Kehidupan Kepala Sekolah yang Berjuang untuk Mengajar
Seorang kepala sekolah di Kabupaten Minahasa, Akson Dalending (56), menghadapi tantangan besar dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Ia rela menempuh perjalanan sejauh 30 kilometer setiap hari dengan motor untuk bisa sampai ke sekolahnya, SD Inpres Kampung Ambon di Desa Likupang, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara.
Perjalanan yang memakan waktu sekitar satu jam ini menjadi bagian dari rutinitas harian Akson. Namun, kehidupannya terganggu ketika motornya dilarikan pencuri. Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (13/1/2026) tengah malam, saat ia dan istrinya, Lily Tahulending, sedang tidur. Motor Yamaha Mio M3 serta tiga unit ponsel hilang dalam kejadian itu.
Akson tinggal di Perum Viola Land II blok Apel nomor 10, Desa Matungkas, Kecamatan Dimembe, Minut. Jarak antara rumahnya dan sekolah mencapai 30 kilometer. Tanpa motor, ia kesulitan dalam menjalankan tugas sebagai kepala sekolah. Bahkan, ponsel yang digunakan untuk urusan sekolah juga raib.
Akson menyampaikan terima kasih kepada Polres Minut atas penemuan motor yang hilang. Ia berharap kondisi ini tidak terulang lagi. Dalam wawancara dengan media, ia mengatakan bahwa motor itu sangat penting bagi pekerjaannya. Setiap hari, motor tersebut membawanya dari Matungkas ke Likupang.
Pelaku Pencurian Telah Ditangkap
Terpisah, Kasi Humas Polres Minut, Iptu Iskandar Mokoagouw, mengatakan bahwa pelaku telah tertangkap oleh Tim Resmob Polres Minut bekerja sama dengan Polsek Kota Utara Gorontalo. Penangkapan dilakukan pada Kamis (15/1/2026), di mana tim Resmob mendatangi Polsek Kota Utara Gorontalo dan mengamankan pelaku. Pelaku adalah seorang lelaki berusia 14 tahun.
Jarak antara Manado, Sulawesi Utara, ke Gorontalo sekitar 430 kilometer atau ditempuh dalam waktu sekitar delapan jam berkendara. Pelaku kemudian diserahkan ke Mapolsek Dimembe karena lokasi kejadian berada di wilayah hukum Polsek Dimembe.
Siswa Harus Menempuh Jarak Lebih Jauh
Di sisi lain, para siswa di Kabupaten Jepara juga menghadapi tantangan serupa. Banjir yang terjadi beberapa waktu lalu menyebabkan jembatan semi permanen yang menghubungkan dua desa, Karangnongko dan Ngetuk, di Kecamatan Nalumsari, hanyut tersapu air.
Akibatnya, para siswa harus melewati jalan memutar sejauh 2,5 kilometer untuk bisa sampai ke sekolah. Sebelumnya, jembatan tersebut menjadi akses utama bagi masyarakat, termasuk para siswa yang tinggal di Desa Karangnongko dan sekolah di SDN 3 Ngetuk.
Warga setempat merasa sedih melihat jembatan yang selama puluhan tahun menjadi penghubung antara dua desa kini hanya menjadi kenangan. Maskurin, warga sekitar, mengatakan bahwa jembatan tersebut menjadi akses penting untuk kebutuhan ekonomi, sosial, dan pendidikan.
Keberadaan Jembatan Sangat Dibutuhkan
Kepala Dusun Glatik Watu Desa Ngetuk, Wahyono, menambahkan bahwa jembatan tersebut sudah ada sejak dia kecil. Awalnya berupa jembatan bambu, namun secara bertahap diperbaiki menjadi struktur semi permanen yang lebih kokoh. Keberadaannya sangat penting bagi masyarakat, terutama bagi para siswa.
Zulaiekhan, Kepala SDN 3 Ngetuk, menyampaikan bahwa dari 92 siswa di sekolahnya, 17 di antaranya berasal dari Desa Karangnongko. Mereka biasanya melewati jembatan untuk menuju sekolah. Tanpa jembatan, mereka harus menempuh jarak yang jauh, membuat proses belajar-mengajar menjadi lebih sulit.
Ia berharap pemerintah daerah segera melakukan pembangunan ulang jembatan agar dapat digunakan kembali. “Kami harap jembatan ini bisa segera dibangun ulang. Masyarakat sangat membutuhkan,” ujarnya.
Berita Viral Lainnya
Informasi lengkap dan menarik lainnya dapat ditemukan di berbagai sumber.
Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.












