Perayaan Epifani dan Tradisi Kapur Tulis
Pada tanggal 4 Januari, umat Katolik merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan atau Epifani. Pada hari ini, kapur tulis, air, dan garam diberkati dalam Misa. Di Indonesia, umat memperoleh kapur tulis yang sudah diberkati dan menuliskannya di pintu rumah utama dengan tulisan “20*C+M+B+26”. Simbol 20 dan 26 mengacu pada tahun 2026. Huruf C, M, dan B mewakili tiga raja dari Timur, yaitu Casper, Melchior, dan Balthasar, yang datang untuk menyembah Yesus di Betlehem. Selain itu, huruf-huruf tersebut juga memiliki makna lain, seperti C untuk Christus (Kristus), M untuk Mansionem (Keluarga), dan B untuk Benedicat (Memberkati). Tulisan ini menjadi bentuk komitmen untuk menyerahkan seluruh keluarga kepada perlindungan Tuhan.
Bacaan Kitab Suci pada Hari Raya Epifani
Pada hari Raya Epifani, bacaan-bacaan kitab suci dibacakan. Bacaan pertama berasal dari Kitab Yesaya, yang menggambarkan terang Tuhan yang menarik bangsa-bangsa untuk datang. Mereka membawa emas dan kemenyan sebagai persembahan. Sementara itu, bacaan Injil diambil dari Kitab Matius 2:1-12, yang menceritakan kedatangan orang Majus dari Timur ke Yerusalem. Ketiga orang Majus ini datang karena melihat bintang-Nya dari Timur dan ingin menyembah Dia.
Tradisi Sternsinger di Jerman
Di Jerman, ada tradisi unik bernama Sternsinger, yang berarti “penyanyi bintang”. Anak-anak dari paroki dan paroki-paroki lainnya berlatih nyanyian dan puisi setelah Natal. Lagu-lagu dan puisi mereka dinyanyikan saat berkunjung ke rumah-rumah keluarga dan instansi pemerintah. Keluarga-keluarga yang ingin dikunjungi dapat mendaftar di depan gereja atau ke kantor paroki. Hal ini memudahkan pembimbing dan pendamping dalam membagi kelompok Sternsinger ke wilayah-wilayah tertentu.
Biasanya, keluarga-keluarga menantikan kedatangan anak-anak Sternsinger dengan antusias. Karena cuaca yang dingin, banyak keluarga menyediakan minuman hangat, cokelat, dan bonbon serta uang Dana. Anak-anak harus berjalan dari rumah ke rumah di bulan Januari yang dingin dan bersalju, dengan suhu mencapai -1 derajat Celsius.
Setelah tiba, keluarga membuka pintu, dan anak-anak mulai menyanyi, membaca puisi, serta menulis tulisan berkat dengan kapur tulis di pintu utama. Berdasarkan bacaan kitab suci, anak-anak Jerman berpakaian seperti tiga raja dari Timur, yaitu Casper, Melchior, dan Balthasar. Mereka mengunjungi rumah-rumah keluarga, kantor pemerintah, bahkan Kantor Kanseleri Jerman.
Tujuan dan Donasi dari Sternsinger
Anak-anak yang memerankan tiga raja ini mengumpulkan dana untuk anak-anak di belahan dunia lain yang membutuhkan. Moto Sternsinger tahun ini adalah “Schuelle statt Fabrik” atau “Sekolah bukan Pabrik”, yang bertujuan untuk membantu pembiayaan sekolah anak-anak di Bangladesh agar bisa sekolah dan tidak harus bekerja di pabrik-pabrik.
Tahun lalu, Sternsinger 2025 berhasil mengumpulkan 48 juta Euro, yang digunakan untuk anak-anak di Kolombia. Anak-anak kami juga pernah ikut dalam kegiatan ini, dan saya sebagai ibunya mendampingi mereka. Kami sangat menghargai semangat anak-anak ini, yang berjalan melewati salju di cuaca dingin antara 0 hingga minus 1 derajat Celsius.
Perjalanan dimulai pukul 11.00 hingga 13.00, kemudian istirahat dan makan siang di aula gereja. Ibu-ibu telah menyiapkan makanan hangat seperti Spagetti Bolognese. Setelah makan siang, perjalanan dilanjutkan dari pukul 14.00 hingga 15.00. Meskipun lelah, kami merasa senang karena anak-anak sedang bekerja untuk mengumpulkan dana agar hidup anak-anak lain menjadi lebih baik.
Tahun lalu, anak-anak Sternsinger berhasil mengumpulkan lebih dari 5.000 Euro. Salut untuk anak-anak Sternsinger dan keluarga-keluarga penyumbang. Inilah sekelumit kegiatan anak-anak di masa Natal di Jerman. Kebetulan minggu ini anak-anak masih liburan Natal dan Tahun Baru. Besok hari Senin mereka akan kembali ke sekolah.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












