Budaya  

Sejarah kosmetik mata dari Mesopotamia, Persia, dan Mesir yang bertahan ribuan tahun



Celak, yang dikenal sebagai eyeliner di dunia modern, memiliki sejarah yang panjang dan mendalam. Ribuan tahun lalu, celak digunakan oleh baik laki-laki maupun perempuan di masyarakat Timur Tengah. Tradisi ini tidak hanya untuk keindahan, tetapi juga memiliki makna spiritual dan kesehatan.

Zahra Hankir, jurnalis asal Lebanon, mengungkapkan bahwa memakai eyeliner memberinya rasa terhubung dengan nenek moyangnya. “Saat saya memakai eyeliner di Brooklyn, AS, saya merasa seperti terhubung dengan ibu saya, nenek saya, dan perempuan di seluruh Timur Tengah,” katanya.

Pada Desember 2022, UNESCO memasukkan kohl ke dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda. Kohl adalah kosmetik mata berwarna gelap yang secara tradisional digunakan oleh pria dan wanita di sekitar mata. Dalam bahasa Inggris, kohl disebut sebagai eyeliner, sementara dalam bahasa Indonesia disebut sebagai celak.



Di berbagai wilayah, kohl memiliki nama-nama berbeda. Misalnya, di Asia Selatan dikenal sebagai kajal, di Nigeria disebut tiro, dan di Iran disebut sormeh. Secara tradisional, kohl terbuat dari antimon, timbal, atau mineral lainnya. Sementara versi modernnya menggunakan bahan-bahan yang lebih aman.

Hankir, yang berasal dari keluarga Lebanon yang pindah ke Inggris pada tahun 1975 karena perang saudara, menggambarkan bagaimana kohl menjadi bagian dari identitas keluarganya. “Dulu saya sering melihat ibu saya merias wajahnya ketika kami tinggal berjauhan. Saya merasa dia terhubung dengan sesuatu yang sangat dalam,” ujarnya.

Kini, ia merasa koneksi tersebut kembali saat ia memakai eyeliner.



Hankir menulis buku berjudul Eyeliner: A Cultural History. Menurutnya, pengakuan UNESCO membantu menjaga kohl sebagai praktik budaya yang hidup. “Penetapan oleh UNESCO membantu melindungi pengetahuan, ritual, dan keahlian yang terkait dengan pembuatan dan pemakaian kohl,” ujarnya.

Ia sering membawa alat riasan kohl saat makan malam bersama teman-temannya dari Iran. Mereka kemudian membicarakan sejarah dan simbolisme kohl, yang akhirnya menginspirasi Hankir untuk mengeksplorasi sejarah dan penggunaan eyeliner.

“Pemahaman itulah yang membuat kohl memiliki makna yang sangat mendalam bagi perempuan, perempuan minoritas, dan perempuan di diaspora,” katanya.



Menurut Hankir, asal usul kohl dapat ditelusuri ke peradaban kuno Mesir, Mesopotamia, dan Persia. Di Mesir Kuno, kohl digunakan oleh semua kalangan tanpa memandang jenis kelamin atau kelas sosial. “Mereka memakainya untuk tujuan yang jauh melampaui kecantikan,” ujarnya.

Kohl juga digunakan sebagai bagian dari spiritualitas dan perlindungan mata dari penyakit. “Orang Mesir Kuno akan mengubur wadah kohl mereka bersama mereka, untuk membawanya ke alam baka, yang menandakan betapa pentingnya kohl,” kata Hankir.

Ratu Mesir Nefertiti kemungkinan besar adalah “influencer” asli dalam penggunaan eyeliner. Patung Nefertiti yang ditemukan oleh Ludwig Borchardt pada tahun 1912 mengungkapkan penggunaan eyeliner kohl. “Alisnya melengkung, dibentuk dengan sempurna dan diisi dengan pewarna hitam pekat, mungkin kohl,” tulis Hankir dalam bukunya.



Riasan Nefertiti kini masih menjadi tren. “Ada ratusan tutorial di YouTube, TikTok, dan Instagram yang meniru wajah sang ratu dengan tingkat ketelitian tertentu,” tulis Hankir dalam bukunya.

Penelitian Hankir tentang eyeliner telah membawanya berkeliling dunia. Dari Kerala hingga Chad, Meksiko, Yordania, dan Jepang, perjalanan ini mengungkap bahwa meskipun penggunaan eyeliner bervariasi, perannya sebagai bentuk perlindungan tetap menjadi benang merah.

Di Jepang, Hankir mengulas Geisha, seorang penghibur tradisional Jepang yang terampil dalam musik, tari, dan percakapan. Geisha selalu mengenakan eyeliner merah, simbol perlindungan yang abadi.



Di budaya chola Meksiko-Amerika, eyeliner adalah simbol identitas, perlawanan, dan kebanggaan budaya yang kuat. Dan seperti di Mesir Kuno, Hankir mengamati bahwa di beberapa bagian dunia, eyeliner tidak hanya digunakan oleh perempuan.

Di Chad, ia menghabiskan waktu bersama Wadabi, kelompok Fulani nomaden yang dikenal dengan kontes kecantikan tahunan mereka. “Para pria Badui di Petra, Yordania, memakai eyeliner bukan hanya untuk melindungi diri dari matahari atau menyalurkan religiusitas mereka, tetapi juga untuk terlihat tampan,” katanya sambil tertawa.

Eyeliner juga sering diaplikasikan pada mata anak-anak, sebuah praktik yang diyakini memberikan perlindungan. Di negara-negara berbahasa Arab, orang sering diberi nama seperti Kajal atau Kahilain, yang mencerminkan signifikansi budaya eyeliner.

Menurut Hankir, pengakuan UNESCO terhadap kohl sudah lama tertunda. Dia berkata, penghargaan ini sangat bermakna bagi komunitas di belahan bumi selatan, khususnya komunitas Timur Tengah, yang telah melestarikan dan mempertahankan tradisi ini selama berabad-abad.

Namun bagi Hankir, hubungan dengan budayanya sendiri yang membuat kohl begitu penting. “Ini hampir seperti tindakan spiritual. Ini hampir seperti ritual ketika Anda memakainya. Anda terhubung dengan lebih dari sekadar tindakan menggambar garis di sepanjang garis mata atau di kelopak mata atas Anda,” katanya.

Denis Arjuna

Seorang jurnalis digital yang terbiasa bekerja cepat dalam merangkum informasi penting menjadi berita yang mudah dipahami. Ia aktif menulis tentang gaya hidup, komunitas kreatif, dan isu keseharian. Hobi memasak dan mencoba resep baru membuatnya semakin peka pada detail. Motto: "Menulis adalah seni memahami manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *