Kontroversi Jajat Suderajat, Penjual Es Gabus yang Viral
Jajat Suderajat (50), penjual es gabus asal Bogor, dulu sempat menjadi sorotan publik setelah viral di media sosial. Namun kini ia justru menuai kontroversi karena keterangannya yang berubah-ubah saat berbincang dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM).
Suderajat awalnya mengaku tidak memiliki rumah dan belum menerima bantuan apa pun. Padahal, fakta menunjukkan bahwa ia memiliki rumah di Desa Rawa Panjang, Kabupaten Bogor, yang sedang direnovasi gratis melalui program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) oleh pemerintah. Selain itu, ia juga telah menerima bantuan motor dari Kapolres Metro Depok, Kombes Abdul Waras.
Keluhan dan Perubahan Pernyataan
Saat bertemu dengan Dedi Mulyadi, Suderajat mengeluhkan kondisinya pasca viral. Ia menyebut dirinya “buntung” usai menjadi perhatian publik. “Bukan jadi untung, jadi buntung,” katanya. Dedi Mulyadi kemudian menyinggung bantuan motor yang telah diterimanya. “Tapi kan sudah jadi untung bapak dapat motor?” tanya Dedi. Jawaban Suderajat terdengar mengelak: “Hah? buat anak.”
Faktanya, Suderajat telah menerima banyak bantuan. Pemerintah Kabupaten Bogor memberikan bantuan logistik makanan, memproses kepesertaan BPJS, serta melakukan renovasi rumahnya. Meski demikian, ia tetap bersikeras mengaku belum mendapatkan bantuan apa pun. “Bapak yang dapat tapi gigit jari, buat anak semua. Gak ada yang bantu,” katanya.
Masalah Tunggakan Sekolah
Selain itu, Suderajat juga mengeluhkan tunggakan biaya sekolah sebesar Rp1,5 juta. Ia mengklaim anaknya bersekolah di SD negeri dengan iuran Rp200 ribu per bulan. Namun, saat dicecar pertanyaan, keterangannya berubah. Ia mengaku hanya menunggak satu bulan. “Udah sebulan,” ujarnya mengoreksi.
Dedi Mulyadi menegaskan bahwa sekolah negeri di Jawa Barat tidak dipungut biaya. Ia bahkan menyatakan siap menghubungi Bupati Bogor jika benar ditemukan pungutan di sekolah negeri.
Pengakuan Tidak Punya Rumah
Suderajat sempat mengaku pada Dedi Mulyadi bahwa ia tidak mempunyai rumah. Padahal, menurut Sekretaris Camat Bojonggede, Elvinila Hartini, Suderajat memiliki rumah di Desa Rawa Panjang. Bahkan, rumahnya mendapat bantuan program RTLH dari Pemerintah Kabupaten Bogor, anggaran tahun 2025. Selama direnovasi, Suderajat tinggal di rumah kontrakan.
Dedi Mulyadi merasa heran dengan pengakuan tersebut. “Babe bilangnya ngontrak, bohong sih. Beh, kenapa babe bohong terus?” tanyanya. Suderajat pun meminta maaf, namun Dedi menegaskan bahwa ia tidak boleh berbohong.
Masalah Kontrakan dan Utang
Setelah menerima banyak bantuan, Suderajat mengaku belum membayar kontrakan selama empat bulan. “Kontrakan 4 bulan belum bayar-bayar,” katanya. Dedi Mulyadi mencoba menghitung jumlah utang tersebut. “4 bulan kali 800, berapa 800 kali 4?” tanya Dedi. “Itung aja sama bapak. Hampir Rp 2,5 juta,” jawab Suderajat.
Dedi Mulyadi merasa heran apakah ini tunggakan atau utang untuk masa depan. “Berarti udah bayar dong yang ke belakang. Berarti bapak gak punya tunggakan kontrakan. Desember udah bayar belum?” tanya Dedi. “Belum. duitnya gak ada,” jawab Suderajat.
Ia juga mengaku tidak memiliki stok makanan dan memiliki utang ke warung. “Beras belum punya. Saya aja ngutang di warung, sama si Ucok di Citayam sekitar Rp 200 ribu,” katanya.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."












