Budaya  

Lorong Sempit Kota Tuka Baku, Sumber Inspirasiku

Pengalaman Menjelajahi Kota Tua Baku

Salah satu gang sempit yang menuju sebuah permukiman warga lokal dengan rumah-rumah mereka. Permukaannya ada yang terbuat dari beton atau paving, tetapi tidak pernah ada tempat sampah, meskipun lingkungannya sangat bersih! Sebuah inspirasi bagiku!

Lorong-lorong sempit di Kota Tua Baku, yang juga dikenal sebagai Icherisheher, adalah harta karun sejarah, tradisi, dan budaya. Jalan-jalan berkelok ini dipenuhi dengan bangunan batu berusia berabad-abad, kafe-kafe yang nyaman, dan halaman-halaman rumah tua tersembunyi, masing-masing menceritakan kisah dari misteri masa lalu kota Baku.

Pengunjung dapat menjelajahi pesona mistis jalan setapak ini, menikmati kekayaan budaya, dan mengungkap rahasia situs warisan UNESCO ini. Kota Tua Baku adalah campuran labirin dari lorong-lorong sempit yang dialihfungsikan, masjid-masjid tersembunyi, toko-toko karpet yang menjual karpet berwarna-warni, dan rumah-rumah tua, yang menyatu dengan arsitektur batu perkotaan yang berusia berabad-abad.

Pepohonan di sana hanya ada di pot-pot yang diletakkan di pinggir jalan, seperti foto ini ….

Kota ini telah menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 2000, menawarkan sekilas pandang yang unik tentang penguasa kuno Azerbaijan dan situs-situs sejarah purba yang abadi.

Keajaiban sejati Icherisheher atau Kota Tua Baku ini, seringkali tidak hanya terletak pada monumen-monumen megahnya, tetapi juga pada pengalaman tersesat di dalam lorong-lorong sempit dan berkelok-keloknya. Hahahahahaaaa ….

Ya, itulah yang terjadi ketika aku berjalan dengan kursi roda sibuk dengan memfoto dan merekam dengan video, tanpa aku sadar bahwa aku berbelok-belok menikuti arah jalan kursi rodaku. Sementara Zoyir pun memang selalu mengikutiku sambil juga merekam aku dan sekeliling kami sambil mengobrol dan menjawab pertanyaan-pertanyaan ku ….

Dan, tanpa sadar ketika kami mau kembali ke tempat pertama kali masuk ke jalan labirint ini, tiba-tiba kami sadar bahwa kami benar-benar tersesat! Hahahahaha ….

Akhirnya, kami berbelok-belok dengan ingatan kami yang sangat minim karena tidak berpikir bahwa “segitunya” jalur labirint disana, sampai cukup lama dan kami bisa kembali lagi tetapi keluar dari gang sebelahnya ….

Aku “sibuk” dengan merekam keadaan disana untuk kubuat tulisan dan riset-riset ala Christie ketika sampai di Jakarta. Dan, tentu saja aku tidak mengingat jalan-jalan yang aku lewati. Sementara, Zoyirpun demikian. Dia terpaku untuk merekam ku juga tidak terlalu berpikir bahwa suatu saat kami akan tersesat, hihihi ….

Setiap belokan jalan itu, mengungkap penemuan baru, seperti sebuah gapura kuno, sebuah kedai teh yang unik, atau sebuah halaman tersembunyi. Suasananya terasa nyata, perpaduan antara sejarah dan kehidupan sehari-hari.

Bahkan, seringkali tiba-tiba jendela rumah terbuka dan seorang ibu-ibu tua melongok dan berbicara dengan Bahasa yang tidak kumengerti sambil tersenyum ….


Aku sangat excited ketika aku “menemukan” harta karun dengan melihat kehidupan warga lokal Kota Tua Baku ini. Dengan sambil mengobrol dan banyak bertanya kepada Zoyir, aku benar-benar berada dalam dunia saya sendiri.

Entah apakah Zoyir tahu tentang hati dan perasaanku tentang harta karun ini, tetapi dia memang setia bersama mengikuti aku serta sabar menjawab semua pertanyaan-pertanyaan ku tentang apapun. Jika dia mungkin tidak tahu jawaban atas pertanyaan, dia pasti langsung googling dan menjawab pertanyaan-pertanyaanku sesuai mbah Google ….

Dalam 6 hari aku berada di Azerbaijan, 1,5 hari khusus aku berada di Kota Tua Baku karena itulah passionku. Dan, jalan-jalan sempit yang menampung warga lokal kota Tua Baku itu sangat menarik minatku untuk aku amati tentang kehidupan mereka sehati.

Ternyata, semua manusia dimanapun, ya memang sama saja.

Aku sampai Kota Tua Baku pagi-pagi dimana jika di Jakarta, rumah-rumah akan mencium wangi masakan untuk makan siang. Begitu juga disana, ketika kami menyusuri lorong-lorong sempit disana, bau wangi masakan pun tercium oleh kami ….

Ditambah lagi, keadaan yang hampir sama di Jakarta. Ibu-ibu tua kongkow di salah satu rumah mereka sambil ngobrol dengan membuka pintu rumah mereka yang memang sempit, sesempit lorong-lorong di depan rumah mereka.

Bedanya dengan Jakarta adalah, disana lingkungan mereka sangat bersih dan rapih, walau aku tidak melihat tempat sampah dimanapun. Bahwa, selipan-selipan batu di dinding lorong-lorong sempit pun tidak sedikit pun terlihat sampah. Yang berbalikkan dengan keadaan di Jakarta yang tidak nyaman karena kotor cenderung jorok!

Aku juga tidak melihat jalur-jalur saluran air, yang aku tahu pasti dibawah permukaan jalan itu pasti terdapat saluran air yang pastinya juga bersih dan air mengalir dengan lancar karena tanpa sampah.

Suara-suara warga yang ada terselimut dengan suara angin berhembus, ditambah lagi suara kucing-kucing liar yang banyak terdapat disana,

Catatan : Cerita tentang kucing-kucing ini akan kuruliskan setelah artikel ini.

Karena lorong-lorong permukiman Kota Tua Baku ini cukup sempit sekitar 1 meter atau paling besar 1,5 meter, sehingga tidak semua rumah bisa terkena sinar matahari. Jika ada sebagian sinar matahari terpancar pun, tidak juga bisa menyinari rumah-rumah tersebut.

Walau udara menalir dengan baik karena di lorong-lorong sempit ini tidak ada pepohonan karena permukaan jalannya benar-benar tertutup oleh paving atau beton, tetapi warga lokal tidak “nakal” untuk menambahkan rumah-rumah mereka masing-masing sehingga permukiman ini memang sangat nyaman ….

Dengan 1 sampai 3 lantai pada permukiman ini, dan dengan lorong-lorong yang sempit, pemandangannya yang seperti ini. Sempit, bersih, rapih tetapi tidak bisa terkena sinar matahari walau angin mengalir cukup untuk penghawaan mereka ….

Jika sampai pun sinar matahari bisa menjangkau permukiman ini, itu pun tidak bisa seluruhnya seperti foto di atas. Sinar matahari pun hanya sekedar menyapa singkat ….

Terkadang, ada 1 atau 2 rumah memasang tangga atau undakan seperti foto di atas ini, yang membuat kursi roda ataupun sepeda yang melewati Lorong ini agak sulit berjalan.

Dengan rumah-rumah kecil dalam 1 sampai 3 lantai, lorong-lorong sempit permukiman ini akhirnya menjadi tempat bergema nya suara-suara besar jika ada suara besar, seperti saat itu ada segerombongan remaja lokal (?) yang berteriak-teriak diatas sepeda-sepeda mereka yang akan melewati kami.

Suara-suara besar itu akhirnya bergema dan itu membuat aku excited! Jika ada yang petak umpet disana yang bersembunyi bisa saja dia tidak menemukan kami, walau ada gema-gema suara mereka.

Labirint di Kota Tua Baku ini memang benar-benar sebuah harta karun yang harus dilestarikan oleh dunia karena aku hanya bisa membayangkan ketika Baku Modern lebih bisa membuat dunia lebih tertarik dibandingkan dengan Kota Tua Baku,

Maka tidak lama lagi, Kota Tua Baku akan berubah menjadi kota super modern Baku yang terus bersaing dengan kota-kota super modern di dunia! Dan, Kota Tua Baku tergerus oleh jaman dan akan menghilang ketika dunia pun tidak memperdulikannya ….

Balqis Ufairah

Penulis yang fokus pada entrepreneurship dan pengembangan UMKM. Ia senang berkunjung ke pameran bisnis, berbincang dengan pelaku usaha, serta menulis ringkasan peluang pasar. Hobinya termasuk membuat desain sederhana. Motto: “Informasi membuka pintu kesempatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *