Cara Alam Mengajarkan Cinta pada PSM Makassar

Perjalanan Emosional di Lapangan Sepak Bola

Ananda Raehan membenamkan wajahnya di dada Dokter Arga saat memasuki lapangan. Kitman Deko menuntun Syahrul Lasinari yang menutup wajah dengan kedua tangan, menggambarkan rasa bersalah dan beban yang lebih berat daripada cedera apa pun. Barisan melingkar telah terbentuk di tengah lapangan. Thomas Trucha dan Muhammad Nur Fajrin berdiri berdampingan, lebih banyak merunduk bukan untuk mencari legitimasi, tetapi untuk memastikan bahwa perjuangan PSM Makassar akan terus bergelora.

Injury time 8 menit berlalu penuh insiden. Laga pamungkas putaran pertama Liga Super 2025-2026, Jumat malam (9/12/2026), itu bagai neraka. Dua gol dan dua kartu merah untuk PSM. Gawang Reza Arya Pratama bobol sejak serangan pertama Bali United, di detik ke-34. Lalu Syahrul Lasinari diusir dari lapangan setelah wasit mengganjar tarikannya di baju pemain Bali United dengan kartu, yang kedua, pada menit ke-24.

Selama 50 menit di babak pertama ditambah 54 menit di babak kedua benar-benar menjadi ujian emosional bagi PSM Makassar dan suporter. Apalagi setelah gol kedua di menit ke-94 disusul cek var. Suporter awalnya senang dengan gelagat wasir akan cek Var karena menyangka gol Thijmen Goppel akan diperiksa. Syukur-syukur kalau wasit Erfan Efendi menganulirnya.

Suasana batin dua ribuan suporter mulai berubah ketika yang tampil di layar lebar tribun terbuka “probability red car”. Jantung berdegup kencang. Siapa gerangan jadi korban kedua. Ternyata Ananda Raehan. Proses pelanggarannya tak terlihat oleh siapapun selain pengawas VAR. Dan pelanggaran pertama Ananda yang masuk menggantikan Victor Dethan di awal babak kedua itu langsung diganjar kartu merah.

Tapi di situlah PSM Makassar semakin sukses mempertontonkan kedewasaan pada dunia. PSM Makassar menyuguhkan tontonan sepakbola yang sebenarnya. Bahwa kekalahan bukan kerusakan dan amuk. PSM Makassar pada malam itu menyuguhkan siri na pacce dan semangat ewako. Sepuluh pemain PSM Makassar menghadang gempuran Bali United dan bahkan menerjang tanpa kompromi.

Kehadiran Suporter yang Tak Pernah Berhenti

Ribuan suporter tetap berdiri meneriakkan “Ewakooo..” Ribuan suporter tetap berdiri bertepuk tangan mengiringi pukulan gong pemain di tengah lapangan. Ribuan suporter tetap berdiri menyanyikan Anthem PSM Makassar “Harga Diri”. Seraya menempelkan telapak tangan kanan di dada kiri mereka bergumam mengikuti suara Fadly Padi:

Kucinta kau sepenuh

Sepenuh penuh hati

Kusayang kau sepenuh

Sepenuh penuh hati

Kalah mu tak berarti

Menangmu kami nanti

Kau juara sejati

Kubela sampai mati

Ewako PSM

Untukmu ku bernyanyi

Berjuanglah kau demi

Harga diri sendiri

Aku PSM

Disini ku berdiri

Maju terus tak gentar

Kau tak pernah sendiri

Kalimat “Kalahmu tak berarti” bukan penyangkalan realitas, melainkan penerimaan eksistensial. Ia memuat kepasrahan sekaligus harapan. Ia adalah pernyataan bahwa PSM tidak hidup untuk trofi semata. PSM hidup untuk harga diri—siri’ na pacce.

Kebiasaan Menghargai Kemenangan

Empat laga tanpa kemenangan tidak memancing amuk. Kekalahan justru menjadi guru yang mengajarkan cara mensyukuri kemenangan. Sulthanul Ulama, Izzuddin Abdul Salam, menulis dalam buku Puasa Kado Spesial untuk Allah: ان النَّعْمَ لَا يَعْرِفُ مِقْدَارَهَا اِلَّا بِفَقْدِهَا. Bahwa nikmat itu tidak akan pernah terasa kecuali jika nikmat itu hilang. Kemenangan tidak akan pernah bisa dirasakan seutuhnya kalau tidak kalah.

Seruan itu sejaran dengan ungkapan yang sering disampaikan Anregurutta KH Sanusi Baco LC ketika taushiah di masa hidupnya:
الصحة تاج على رؤوس الأصحاء لا يراه إلا المرضى bahwa sehat itu adalah mahkota di atas kepala orang sehat yang tidak akan dilihat kecuali oleh orang sakit. Kita hanya bisa memaknai secara paripurna betapa pentingnya itu sehat jika kita sakit.

Bahwa kemenangan itu penting. Tapi mensyukur kemenangan jauh lebih penting. Cara terbaik mensyukuri kemenangan adalah dengan tetap humble. Jangan sifat sombong dalam diri karena kesombongan akan mendatangkan sikap memandang enteng orang lain. Kuatkan keyakinan bahwa kemenangan bukan karena “saya”.

Kesetiaan yang Diuji

Momen lain yang mempertegas kedewasaan itu terjadi ketika seluruh pemain dan tim pelatih, didampingi Manajer Tim Muhammad Nur Fajrin, mendatangi bench penonton usai laga. Di hadapan ribuan suporter yang masih berdiri di tribun terbuka, Yuran Fernandes sebagai kapten tim maju memberi penjelasan. Tak semua kata terdengar jelas. Namun jawabannya bergema kuat: kepalan tangan terangkat ke angkasa, disertai teriakan, “Good Yuran…” dan “We believe Yuran…”.

Dalam sepak bola dan dalam siri’ na pacce loyalitas tidak ditakar dari pidato panjang, melainkan dari keberanian berdiri, menjelaskan, dan menanggung beban di hadapan publiknya sendiri. Pengakuan itu tidak datang dari podium atau konferensi pers, melainkan dari suara suporter yang memilih tetap percaya di tengah kekecewaan.

Di situlah kesetiaan diuji dan disahkan: bukan oleh kemenangan, melainkan oleh kepercayaan yang tetap bertahan saat kalah. Teriakan “Good Yuran” dan “We believe Yuran” malam itu datang dari suporter yang tetap berdiri, bernyanyi, dan bertepuk tangan setelah peluit panjang dibunyikan.

Seruan itu bukan suara segelintir orang, melainkan ekspresi kolektif yang menegaskan satu hal: kepercayaan suporter sejati kepada pemain dan tim masih utuh. Karena itu, suara-suara yang mempertanyakan integritas perjuangan tim sejatinya tidak mewakili denyut suporter PSM. Ia lebih tepat dibaca sebagai luapan kekecewaan personal yang kehilangan pijakan kolektif, sering kali lahir dari kepentingan di luar sepak bola itu sendiri.

Kepercayaan yang Tetap Bertahan

Dalam bahasa Durkheim, ini adalah momen pemulihan solidaritas. Bourdieu membilangkannya reproduksi kepercayaan simbolik. Dalam bahasa lokal kita: siri’ na pacce sedang bekerja. Loyalitas tidak diumumkan lewat konferensi pers, tetapi diucapkan di hadapan orang-orang yang ikut menanggung beban. Loyalitas tak disahkan oleh media, melainkan oleh teriakan kepercayaan dari suporter sejati.

Di tribun malam itu, yang berbicara adalah suporter PSM, dan yang mereka suarakan bukan kemarahan, melainkan kepercayaan. Teriakan “Ewakooo” malam itu bukan sekadar chant. Ia adalah seruan ritual—mantra keberanian yang diulang bersama, dalam momen krisis, untuk meneguhkan bahwa perjuangan ini tidak ditanggung sendirian. Seperti doa yang diucapkan berulang-ulang, ia tidak menjelaskan apa pun, tetapi menghadirkan keberanian itu sendiri.

PSM Makassar, pada malam kekalahan itu, tidak hanya memainkan sepak bola. Ia mempertontonkan cara hidup: bagaimana kalah tanpa kehilangan martabat, bagaimana setia tanpa syarat, dan bagaimana merawat identitas di tengah rasa kecewa. Di stadion, siri’ na pacce tidak diajarkan lewat pidato. Ia dihidupkan lewat tubuh, suara, dan kesediaan untuk tetap berdiri. Disitulah sepak bola seharusnya menemukan kembali maknanya yang paling dalam. Disitulah suporter hadir seutuhnya bahwa mereka benar-benar pecinta sejati, bukan “suporter adu tebak skor”. Alam sedang mengajarkan bagaimana cara mencintai sepakbola yang seutuhnya.

Erina Syifa

Seorang penulis berita yang sering meliput isu pemerintahan dan administrasi publik. Ia memiliki kebiasaan membaca analisis kebijakan, menonton diskusi publik, dan membuat catatan ringkas. Waktu luangnya ia gunakan untuk berjalan santai. Motto: “Ketegasan dalam informasi adalah bentuk pelayanan publik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *