Penanaman Kelapa Sawit di Kawasan Perbukitan Cigobang Memicu Kekhawatiran Warga
Di tengah hutan hijau yang terletak di Desa Cigobang, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon, kini muncul deretan tanaman kelapa sawit yang menimbulkan kegundahan di kalangan warga setempat. Langkah penanaman ribuan pohon sawit di kawasan perbukitan tersebut mendapat penolakan keras dari masyarakat karena khawatir akan dampak negatif terhadap lingkungan dan ketersediaan air.
Warga mengkhawatirkan bahwa penanaman sawit di lereng bukit bisa merusak keseimbangan ekosistem, memperparah krisis air, serta meningkatkan risiko longsor. Hal ini memicu polemik yang ramai dibicarakan di media sosial dan menjadi isu penting bagi masyarakat setempat.
Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon mengaku terkejut dengan munculnya tanaman sawit di wilayah yang selama ini dikenal sebagai kawasan hutan dan penyangga mata air. Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, Durahman, menyatakan bahwa pihaknya belum mengetahui secara pasti kronologis awal penanaman kelapa sawit tersebut. Ia menjelaskan bahwa sawit bukan komoditas unggulan di Kabupaten Cirebon, dan pengembangan sektor perkebunan lebih diarahkan pada komoditas yang sesuai dengan kondisi agroekologi dan daya dukung lingkungan setempat.
Beberapa waktu lalu, Dinas Pertanian juga menerima Surat Edaran Gubernur Jawa Barat tentang kebijakan terkait keberadaan tanaman kelapa sawit di wilayah Jawa Barat. Dalam surat edaran tersebut, disebutkan bahwa areal yang telah ditanami kelapa sawit harus dilakukan penggantian atau alih komoditas secara bertahap dengan komoditas perkebunan lain yang menjadi unggulan Provinsi Jawa Barat maupun daerah setempat.
Penggantian komoditas tersebut harus disesuaikan dengan kondisi agroekologi, daya dukung lingkungan, serta karakteristik wilayah. Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan untuk mendukung pelestarian fungsi ekologis, konservasi tanah dan air, serta mengurangi risiko kerusakan lingkungan. Pemerintah kabupaten dan kota diminta untuk melakukan inventarisasi dan pemetaan seluruh areal kelapa sawit di wilayah masing-masing, serta melakukan pembinaan dan pendampingan kepada petani maupun pelaku usaha perkebunan.
Durahman menyatakan bahwa pekan depan pihaknya akan melakukan inventarisasi ulang terkait tanaman sawit di Desa Cigobang. Selain itu, akan dilakukan pendampingan agar dapat dilakukan penggantian kelapa sawit dengan varietas tanaman komoditas lain yang sesuai dengan agroekologi dan komoditas utama daerah. Dengan terbitnya surat edaran tersebut, ia menegaskan bahwa untuk sementara tidak diperbolehkan adanya aktivitas lanjutan di lahan yang telah ditanami kelapa sawit di Desa Cigobang.
Terbitnya Surat Edaran Gubernur Jawa Barat tentang larangan penanaman kelapa sawit juga menjadi titik balik sikap Pemerintah Desa Cigobang. Aturan tersebut dinilai sebagai pegangan hukum yang jelas untuk menghentikan polemik penanaman sawit di wilayah perbukitan desa. Kepala Desa Cigobang, Muhammad Abdul Zei, menegaskan bahwa pihaknya akan segera menindaklanjuti surat edaran tersebut dengan langkah konkret di lapangan. Ia menyatakan bahwa larangan dari Gubernur Jawa Barat bukan sekadar imbauan, melainkan dasar hukum yang kuat bagi pemerintah desa untuk bersikap tegas.
Seperti diberitakan sebelumnya, keberadaan perkebunan kelapa sawit di kawasan bukit Desa Cigobang memicu keresahan warga. Jalan setapak yang membelah hutan hijau kini mulai diapit deretan tanaman sawit yang tumbuh di lereng perbukitan. Dalam empat bulan terakhir, kebun sawit diketahui telah menginvasi lahan seluas kurang lebih empat hektare di kawasan bukit Cigobang, pada ketinggian sekitar 28 meter di atas permukaan laut.
Tanaman sawit ditanam dengan jarak sekitar enam meter di area yang sebelumnya merupakan kawasan hutan asri. Warga menilai alih fungsi lahan tersebut berpotensi merusak cadangan air tanah. Desa Cigobang sendiri dikenal sebagai wilayah yang rawan krisis air. Sara (55), salah seorang warga, mengaku resah dengan masuknya perkebunan sawit di wilayahnya. “Kalau toh bakal merugikan masyarakat, apalagi untuk anak cucu kita,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa disuarakan pegiat lingkungan dari Sawala Buana, Hipal Surdiniawan. Ia menegaskan bahwa kawasan hutan Cigobang merupakan penyangga mata air yang vital bagi masyarakat. “Karena kita menjaga mata air di sekitaran hutan Cigobang, akan lebih indah kalau hutan itu benar-benar hutan, bukan sawit,” katanya.
Selain krisis air, warga juga mencemaskan potensi longsor. Akar sawit yang relatif dangkal dinilai tidak sekuat vegetasi hutan alami dalam menahan struktur tanah, terutama saat musim hujan. Kekhawatiran akan krisis air, longsor dan rusaknya ekosistem itulah yang membuat warga Cigobang menilai keberadaan perkebunan sawit bukan sekadar persoalan ekonomi, melainkan menyangkut keselamatan lingkungan dan keberlangsungan hidup masyarakat dalam jangka panjang.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












