Cara Adly Fairuz Pura-pura Jadi Jenderal, Klaim Jadi Cucu Penguasa, Calo Akpol Raup Rp5 Miliar

Kasus Penipuan yang Melibatkan Artis Adly Fairuz

Adly Fairuz, seorang artis ternama, kini tengah terlibat dalam kasus penipuan yang menimpa seorang korban bernama Abdul Hadi. Dugaan tersebut berawal dari modus penipuan dengan mengaku sebagai ‘jendera’ untuk membantu meloloskan anak korban ke Akademi Kepolisian (Akpol). Adly Fairuz diduga menggunakan nama samaran Jenderal Ahmad demi mengelabui korban.

Pada awalnya, korban tidak mengetahui sosok Jenderal Ahmad. Nama itu disampaikan oleh perantara bernama Agung Wahyono, yang kemudian memperkenalkan Adly Fairuz sebagai pihak yang bisa membantu proses masuk Akpol. Menurut kuasa hukum korban, Farly Lumopa, kliennya Abdul Hadi percaya pada janji tersebut dan menyerahkan uang secara bertahap.

Dalam kesaksian Farly Lumopa, ia menyebut bahwa Agung Wahyono memberitahu bahwa uang sudah diserahkan kepada Jenderal Ahmad. Saat dipertemukan dengan sosok yang dimaksud, ternyata Jenderal Ahmad adalah Adly Fairuz sendiri. Ia menjelaskan bahwa nama “Ahmad” diambil dari nama tengah Adly Fairuz, yaitu Adly Ahmad Fairuz. Namun, Adly Fairuz bukanlah seorang jenderal, sehingga hal ini menjadi dugaan penipuan.

Selain itu, Adly Fairuz juga disebut mengaku sebagai cucu mantan penguasa Indonesia. Hal ini dilakukan untuk meyakinkan calon korbannya bahwa dirinya memiliki pengaruh besar dalam proses penerimaan Akpol. Dengan keyakinan tersebut, korban menyerahkan total dana sebesar Rp3,65 miliar.

Agung Wahyono kemudian bertemu dengan Abdul Hadi, yang ingin memasukkan anaknya ke Akpol. Keduanya sama-sama menunjuk Farly Lumopa sebagai penengah. Pembayaran atas “transaksi” tersebut dilakukan melalui Farly Lumopa. Jika anak Abdul Hadi lolos Akpol, maka dia harus memberikan uang kepada Agung Wahyono melalui Farly Lumopa. Sebaliknya, jika gagal, Agung Wahyono harus mengembalikan uang tersebut.

Pada tahun 2023, anak Abdul Hadi gagal lolos Akpol. Agung Wahyono menawarkan untuk mencoba tes di tahun berikutnya, namun gagal lagi. Pada tahun 2025, usia anak Abdul Hadi sudah tidak memenuhi syarat penerimaan Akpol, sehingga ia meminta dana dikembalikan.

Kemudian terjadi pertemuan antara Abdul Hadi, Agung Wahyono, dan Adly Fairuz. Tidak hanya Agung Wahyono yang menanggung kerugian, Farly Lumopa juga belum menerima komisi 15 persen sebagai honor dari penengah.

Pada tahun 2025, sempat ada itikad baik dari pihak Adly Fairuz dengan menandatangani akta notaris yang berisi komitmen pengembalian uang. Skema yang disepakati adalah cicilan sebesar Rp 500 juta per bulan. Namun, menurut pihak pelapor, Adly baru membayar satu kali, lalu tidak melanjutkan pembayaran.

Karena janji pengembalian tidak ditepati, kasus ini pun mencuat ke ranah hukum melalui jalur pidana dan perdata.

Klaim Kembalikan Uang Korban

Adly Fairuz menegaskan adanya itikad baik dalam menghadapi gugatan perdata wanprestasi senilai hampir Rp 5 miliar yang menjerat dirinya. Diwakili kuasa hukumnya, Adly membantah tuduhan penipuan terkait bantuan meloloskan calon polisi.

Andy R.H. Gultom, kuasa hukum Adly, menyebut bahwa kliennya telah mengembalikan dana sebesar Rp 500 juta secara langsung ke rekening penggugat. “Klien kami telah mengembalikan dana Rp 500 juta sebagai bentuk itikad baik,” ujar Andy.

Selain itu, Andy mengungkap adanya permintaan tambahan dana dari pihak penggugat di luar pengembalian tersebut. Penggugat bahkan meminta tambahan Rp 5 juta dengan dalih biaya administrasi kantor.

“Fakta ini menunjukkan bahwa klien kami sejak awal bersikap kooperatif dan tidak berniat menghindar,” lanjut Andy.

Menurut kuasa hukum, gugatan tersebut dianggap janggal karena penggugat disebut tidak memiliki hak atas uang yang disengketakan. Dengan adanya pengembalian dana dan berbagai fakta yang diungkap, pihak Adly mempertanyakan dasar pengajuan gugatan wanprestasi bernilai fantastis tersebut.

“Kalau memang merasa dirugikan, mengapa tidak melapor sejak awal? Mengapa justru menunggu lama dan mengajukan gugatan dengan nilai yang tidak rasional?” katanya.

Adriatno Majid

Seorang penulis berita online yang mengutamakan kecepatan dan ketelitian dalam menyampaikan informasi terkini kepada pembaca. Aktif mengikuti perkembangan isu sosial dan digital. Memiliki hobi membaca artikel sejarah, bersepeda pagi, serta memotret momen sederhana yang menarik. Baginya, proses menulis adalah ruang untuk melihat dunia lebih dekat. Motto hidupnya: "Informasi yang jujur adalah fondasi kepercayaan."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *