Isu Keamanan dan Politik Mengancam Piala Dunia 2026
Piala Dunia FIFA 2026 yang akan digelar pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 di tiga negara, yaitu Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko, kini menghadapi ancaman serius. Beberapa faktor seperti masalah keamanan, politik global, serta isu imigrasi telah memicu berbagai seruan untuk memboikot ajang olahraga terbesar dunia ini.
Masalah Imigrasi di AS
Salah satu penyebab utama ketakutan muncul adalah kebijakan imigrasi yang semakin ketat di AS. Presiden Donald Trump dikenal dengan pendekatannya yang keras terhadap para pendatang ilegal dari Amerika Latin. Hal ini menimbulkan kekhawatiran karena sebagian besar penggemar sepak bola dan tim yang akan bertanding berasal dari negara-negara tersebut.
Beberapa waktu lalu, pemerintah AS bahkan berencana untuk melakukan razia terhadap tim-tim dari Amerika Tengah dan Selatan. Menurut Andrew Giuliani, pemimpin White House’s World Cup 2026, Presiden Trump tidak akan melonggarkan kebijakan imigrasi. Dengan prediksi kedatangan 5-7 juta pengunjung selama Piala Dunia 2026, situasi ini semakin memperburuk ketakutan.
Seorang aktivis, Mohamad Safa, menyatakan bahwa dirinya membatalkan tiket Piala Dunia. Ia khawatir petugas imigrasi AS bisa menangkapnya tanpa proses hukum yang jelas. Ia juga menyampaikan bahwa AS tidak aman bagi pengunjung, terutama setelah insiden pembunuhan oleh ICE di Minnesota.
Selain itu, Ajamu Baraka, seorang aktivis sayap kiri, menulis bahwa dunia perlu memboikot Piala Dunia dan Olimpiade karena AS dianggap tidak aman bagi pengunjung dan imigran. Banyak pengguna X lainnya juga menyampaikan pendapat serupa.
Ketegangan Politik dan Kekhawatiran Keamanan
Pernyataan Presiden Donald Trump pada 8 Januari 2026 bahwa AS akan mulai menyerang daratan dan menargetkan kartel narkoba yang “menguasai Meksiko” memicu kekhawatiran di kalangan warga Meksiko. Padahal, Meksiko merupakan salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026.
Pada 3 Januari 2026, Trump melancarkan serangan militer di Venezuela untuk menangkap Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Insiden ini memicu ketegangan antara negara-negara tetangga di daratan Amerika. Selain itu, pembunuhan Renee Good di Minneapolis oleh seorang petugas ICE semakin memperparah situasi.
Di tingkat internasional, Gedung Putih juga menyatakan keinginan untuk mengambil alih Greenland, wilayah otonom milik Denmark. Ini menambah kekhawatiran tentang stabilitas politik di kawasan Amerika.
Ancaman Boikot dan Keprihatinan Global
Pengguna X, Glenn Tunes, menulis bahwa negara yang mengancam perdamaian dunia setiap hari seharusnya tidak menjadi tuan rumah Piala Dunia atau Olimpiade. Sementara itu, politisi Inggris George Galloway menyatakan bahwa hanya orang gila yang akan pergi ke AS untuk Piala Dunia, karena risiko keselamatan yang tinggi.
Meskipun demikian, Presiden FIFA, Gianni Infantino, menegaskan bahwa Amerika akan menyambut semua kontestan Piala Dunia 2026. Namun, beberapa negara seperti Iran dan Haiti, yang lolos ke Piala Dunia, memiliki warga yang dilarang masuk ke AS oleh Presiden Trump. Hal ini berpotensi menghalangi penggemar Iran dan Haiti untuk hadir secara langsung.
Fakta Singkat Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026 akan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 di tiga negara: AS, Kanada, dan Meksiko. Ajang ini akan menggunakan format baru dengan 48 tim dan total 104 pertandingan.
Pertandingan akan digelar di 11 kota di AS, 2 kota di Kanada, dan 3 kota di Meksiko. Pertandingan pembuka akan dimainkan oleh Meksiko melawan Afrika Selatan di Estadio Azteca, Mexico City. Sedangkan pertandingan terakhir akan digelar di MetLife Stadium, New Jersey.
Untuk penonton di Indonesia, jadwal kick-off berkisar antara pukul 23.00 WIB hingga 11.00 WIB dan dapat disaksikan di TVRI.












