Pengalaman Mistis yang Dihadapi Ruben Onsu
Setelah mengambil keputusan untuk hijrah dan mualaf, Ruben Onsu berbagi pengalamannya tentang serangan sihir dan hal-hal mistis yang pernah ia alami sebelumnya. Dari teror kepala babi hingga ceceran darah di tempat usahanya, semua pengalaman tersebut sempat membuatnya merasa kewalahan.
Keputusan Ruben Onsu untuk memeluk agama Islam merupakan langkah penting dalam perjalanan spiritualnya. Ia mencari ketenangan dan arah hidup yang lebih jelas setelah melalui berbagai tantangan yang tidak bisa dijelaskan secara logis.
Dalam wawancara dengan Ustaz Muhammad Faizar, Ruben Onsu menceritakan pengalaman masa lalu yang penuh dengan serangan gaib. Setiap kali mengalami gangguan tersebut, ia selalu memilih untuk salat agar mendapatkan ketenangan. Dan setiap kali ia melakukan itu, gangguan pun langsung berhenti.
Ruben mengakui bahwa ia pernah mengalami berbagai jenis serangan, baik fisik maupun lingkungan. Bahkan, salah satu tempat usahanya pernah mendapatkan kiriman teror berupa kepala babi dan ceceran darah. Awalnya, ia adalah orang yang skeptis terhadap hal-hal mistis, namun akhirnya percaya setelah mengalami sendiri berbagai kejadian yang tidak masuk akal.
“Ada dunia yang lain di balik kita. Dari situ aku percaya,” ujar Ruben Onsu dalam wawancara tersebut.
Pencarian Jawaban dari Orang Pintar
Karena merasa ada yang tidak beres, Ruben pun bertanya kepada beberapa orang pintar. Ternyata, banyak dari mereka memberikan jawaban yang sama mengenai apa yang ia alami tanpa harus ia tanyakan terlebih dahulu. Dari 10 orang yang ia temui, 7 di antaranya memberikan jawaban serupa, sementara 3 lainnya memberikan jawaban yang berbeda. Ruben tidak tahu mana yang benar.
Ia juga mengalami berbagai gejala fisik yang sulit dijelaskan medis. Namun, ia selalu berusaha untuk berpikiran positif agar tetap tenang. “Saya selalu mengatakan, ‘ini mah medis.’ Menyenangkan hati, biar enggak tegang gitu,” tuturnya.
Menurut Ustaz Faizar, orang yang mengalami serangan gaib biasanya mengalami sakit di bagian belakang kepala dan punggung. Hal ini juga dialami oleh Ruben, terutama pada malam hari setelah magrib. Ia mengaku merasakan sakit kepala dan punggung yang sangat parah.
Selain itu, Ruben juga mengalami insomnia atau kesulitan tidur. Ia kerap merasa gelisah meskipun pekerjaan dan usahanya baik-baik saja. “Waktu-waktu magrib itu udah mulai muncul rasa-rasa badan sakit banget gitu, gelisah, tapi nggak tahu apa yang dipikirin,” katanya.
Teror di Tempat Usaha
Selain serangan fisik, Ruben juga mengalami gangguan di tempat usahanya. Diketahui, ia memiliki ratusan outlet bisnis kuliner yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Dari 170 outlet tersebut, beberapa di antaranya pernah mendapatkan kiriman teror.
“Wah banyak kejadian-kejadian yang segala ada bungkusan kepala babi. Terus kucuran darah di depan toko, (ceceran) bunga,” jelasnya.
Meski mengalami berbagai bentuk teror, Ruben tetap berusaha untuk berpikiran positif dan menanggapinya dengan guyonan. Tujuannya adalah agar si pengirim teror tidak mendapatkan hasil yang diinginkan. “Tapi kan kita menanggapinya pada saat itu siapa ini bidadari cantik-cantik mandi bunga di sini?” ujarnya sambil tersenyum.
Kepala babi dikirimkan dalam bungkusan kain kafan dan kresek hitam. “Ada yang pakai kain (kafan). Ada yang pakai kresek hitam, dalamnya ada bunganya. Saya cuma beranggapan ini babinya makan bunga nih mati nih,” jelas Ruben.
Menurut Ustaz Faizar, kepala babi termasuk media sihir yang sering digunakan oleh pengirim. Karena itu, penerima akan merasa takut karena menerima kiriman yang tidak biasa.
Penanganan dan Keputusan Akhir
Akibat seringnya menerima teror di tempat usahanya, Ruben sering mendengar omongan dari orang-orang di sekitarnya. Banyak yang mengira ia diserang oleh pesaing bisnisnya. Namun, ia memilih untuk tidak mendengarkan omongan tersebut agar tidak semakin stres.
Setelah menghadapi berbagai macam teror dan gangguan, Ruben Onsu memilih ikhlas dan pasrah. Ia tidak melakukan pembalasan apa pun dan memilih menyerahkan segalanya kepada Tuhan. Setelah itu, serangan-serangan tersebut perlahan menghilang dari kehidupannya.
“Syukurnya kata-kata ikhlas dari dulu tuh sama saya tuh kayak enggak jauh gitu sebenarnya. Jadi udahlah, ya udahlah, ya udahlah, gitu,” ujarnya.
“Akhirnya gara-gara ya udahlah dan pasrah, semakin dia rontokin tuh. Karena saya memang enggak ada usahanya untuk melakukan apapun itu enggak ada usaha,” jelasnya.












