Wilayah Pantura Subang Terancam Banjir, Ribuan Rumah Terendam
Banjir yang terjadi di wilayah Pantura Kabupaten Subang kian mengkhawatirkan. Luapan sejumlah sungai menyebabkan ribuan rumah warga dan ratusan hektar sawah terendam di beberapa kecamatan. Kondisi ini memicu kekhawatiran masyarakat terutama di wilayah yang berpotensi terkena dampak banjir.
Lokasi yang paling parah adalah Kecamatan Ciasem, di mana ribuan rumah di tiga desa, yaitu Desa Dukuh, Ciasem Tengah, dan Ciasem Hilir, tergenang air. Di Kecamatan Pamanukan, ratusan rumah juga terendam, terutama di Desa Mulyasari. Warga setempat mulai waspada karena debit air Sungai Cipunagara meningkat drastis.
Debit Air Sungai Cipunagara Mencapai 695 cm
Pada Sabtu (24/1/2026) sore, debit air Sungai Cipunagara mencapai 695 cm dalam status awas. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa banjir bisa terjadi kembali, terutama karena beberapa tanggul mulai terkikis. Di blok Sukamanah Pusakajaya dan Blok Makam Karangmulya Legonkulon, kondisi tanggul sudah mulai rapuh.
Di kawasan Blok Makam Karangmulya, air sungai hanya kurang dari 10 cm lagi akan meluap ke pemukiman warga. Rosid, Kepala Desa Karangmulya, mengimbau warganya untuk tetap waspada dan siaga. “Debit air tinggal 10-15 cm lagi akan meluap. Sebagian tanggul juga mulai terkikis,” ujarnya.
Alarm Peringatan Bahaya Banjir Dipasang
BBWS Citarum Bandung telah menyiapkan alarm peringatan bahaya banjir melalui pengeras suara di sekitar Sungai Cipunagara. Pesan suara tersebut mengingatkan warga agar menjauh dari sungai dan mencari tempat yang lebih aman. “Kondisi debit air terus meningkat dalam status awas,” demikian isi pesan alarm tersebut.
Warga Pamanukan, seperti Iis, khawatir banjir lima tahunan akan terulang. Debit air di sekitaran jembatan Cipunagara kurang dari 50 cm akan meluap ke pemukiman warga. “Saya dan keluarga mulai waspada dan siap-siap malam ini, takut banjir 2021 lalu terulang kembali tahun ini,” ujarnya saat memantau debit air.
Bahaya Banjir Sungai Cipunagara
Sungai Cipunagara memiliki risiko bahaya yang signifikan, terutama selama musim hujan. Berikut beberapa bahaya utama:
-
Merendam ribuan rumah penduduk dan pertokoan
Luapan air Sungai Cipunagara bisa merendam kawasan Pamanukan dan sekitarnya, termasuk Desa Mulyasari, Lengkong Jaya, dan Legon Kulon. Debit air yang tinggi menyebabkan arus deras yang mengganggu aktivitas warga. Selain itu, tanggul sungai sering jebol akibat curah hujan tinggi. -
Mengganggu jalur Pantura
Luapan Sungai Cipunagara seringkali menggenangi Jalan Raya Pantura, menyebabkan kemacetan total atau terputusnya akses transportasi darat antara Cirebon dan Jakarta. Meskipun ada flyover di Pamanukan, jalur Pantura tetap terendam banjir jika sungai meluap. -
Risiko geologis (sesar Baribis)
Aliran Sungai Cipunagara melintasi area sesar Baribis yang aktif, sehingga wilayah ini memiliki risiko bencana ganda, yaitu bencana geologis dan hidrometeorologi.
Warga Harus Siaga Penuh
Alarm peringatan bahaya banjir sudah berbunyi, memperingatkan warga akan potensi banjir. Beberapa titik tanggul juga sudah terkikis. Warga Pamanukan diminta untuk tetap waspada dan siaga penuh, terutama malam ini, mengingat debit air terus meningkat.
Dengan situasi ini, masyarakat diharapkan tetap mengikuti imbauan pemerintah dan mempersiapkan diri menghadapi ancaman banjir.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












