Daerah  

Kekurangan LPG 3 kg di Pangkalpinang Belum Berakhir, Diskopdag Ajukan Tambahan Kuota

Kelangkaan Gas LPG 3 Kilogram di Pangkalpinang dan Sekitarnya

Kelangkaan gas LPG 3 kilogram masih terasa oleh masyarakat Kota Pangkalpinang serta sejumlah wilayah di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung hingga Minggu (25/1/2026). Kondisi ini menimbulkan dampak langsung berupa kenaikan harga gas bersubsidi di tingkat pengecer, bahkan melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).

Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa sejumlah toko kelontong menjual LPG 3 kilogram dengan harga berkisar antara Rp40.000 hingga Rp50.000 per tabung. Di sisi lain, beberapa pangkalan terpantau kosong, menyebabkan masyarakat kesulitan memperoleh gas untuk kebutuhan rumah tangga maupun usaha kecil. Tak sedikit warga yang akhirnya beralih menggunakan kayu bakar sebagai alternatif memasak.

Kepala Dinas Koperasi, Perdagangan (Diskopdag) dan UMKM Kota Pangkalpinang, Andika Saputra mengatakan bahwa pihaknya telah menggelar rapat koordinasi pada Jumat (23/1/2026) lalu untuk menindaklanjuti kondisi kelangkaan gas LPG 3 kilogram di wilayah Pangkalpinang.

“Memang terjadi gejolak di masyarakat selama beberapa minggu terakhir. Banyak keluhan dan pengaduan yang masuk, termasuk penjualan LPG 3 kilogram di toko eceran yang mencapai Rp40.000 per tabung,” kata Andika kepada , Minggu (25/1/2026).

Ia menyebutkan bahwa kelangkaan tersebut juga dikeluhkan pelaku UMKM yang sangat bergantung pada LPG 3 kilogram untuk operasional usaha. Untuk itu, diperlukan koordinasi dan sinergi lintas sektor mulai dari Pertamina, SPBE, agen, pangkalan, hingga dinas teknis dan pemerintah kecamatan.

Selain itu, Diskopdag Pangkalpinang telah mengajukan permohonan penambahan kuota LPG 3 kilogram khusus untuk UMKM. Pihaknya juga akan menyurati para agen untuk meminta data jumlah dan alamat pangkalan, sekaligus data realisasi penyaluran LPG 3 kilogram sepanjang tahun 2025 sebagai bagian dari pemutakhiran data perdagangan.

Andika menyampaikan bahwa pihaknya berharap distribusi LPG 3 kilogram dapat kembali normal dalam waktu dekat.

“Insya Allah besok, kalau cuaca sudah bagus dan kapal bisa masuk, kondisi pasokan gas LPG 3 kilogram di Pangkalpinang sudah kembali normal,” ujar Andika.

Dari sisi pasokan, kata Andika, dalam rapat tersebut, PT Pertamina menjelaskan bahwa rantai suplai LPG dari Pertamina ke SPBE, kemudian ke agen dan pangkalan, sejatinya dapat berjalan normal apabila tidak terkendala cuaca ekstrem.

“Saat ini, pengangkutan LPG ke Bangka mengandalkan dua kapal berkapasitas 470 metrik ton dan 500 metrik ton dari Palembang menuju SPBE PT Sinarindo Dincotama melalui Sungai Batu Rusa dengan waktu tempuh sekitar 36 hingga 40 jam,” jelas Andika.

Namun, cuaca ekstrem yang terjadi sejak 21 hingga 24 Januari 2026 menyebabkan kapal pengangkut tertahan di perairan dan belum dapat sandar.

“Kapal masih bertahan di salah satu pulau kecil menunggu cuaca membaik. Jika tiba pada Minggu atau Senin, pembongkaran akan langsung dilakukan,” ujarnya.

Andika mencatat, Per Jumat (23/1/2026), stok LPG di SPBE PT Sinarindo Dincotama tercatat sekitar 30 metrik ton dan akan segera disalurkan ke agen. Total pengiriman normal ke SPBE tersebut mencapai 70 metrik ton per hari.

“Keterlambatan suplai akibat cuaca ekstrem merupakan kondisi yang kerap terjadi mengingat geografis Pulau Bangka yang bergantung pada jalur laut. Selama Januari 2026, Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Pangkal Balam bahkan telah menerbitkan tiga maklumat pelayaran pada 7–10 Januari, 11–14 Januari, serta 21–24 Januari 2026 demi keselamatan pelayaran,” terangnya.

Kondisi ini berdampak pada terganggunya distribusi LPG dari SPBE ke agen dan selanjutnya ke pangkalan. Saat ini, kebijakan penyaluran di tingkat pangkalan diberlakukan satu KTP untuk satu tabung elpiji 3 kilogram.

Andika juga menduga mahalnya harga LPG di toko eceran disebabkan adanya praktik penjualan kembali oleh oknum masyarakat yang membeli di pangkalan. Oleh karena itu, pengawasan di tingkat kecamatan dinilai penting untuk memastikan elpiji bersubsidi tepat sasaran, khususnya bagi masyarakat kurang mampu dan UMKM.

“Sejumlah agen, seperti PT Usaha Mulia Karya Mandiri, PT Cahaya Iqra Mitra Mandiri, PT Bahtera Jaya, PT Energi Sejahtera Indonesia, hingga PT Energi Reaksi Bumi, memastikan tidak ada pengurangan kuota dan distribusi tetap dilakukan sesuai alokasi apabila pasokan dari SPBE tersedia. Namun, akibat kondisi saat ini, UMKM yang biasanya memperoleh dua tabung LPG hanya bisa mendapatkan satu tabung,” paparnya.

Pemerintah Kota Pangkalpinang bersama para pemangku kepentingan berencana meningkatkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat agar LPG 3 kilogram digunakan sesuai peruntukan, serta mendorong pembatasan penggunaan bagi ASN dan masyarakat mampu.


Badriyah Fatinah

Reporter yang menaruh minat pada isu-isu transportasi, publik, dan urbanisasi. Ia gemar naik kereta untuk mengamati dinamika kota, membaca laporan transportasi, dan memotret suasana perjalanan. Motto: “Setiap perjalanan menyimpan cerita baru.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *