Daerah  

Banjir Hebat di Bekasi: Jalan Lumpuh, Perumahan Tenggelam



BEKASI, –

Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Bekasi sejak pagi menyebabkan banjir menggenangi Jalan Raya Jatimulya, Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Tambun Selatan, Kamis (22/1/2026).

Berdasarkan pantauan di lokasi, ketinggian air di ruas jalan utama mencapai sekitar 50 hingga 70 sentimeter. Kondisi ini mengganggu arus lalu lintas, terutama bagi pengendara sepeda motor. Sejumlah pengendara memutuskan putar balik karena khawatir kendaraannya mogok saat menerobos genangan. Meski demikian, sebagian pengendara tetap nekat melintas di tengah arus air yang deras.

Drainase Buruk

Oji (50), salah satu warga, mengatakan bahwa banjir terjadi akibat hujan yang turun sejak pagi dan buruknya daya tampung drainase di wilayah tersebut. “Karena hujan, terus air drainase dari kampung kan turun air, dari sana ke sini. Kali kan kecil, jadi enggak nampung,” ujar Oji saat ditemui di lokasi. Menurut Oji, ketika aliran sungai tidak mampu menampung debit air, genangan akan meluap ke badan jalan. Sebaliknya, saat kondisi sungai mulai surut, air di jalan perlahan ikut menyusut. “Entar kalau kalinya surut, ini ikut surut, dia masuk ke dalam, ke got airnya,” ucap dia. Oji juga menduga terdapat penyumbatan pada saluran air yang membuat sistem drainase di Jalan Raya Jatimulya tidak berfungsi optimal. Ia menyebut hujan mulai turun sejak sekitar pukul 05.30 WIB dan baru mereda menjelang siang.

Banyak Motor Mogok

Selama banjir berlangsung, banyak sepeda motor dilaporkan mogok saat melintas. “Ada yang (motor) mati, ada yang bisa. Motor banyak yang mogok, kalau mobil enggak,” tutur Oji. Banjir tidak hanya menghambat lalu lintas di jalan utama, tetapi juga menyulitkan pengendara karena jalur alternatif di sekitar lokasi dilaporkan mengalami kondisi serupa. “Daripada nekat terus mogok di tengah, mending putar balik. Kalau nunggu surut juga lama,” kata Rofiq (42), pedagang tape yang hendak menuju Pasar Jatimulya. Rofiq mengaku terpaksa menunda perjalanannya karena khawatir sepeda motornya mogok jika memaksa melintas. “Kalau lewat (banjir) pasti mati motornya. Ini saya mau ke pasar, kalau puter balik bisa satu jam perjalanannya,” ujarnya.

Wilayah Langganan Banjir

Rofiq mengungkapkan, banjir di Jatimulya kerap terjadi, terutama saat hujan turun sejak malam hari dengan intensitas tinggi. Menurut dia, meski saluran air dan sungai telah dilakukan pendalaman, kondisi jalan yang berada di dataran rendah membuat air tetap mudah menggenang. “Selokannya sudah didalemin, kalinya juga. Tapi karena di sini memang rendah, air tetap melimpah ke jalan. Dan yang depan ini paling dalam,” kata Rofiq. Ia menilai solusi jangka panjang yang perlu dilakukan adalah meninggikan badan jalan agar sejajar dengan ruas jalan di sekitarnya. “Seharusnya jalannya ditinggikan dan disamain sama yang lain. Kalau rata, mungkin enggak separah ini,” tuturnya.

Perumahan Ikut Terendam Banjir

Tak hanya jalan raya, banjir juga merendam puluhan rumah di Perumahan Jatimulya, Jalan Melati Raya, Kelurahan Jatimulya. Ketinggian air bervariasi, mulai dari sekitar 30 sentimeter hingga mencapai 80 sentimeter di sejumlah titik. Warga menilai, selain dipicu curah hujan tinggi, buruknya sistem drainase serta maraknya pembangunan di sekitar permukiman turut memperparah genangan.

Mita (37), warga Perumahan Jatimulya, mengatakan saluran pembuangan air menuju kali di belakang permukiman tidak mampu menampung debit air saat hujan deras. “Pembuangan air di kali belakang itu penuh. Terus sudah banyak pembangunan juga, air dari got-got meluap ke jalan semua. Jadinya di sini banjir,” ujar Mita. Menurut Mita, wilayah tempat tinggalnya berada di posisi paling rendah dibandingkan lingkungan sekitar, sehingga hampir selalu menjadi lokasi pertama yang tergenang saat hujan turun cukup lama. “Kalau hujan, pasti di sini duluan yang banjir. Soalnya ini paling rendah. Air pasti ke arah sini,” katanya.

Keluhan serupa disampaikan William (65). Ia menyebut, perumahan tersebut sebelumnya tidak pernah mengalami banjir sebelum adanya pembangunan di sekitar kawasan. “Dulu enggak pernah banjir. Setelah ada bangunan-bangunan lain, pembuangan air dari kampung langsung ke sini,” ujar William. William menjelaskan, gorong-gorong yang dibangun hanya berfungsi di satu sisi, sehingga aliran air dari wilayah kampung justru tertahan di jalan perumahan. “Air dari kampung langsung ke jalanan, ditampung di sini semua. Dulu mah lima menit juga sudah kering,” katanya. Ia menilai banjir akan terus berulang selama sistem drainase dan gorong-gorong di kawasan tersebut belum diperbaiki secara menyeluruh.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *