Pengalaman Liburan di Yogyakarta
Meski tinggal di kabupaten yang berbatasan dengan Provinsi Yogyakarta, anak-anak saya belum pernah mengunjungi keraton. Jadi, pekan kemarin ketika sedang berlibur selama tiga hari dua malam di Yogya, kami memutuskan untuk mampir ke sana. Memang Yogyakarta ramai sekali karena bertepatan dengan libur sekolah sekaligus Natal dan tahun baru. Namun, jika tidak di musim liburan, keraton pasti lebih sepi dan kurang seru.
Sayangnya, anak-anak saya terlihat agak bosan. Mungkin karena mereka sudah biasa melihat pertunjukkan gamelan. Melihat perlengkapan dapur dan set minum teh klasik yang dipakai keluarga keraton juga tidak menarik bagi mereka. Bahkan melihat para abdi dalem yang sedang duduk istirahat terasa awkward.
Untuk mengurangi kebosanan itu, kami memutuskan makan siang di Bale Raos, restoran di dalam komplek yang menyajikan masakan kesukaan keluarga keraton. Kami berharap bahwa menyantap makanan dengan citarasa baru bisa membuat mood anak-anak kembali ceria.
Hanya saja, restoran tersebut buka pukul 11.00, masih kurang setengah jam lagi. Di saat yang sama, ada 2-3 orang bapack-bapack yang mengatakan bahwa di belakang tembok putih di depan sana adalah tempat tinggal para abdi dalem. Di perkampungan para abdi dalem itu kita bisa melihat proses pembuatan kopi luwak dan batik tulis. Meskipun agak tidak masuk akal karena pembuatan kopi luwak biasanya dilakukan di tempat yang ada kebun kopinya, namun karena kakak ipar ingin, akhirnya kami ke sana.
Arabica dan Robusta dari Luwak Liar
Benar saja, tempat itu hanya kedai kopi luwak, bukan tempat pembuatan kopi luwak. Seorang bapak, saya lupa namanya, menjelaskan bahwa kopi luwak telah ditetapkan halal oleh MUI karena prosesnya melalui pencucian sampai bersih. Lagipula, katanya, bagian dalam kopi yang diminum sama sekali tidak kena kotoran luwak karena diselubungi kulit ari.
Kulit ari yang kena kotoran luwak itu dibersihkan dari biji kopi sehingga hanya meninggalkan kopi yang bersih. Saya bertanya apakah luwak yang makan biji kopi itu dipelihara atau liar? Kata si bapak, luwak itu liar, habitatnya ada di lereng Merapi dekat rumah mendiang Mbah Maridjan sang juru kunci Merapi yang tersohor itu.
Luwak akan makan biji-biji kopi di perkebunan pada malam hari lalu buang air besar pada keesokan harinya. Saat itulah para petani mengambil kotoran luwak dan membersihkan biji-biji kopi.
Citarasa kopi dari kotoran luwak liar dengan luwak yang dipelihara berbeda. Luwak liar hanya makan biji kopi yang sudah matang, sedangkan luwak peliharaan tidak. Dengan begitu kadar kafeinnya pun rendah, tinggi antioksidan, dan aman bagi penderita asam lambung. Penderita asam lambung bahkan disarankan minum kopi luwak secangkir tiap pagi untuk mengobati kelebihan asam lambung.
Si bapak juga menunjukkan kopi yang baru keluar dari kotoran luwak dan membuktikannya ke hidung kami kalau kotoran yang keluar dari bokong luwak itu sama sekali tidak berbau.
Setelah lima menit si bapak menjelaskan tentang kopi luwak, dia tanya mau pesan berapa cangkir untuk dicicipi. Secangkir harganya Rp100.000 jadi kami cuma pesan dua cangkir saja. Rasanya memang enak. Segar dan tidak asam. Jenis robusta terasa pahit dibanding arabica.
Setelah kopi di cangkir habis, kami ditawari lagi mau beli yang berapa gram. Saya pilih beli kopi arabica seberat 50 gram dengan harga Rp250.000. Untung saja, kata penjualnya, untuk menikmati kopi luwak cukup dengan menyeduh satu sendok teh dengan segelas air mendidih.
Seumur-umur baru kali ini beli kopi luwak segitu banyak, dua cangkir plus sebungkus isi 50 gram….wkwkw…. Maklum kami cuma kelas menengah, bukan kalangan the have.
Pemasaran dan Makna Kata
Sebelum mampir ke kedai kopi luwak, saya sudah menduga kalau bapack-bapack yang bilang bahwa di belakang keraton ada tempat pembuatan kopi luwak sebagai gimmick.
Gimmick adalah strategi khusus yang digunakan untuk menarik perhatian, biasanya dalam pemasaran, hiburan, atau politik. Istilah ini sering dipakai untuk menyebut sesuatu yang unik, mencolok, atau berbeda dan sering lebih fokus ke efek “wow” daripada substansinya.
Dengan si bapack bilang, “…. bisa melihat proses pembuatan kopi luwak” saja sudah tidak masuk akal karena dalam pikiran saya pembuatan kopi luwak pastilah di tempat yang ada perkebunan kopinya. Namun, mungkin saja si bapack mengartikan makna “pembuatan kopi” sebagai “menyeduh kopi”. Di percakapan sehari-hari kita sering dengar kalimat, “Buat kopi dulu, ah, biar gak ngantuk.”
Maka, andaipun dikonfrontir, si bapack bisa mengelak dengan mengatakan, “Saya bilang pembuatan kopi, kopi yang di cangkir, bukan yang dari kebun.”
Saya berniat mengulas pengalaman minum di kedai kopi itu di GMaps. Namun, ternyata kedai kopi itu berstatus Permanently Closed alias tutup selamanya sehingga tidak bisa diulas. Di situ terlihat ulasan enam bulan terakhir dipenuhi oleh bintang satu yang menyatakan mereka dijebak untuk membeli kopi seharga Rp100.000 secangkir.
Mereka mengira kedai kopi itu bagian dari tur keraton Yogya. Apalagi para tenaga marketingnya mengiming-imingi, “Bisa melihat proses pembuatan kopi luwak dan batik tulis di perkampungan abdi dalem keraton.” Jadi saat tahu mereka harus minum secangkir kopi Rp100.000, rasanya mangkel bukan kepalang.
Tambahan lagi, para tenaga marketing di kedai itu mahir sekali bicara. Orang jadi tidak punya kesempatan untuk membatalkan niat. Pun merasa tidak enak untuk pergi begitu saja meninggalkan kedai kopi meski sadar sudah kena gimmick. Double kill.
Saya pun sebetulnya agak kezel karena sudah tahu itu teknik marketing kasar yang memaksa orang mengunjungi tempat tertentu. Namun, kakak ipar saya malah tanya-tanya ke si bapack tadi, yang bikin dia makin semangat mengarahkan kami ke kedai itu. Sudah itu di kedai pun saya ingin bilang, “Saya ke sini bukan buat ngopi, cuma mau lihat keraton dan makan di Bale Raos,” tapi kakak ipar saya merasa tidak enak kalau meninggalkan kedai itu.
Lagian ngopi di suasana panas terik seperti kemarin itu sungguh tidak nyaman. Apalagi di dalam kedai kopinya juga panas sampai enam kipas angin yang ada di sana tidak sanggup menghadirkan hawa silir sejuk.
Ya sudah telanjur, apa boleh buat, nasi sudah jadi kopi.
Taat Itinerary
Buat orang yang seperti kakak ipar saya yang tipe gak enakan, please hilangkan rasa tidak enakan itu kalau sedang liburan. Misal memang niatnya pengin random menghabiskan uang, gak apa-apa mampir sana-sini belanja ini-itu. Namun, kalau kita sudah punya itinerary (rencana, daftar tempat, dan aktivitas selama berlibur), sebaiknya taati itinerary itu.
Meskipun kita punya uang yang tumbuh di pohon, liburan yang mampir sana-sini melenceng dari itinerary malah bikin kita jadi terlalu lelah. Terlalu lelah akhirnya bikin jiwa raga jadi tidak refresh yang meningkatkan stres.
Di masa lalu saya sering belanja banyak barang dan oleh-oleh hanya karena kasihan dengan pedagangnya. Dalam benak saya waktu itu, “Gpp berbagi rejeki. Toh gak tiap hari beli dagangan mereka.” Lama-lama saya pikir kami sekeluarga liburan juga hasil menyisihkan penghasilan yang didapat dari kerja juga, sama kerasnya dengan para pedagang itu.
Sejak dua tahun lalu, kalau memang tidak ingin, saya memberanikan diri untuk tega menolak membeli dagangan di tempat wisata, ditawari mampir sana-sini oleh guide, bahkan menolak membeli oleh-oleh. Kalau setahun kita dua kali liburan, apa iya kita harus kasih oleh-oleh ke saudara dan tetangga? Saya, sih, no.












