, bukan sekadar dibaca."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *