Kronologi Awal Penemuan Jasad di Indekost Matani Satu
Berdasarkan informasi dari pihak kepolisian, peristiwa ini pertama kali diketahui sekitar pukul 08.00 Wita. Awal mula penemuan bermula saat pemilik kos berinisial YR, yang tinggal di Kelurahan Matani Satu, menerima panggilan dari salah satu penghuni indekost. Dalam sambungan telepon tersebut, YR diberitahu bahwa seorang penghuni kos ditemukan meninggal dunia. Mendengar kabar itu, YR langsung bergegas menuju lokasi indekost. Setibanya di tempat kejadian perkara, YR mendapati Evia Maria berada di depan pintu masuk kos dalam kondisi sudah meninggal dunia. YR kemudian menghubungi pihak kelurahan untuk melaporkan kejadian tersebut. Tak berselang lama, personel Polsek Tomohon Tengah tiba di lokasi. Kapolsek Tomohon Tengah IPTU Stenly Tawalujan bersama tim identifikasi dari Polres Tomohon segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Disemayamkan di Minahasa Utara, Pemulangan Tertunda
Jenazah Evia Maria kemudian disemayamkan di rumah kerabat di Perumahan CBA Gold, Teterusan, Mapanget, Minahasa Utara (Minut), Sulawesi Utara. Jenazah Evia disemayamkan di kediaman keluarga Pdt Roos Merry Kabuhung. Pendeta Roos merupakan tante dari Evia Maria yang melayani sebagai Pendeta di Jemaat GMIM Eden Mapanget. Pihak keluarga awalnya merencanakan pemulangan jenazah ke kampung halaman Evia di Ulu Siau, Kepulauan Sitaro, pada Rabu pagi, 31 Desember 2025. Namun rencana tersebut batal setelah diputuskan bahwa jenazah akan menjalani proses otopsi. Pantauan di rumah duka memperlihatkan puluhan pelayat datang silih berganti. Beberapa di antaranya merupakan anggota Ikatan Kekeluargaan Indonesia Sangihe Sitaro Talaud (IKISST) Sulawesi dan Manado. Ayah Evia, Antonius Mangolo, bersama adiknya Revan dan sejumlah kerabat lainnya, telah tiba di Manado sejak Rabu dini hari.
Akan Jalani Otopsi, Keluarga Temukan Lebam Biru
Keputusan untuk melakukan otopsi tidak diambil tanpa alasan. Jenazah Evia Maria dijadwalkan menjalani otopsi di RS Kandou Manado pada Rabu, 31 Desember 2025, setelah keluarga menemukan sejumlah tanda mencurigakan di tubuh almarhumah. Ketsia, tante Evia, mengungkapkan bahwa pada Selasa malam di rumah duka Perum CBA Gold, ia terdorong untuk memeriksa kaki jenazah. “Saat itulah ada tanda biru serta tanda seperti luka,” katanya. Tak berhenti di situ, atas saran seseorang, keluarga kemudian membuka tubuh jenazah dan kembali menemukan tanda biru di bagian pinggang kiri serta paha atas. “Dari situ lantas diputuskan untuk dilakukan otopsi,” lanjutnya. Ia menyampaikan bahwa ayah Evia telah tiba sejak Rabu dini hari dan pada pagi harinya bertolak ke Polda untuk persiapan otopsi. Padahal, sebelumnya jenazah direncanakan dipulangkan pada Kamis. Ketsia menegaskan, pihak keluarga menyerahkan sepenuhnya penanganan kasus kematian Evia kepada aparat penegak hukum.
Unggahan Terakhir Sebelum Natal yang Kini Menjadi Kenangan
Di mata keluarga, Evia dikenal sebagai pribadi yang baik, rajin, pintar, dan cenderung pendiam. Hal itu diungkapkan Ketsia saat ditemui di rumah persemayaman. “Ia memang pendiam, tapi rajin,” katanya. Menurut Ketsia, Evia dikenal sangat bertanggung jawab dalam tugas kelompok. Bahkan saat menginap di rumahnya, Evia kerap lupa makan karena terlalu fokus mengerjakan tugas. “Saya sering tegur makan dulu, dan ia tetap dengan laptopnya,” ujarnya. Selain rajin, Evia juga dikenal pintar dan berhati baik. Meski pendiam, ia memiliki semangat belajar yang tinggi. Ketsia mengungkapkan, ia sempat menanyakan apakah Evia akan pulang saat Natal. “Jawabnya tidak jadi, karena tidak dapat tiket,” katanya. Pertemuan terakhir mereka terjadi beberapa bulan lalu, saat Evia tengah menjalani KKN dan mencari tempat kos. Kala itu, Evia dan dua temannya sempat menginap di rumah Ketsia. “Ia katakan makaseh (terima kasih) Ma Abo,” tutur Ketsia. Menjelang Natal, Evia juga sempat mengunggah sejumlah story. Salah satunya memperlihatkan momen mandi di pantai bersama adiknya, disusul unggahan lain berupa kertas yang diduga menandakan keberhasilan menyelesaikan KKN serta pesan kado Natal untuk sang ibu.

Oknum Dosen FIPP Unima Disorot, GMNI Sebut Kegagalan Serius
Sorotan publik kini mengarah pada salah satu oknum dosen Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Unima berinisial DM. Nama DM mencuat setelah Evia Maria ditemukan meninggal dengan kondisi tak wajar. Dalam surat yang ditujukan kepada Dekan FIPP Unima, tertulis kronologi dugaan perlakuan tidak menyenangkan yang dialami Evia dari oknum dosen tersebut. Kasus ini pun viral di media sosial. Mahasiswa dan alumni ramai membagikan foto korban dan oknum dosen, disertai ungkapan keprihatinan. Sejumlah alumni turut bersuara. N, alumni FIP Unima, mengaku pernah diminta mencuci baju oleh dosen tersebut. “Waktu itu saya pilih bagian menyetrika baju,” katanya. Ia juga menyebut dosen tersebut kerap membahas hal-hal tidak pantas di ruang kuliah. “Dia selalu bahas soal hal intim saat masuk. Pernah juga suruh kumpul uang,” ungkapnya. Ketua DPC Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Minahasa, Rian Salu, menegaskan bahwa kasus ini harus diusut tuntas. “Kasus tersebut bukan peristiwa tunggal, oknum dosen tersebut telah melakukan hal itu selama bertahun-tahun,” kata Rian Salu. Ia menilai tidak adanya sanksi tegas dari pihak kampus sebagai kegagalan serius institusi. “Ini adalah kegagalan serius institusi. Ketika kekerasan seksual dibiarkan dan sanksi dijatuhkan setengah hati, korbanlah yang menanggung dampak paling tragis,” tegasnya. GMNI Minahasa mendesak penanganan kasus secara transparan, pemberian sanksi tegas sesuai hukum, serta evaluasi menyeluruh sistem penanganan kekerasan seksual di Unima. “Kampus harus bertanggung jawab, memastikan ruang pendidikan yang aman dan manusiawi,” lanjutnya. Rian Salu berharap tragedi serupa tidak kembali terulang. “Tidak boleh ada lagi pembiaran. Kampus harus berpihak pada korban dan keadilan,” tutupnya.
Seorang penulis berita online yang terbiasa bekerja cepat tanpa mengabaikan akurasi. Ia menaruh perhatian pada isu sosial, budaya, dan tren masyarakat. Waktu luangnya ia gunakan untuk membaca buku psikologi, berjalan kaki di taman, dan merawat tanaman hias. Ia percaya bahwa ide terbaik muncul dari ketenangan. Motto: “Ketelitian adalah kunci dari kredibilitas.”












