Ironi kecelakaan: kesalahan penanganan hingga barang korban hilang



JAKARTA – Membantu korban kecelakaan di jalan raya bisa berujung fatal jika dilakukan dengan cara yang tidak tepat. Tanpa pengetahuan yang benar, pertolongan pertama justru bisa memperparah kondisi korban.

Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu, menjelaskan bahwa kesalahan dalam penanganan awal sering terjadi dan menjadi masalah serius dalam sistem tanggap darurat. Ia menyatakan bahwa pertolongan pertama yang salah sering kali menjadi penyebab kematian dalam kecelakaan di Indonesia.

“Tanggap darurat ini juga masalahnya besar sekali. Banyak kasus di mana pertolongan pertama justru tercatat sebagai salah satu penyebab fatalitas dalam kecelakaan,” ujarnya.

Menurut Jusri, tingginya angka kesalahan pertolongan pertama bukan karena masyarakat tidak peduli. Justru budaya tolong-menolong di Indonesia sangat kuat. Namun, banyak orang menolong dengan cara yang sembarangan.

“Pertolongan pertama ini kenapa bisa begitu? Padahal orang Indonesia itu suka menolong. Tapi menolongnya sering dengan cara sembarangan. Orang kecelakaan, misalnya, langsung ditangani tanpa pengetahuan yang benar,” katanya.

Masalah muncul karena banyak orang menolong tanpa memahami prosedur dasar pertolongan pertama. Korban sering kali langsung dipindahkan, didudukkan, atau ditangani secara asal. Ia memberikan contoh kesalahan yang kerap terjadi saat korban mengalami kondisi kritis, seperti kejang atau serangan jantung. Alih-alih menunggu tenaga medis, korban justru dipijat atau ditekan, yang berisiko memperburuk kondisi.

“Kejang-kejang atau orang kena serangan jantung, misalnya, malah dipijat atau ditekan,” ucapnya.

Tak jarang pula masyarakat memberikan pertolongan dengan cara-cara yang keliru, seperti mengoleskan minyak atau memberi minum korban yang belum sadar.

“Ya, bahkan ada yang pakai minyak kayu putih dan lain-lain, atau diminumi air. Itu kan sudah salah,” kata Jusri.

Ia kembali menyoroti kasus yang menimpa aktor almarhum Gery Iskak pada akhir November 2025. Gery mengalami kecelakaan motor tunggal, menabrak pohon dan mengalami luka di bagian kepala.

“Contohnya didudukkan. Saya melihat videonya. Saya datang ke sana, saya dapat video langsung dari orang di lokasi,” ujarnya.

Jusri mengimbau dalam kondisi kecelakaan, masyarakat sebaiknya tidak terburu-buru memindahkan korban, terutama jika ada dugaan cedera kepala, tulang belakang, atau korban dalam kondisi tidak sadar. Langkah paling aman adalah memastikan lokasi kejadian aman, memanggil bantuan medis, dan menunggu petugas profesional datang.

Barang Raib

Lebih lanjut, Jusri menyampaikan bahwa ironisnya, dalam beberapa kasus, pertolongan pertama juga disalahartikan hingga menyerempet tindakan penjarahan terhadap barang milik korban. Terkadang pertolongan pertama dianggap sebagai “mengamankan” properti korban kecelakaan.

“Banyak kasus di daerah, pertolongan pertama yang dilakukan masyarakat itu tidak hanya keliru pada korbannya, tapi juga pada properti korban,” kata Jusri.

Ia menjelaskan bahwa praktik semacam ini bukanlah hal baru dan sudah terjadi sejak lama. Dalam sejumlah kejadian kecelakaan, barang-barang milik korban kerap ikut raib dengan dalih membantu.

“Dari zaman dulu, dari era 70-an sampai 80-an, di daerah itu, yang namanya ban mobil, tool kit mobil, itu bisa hilang semua,” ujarnya.

Jusri mencontohkan hasil investigasi yang dilakukannya terkait kecelakaan truk logistik di salah satu lokasi di Sumatera, pada tahun lalu. Dalam peristiwa tersebut, kesalahan penanganan di lokasi kejadian berdampak sangat serius.

“Tahun kemarin saya melakukan investigasi kecelakaan truk logistik. Truknya membawa barang, dan yang terjadi bukan cuma barangnya habis, orangnya juga meninggal,” kata Jusri.

Ia menyebut kondisi tersebut sering kali masih dianggap sebagai bagian dari pertolongan pertama oleh sebagian masyarakat, padahal jelas bertentangan dengan prinsip kemanusiaan dan keselamatan.

“Bahkan satu kontainer barang bisa habis, bukan cuma ban mobil atau tool kit. Semua habis,” ucapnya.

Menurut Jusri, fenomena ini menunjukkan masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai esensi pertolongan pertama yang benar. Di satu sisi, ada keinginan kuat untuk menolong, tetapi di sisi lain, tidak dibarengi dengan pengetahuan dan etika yang tepat.

“Jadi, pertolongan pertama di Indonesia ini juga ironis, cepat sekali, cepat sampai surga, cepat sampai penadah, dan lain-lain,” kata Jusri.

Ia menegaskan, masyarakat seharusnya fokus memastikan keselamatan korban, mengamankan lokasi kejadian, serta melindungi barang-barang milik korban sampai petugas berwenang tiba. Memindahkan korban tanpa keahlian, apalagi mengambil properti korban, justru dapat memperburuk situasi dan berpotensi melanggar hukum.

Edukasi mengenai pertolongan pertama yang benar dan beretika harus terus ditingkatkan, agar niat baik untuk menolong berdampak positif dan tidak berubah menjadi masalah baru di lokasi kecelakaan.

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *