Surau Jamiaturrahmah yang Tersapu Banjir Bandang
Di tengah hamparan batu dan kayu yang tergeletak di Kelurahan Lambung Bukik, Kecamatan Pauh, Kota Padang, tersimpan sebuah narasi panjang yang kini terkubur dalam lumpur. Lokasi itu bukan sekadar lahan kosong berukuran 15×15 meter, melainkan tapak sejarah bernama Surau Jamiaturrahmah yang telah mewarnai wajah spiritualitas masyarakat sejak lebih dari enam dekade silam.
Surau ini awalnya didirikan pada tahun 1960 sebagai tempat ibadah sederhana untuk memudahkan warga setempat dalam menjalani ritual keagamaan. Dahulu, perkampungan hanya memiliki satu masjid yang jaraknya cukup jauh bagi warga untuk menunaikan ibadah harian. Untuk mendekatkan jarak antara hamba dan Sang Pencipta, para tetua dari Suku Tanjung berinisiatif mendirikan sebuah surau kayu sederhana.
Seiring berjalannya waktu, surau kayu itu berkembang menjadi bangunan permanen yang luas, menjadi pusat denyut nadi kehidupan warga Lambung Bukik. Sejarah Surau Jamiaturrahmah adalah sejarah tentang pendidikan yang tak pernah putus. Tak lama setelah bangunan berdiri, aktivitas mengaji anak-anak pun dimulai. Lembaga yang awalnya dikenal dengan nama Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) itu kemudian berevolusi menjadi Madrasah Diniyah Takmiliyah Awaliyah (MDTA).
Di bawah atap surau inilah, nilai-nilai agama dan kearifan lokal ditanamkan kepada generasi demi generasi. Surau ini telah melahirkan banyak tokoh masyarakat yang dulunya adalah bocah-bocah kecil pembawa iqra.
Namun kini, rahim pendidikan itu telah raib, menyisakan trauma bagi 50 murid yang selama ini menjadikannya rumah kedua. Kini, sisa-sisa kemegahan surau itu hanya bisa ditemukan dalam ingatan warga yang sedang berjuang bangkit dari reruntuhan.
Bencana yang Menghancurkan
Sejarah mencatat bahwa ancaman air bah sebenarnya bukan hal baru bagi tempat suci ini. Sejak tahun 2012, Surau Jamiaturrahmah telah berkali-kali dihantam banjir. Namun, bencana pada akhir November 2025 menjadi titik paling kelam setelah tiga kali hantaman bertubi-tubi dalam satu bulan akhirnya membuat bangunan bersejarah itu menyerah dan hanyut tanpa sisa.
Saat ini, di tengah ketiadaan bangunan fisik, upaya menjaga warisan sejarah tetap dilakukan secara gerilya. Anak-anak yang tersisa kini mengaji di rumah warga yang dijadikan posko bencana. Asmiraldi, Guru Ngaji MDTA Surau Jamiaturrahmah, harus memutar otak agar semangat mengaji anak-anak tidak ikut hanyut bersama bangunan surau.
“Kami memberikan motivasi dan mencoba membuat suasana belajar lebih menyenangkan. Kami tak ingin trauma ini membunuh kecintaan mereka pada agama,” tambah Asmiraldi.
Tradisi Salat 40 yang Terancam
Kehilangan bangunan bersejarah ini menjadi semakin getir mengingat perannya dalam menjaga tradisi “Salat 40”. Ibadah berjamaah selama 40 hari nonstop yang dimulai sepekan sebelum Ramadan ini telah menjadi identitas budaya masyarakat setempat.

Bagi warga, tanpa Surau Jamiaturrahmah, Ramadan tahun ini terasa seperti kehilangan ruhnya. Dasri Ben, seorang warga yang rumahnya juga hanyut tak jauh dari lokasi surau, merasakan kekosongan yang luar biasa. Baginya, surau itu bukan sekadar tempat salat, melainkan ruang sosial tempat warga saling bertukar sapa dan mempererat tali persaudaraan melalui kegiatan rutin keagamaan.
“Hanyutnya surau ini melengkapi kesedihan kami. Kehilangan tempat bernaung bagi batin yang sedang terluka adalah duka yang paling dalam,” ungkapnya.
Upaya Merevitalisasi
Semangat yang tersisa ini menjadi bukti bahwa meski bangunan fisik telah hilang, nilai-nilai yang ditanamkan sejak 1960 itu masih berdenyut. Untuk menyiasati hilangnya ruang ibadah jelang bulan suci, warga berencana mendirikan tenda darurat menggunakan terpal di atas tanah kaum Suku Tanjung. Tenda ini akan menjadi saksi bahwa tradisi “Salat 40” akan tetap dijalankan, meski di tengah segala keterbatasan dan beralaskan bumi.
Revitalisasi sungai menjadi harapan tunggal warga agar bencana serupa tidak kembali datang menjemput sejarah mereka yang tersisa. Masyarakat Lambung Bukik merindukan rasa aman, agar mereka bisa kembali membangun pusat peradaban spiritual mereka dari nol tanpa rasa takut.
Kehilangan Surau Jamiaturrahmah adalah pengingat bagi semua pihak tentang betapa pentingnya pelestarian lingkungan di sekitar situs-situs bersejarah masyarakat. Di balik tumpukan batu dan kayu di Pauh, ada sebuah peradaban kecil yang sedang mencoba untuk tidak terlupakan oleh zaman dan bencana. Kini, warga Lambung Bukik hanya bisa menatap sungai yang mengalir tenang, sembari berharap kelak di bekas puing itu akan kembali berdiri bangunan yang akan melanjutkan estafet sejarah yang telah dimulai oleh para leluhur Suku Tanjung 66 tahun yang lalu.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












