Banjir Melanda Aceh, Warga Kembali Trauma
Selama dua hari, Rabu (24/12/2025) hingga Kamis (25/12/2025), sejumlah kabupaten di Aceh dilanda banjir. Kejadian ini terjadi akibat hujan deras yang mengguyur kawasan pedalaman sejak sore hari. Genangan air mulai terlihat sekitar pukul 15.30 WIB di Kecamatan Meureudu, Meurah Dua, dan Bandar Dua (Ulee Gle).
Banjir kembali melanda Aceh. Sejumlah kabupaten di provinsi berjuluk Serambi Mekah itu dilanda banjir dari hari Rabu hingga Kamis. Hujan deras yang mengguyur kawasan pedalaman sejak sore hari menjadi penyebab utama. Luapan sungai dan waduk seperti Krueng Meureudu, Krueng Kiran, dan Krueng Jeulanga merendam puluhan gampong di Kabupaten Pidie Jaya dan Bireuen.
Laporan dari wartawan menyebutkan bahwa di sejumlah lokasi, banjir susulan menghantam tempat pengungsian. Genangan air mulai terlihat sekitar pukul 15.30 WIB di Kecamatan Meureudu, Meurah Dua, dan Bandar Dua (Ulee Gle). Abdullah Gani, warga Pidie Jaya, mengatakan bahwa gampong di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua kembali banjir dengan ketinggian air sekitar 30 hingga 50 sentimeter.
Kepanikan Warga
Saat permukaan air Krueng Meureudu meningkat cepat, warga sempat panik dan berlarian keluar rumah. Informasi ini sebagaimana yang dituturkan oleh Keuchik Blang Awe, Masykur. Ia menyebut kepanikan warga dipicu trauma banjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada November 2025 lalu. Menurutnya, debit air sungai meningkat karena hujan turun terus-menerus sejak sore. “Walaupun sempat surut, hujan masih berlangsung. Jika tidak berhenti, banjir bisa kembali terjadi,” katanya.
Sejumlah rumah warga di bantaran sungai juga kembali terendam. Warga pun mengamankan barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi guna mengantisipasi luapan susulan.
Laporan dari BPBD dan Wakil Bupati
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya, M Nur, menyampaikan bahwa laporan genangan air diterimanya dari Gampong Drien Tujoh, Kecamatan Bandar Dua, serta beberapa gampong di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua. Wakil Bupati Pidie Jaya, Hasan Basri, menyebut sedikitnya 20 gampong di tiga kecamatan kembali terendam banjir. Wilayah tersebut sebelumnya juga dilanda banjir bandang pada akhir November lalu.
Banjir juga kembali melanda wilayah barat Kabupaten Bireuen sejak Rabu (24/12/2025) sekitar pukul 18.00 WIB. Kecamatan Samalanga, Simpang Mamplam, Pandrah, Jeunieb, Peulimbang, Peudada, hingga Jeumpa dilaporkan terdampak. Luapan sejumlah sungai, seperti Krueng Jeunieb, Krueng Nalan Pandrah, dan Krueng Peudada, serta meluapnya beberapa waduk irigasi. Hal ini menyebabkan puluhan desa sempat tergenang. Ketinggian air di sejumlah titik dilaporkan mencapai satu meter, dengan rata-rata sekitar 50 sentimeter.
Armia, warga Gampong Meunasah Tambo, Kecamatan Jeunieb, mengatakan hujan lebat di kawasan pegunungan membuat debit air sungai meningkat drastis dan mengalir deras ke desa-desa di bantaran sungai. “Beberapa ruas jalan tergenang, arus air sangat deras dan membuat warga khawatir,” ujarnya.
Banjir tersebut merupakan kejadian ketiga dalam dua pekan terakhir. Muhammad Dani, warga Kecamatan Pandrah, menyebut hujan deras masih mengguyur hingga malam hari.
Lokasi Pengungsi Terendam
Di kecamatan Peudada, banjir susulan menghantam lokasi pengungsian warga Gampong Meunasah Pulo. Lebih dari seribu warga yang mengungsi di meunasah dan tenda bantuan BNPB kembali dikejutkan banjir bandang pada Rabu malam (24/12/2025). Anggota Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Bireuen, Ikhsan, menyebut banjir luapan sungai terjadi di sejumlah titik dari Samalanga hingga Peudada, menggenangi perkampungan dan jalan desa.
Sehari sebelumnya, lokasi pengungsian sempat kering dan aktivitas warga mulai normal. Namun, Kamis pagi air kembali menggenang, lumpur memenuhi halaman meunasah, dan sejumlah tenda terpaksa dibongkar karena terendam. Rusli, seorang pengungsi, mengatakan, “Semuanya berlumpur lagi, padahal baru dibersihkan. Ada tenda yang rusak.”
Ruhani, pengungsi lainnya, mengaku trauma warga semakin berat. “Hujan tidak terlalu deras, tapi air tiba-tiba datang lagi. Setiap cuaca mendung, warga langsung cemas,” katanya.
Keuchik Meunasah Pulo Peudada, Hamdani, mengatakan desanya menjadi salah satu wilayah terparah terdampak banjir bandang. Pada kejadian sebelumnya, 12 rumah hilang terseret arus, sementara puluhan rumah lainnya tertimbun lumpur hingga setebal 40 sentimeter.
Korban Jiwa
Banjir susulan tersebut ikut menambah daftar korban jiwa. Seorang penumpang ojek asal Gampong Ceumecot, Kecamatan Pirak Timu, Kabupaten Aceh Utara, Abdul Karim (50), meninggal dunia setelah terseret arus air deras di kawasan Pandrah, Kabupaten Bireuen, Rabu (24/12/2025) sore. Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 16.30 WIB di ruas jalan antara Gampong Panton Bili dan Gampong Blang Samagadeng, Kecamatan Pandrah.
Saat kejadian, korban tengah dalam perjalanan menuju rumah istrinya di Gampong Panton Bili dengan menumpang ojek. Ketua PMI Jeunieb, Irwandi, menjelaskan bahwa saat melintasi lokasi kejadian, air sungai meluap hingga ke badan jalan. Sepeda motor yang ditumpangi korban dan pengendara ojek (RBT) diduga terpeleset akibat derasnya arus air. “Sepeda motor terpeleset dan keduanya terjatuh. Pengendara ojek selamat, namun korban terseret arus,” kata Irwandi.
Korban yang diketahui mengalami gangguan penglihatan sempat berdiri setelah terjatuh. Namun, ia kemudian kehilangan keseimbangan dan jatuh ke dalam aliran air yang sangat deras hingga akhirnya terbawa arus. Warga setempat sempat memberikan pertolongan. Korban kemudian ditemukan tidak jauh dari lokasi kejadian, tepatnya di pintu air irigasi Gampong Panton Bili. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
Camat Pandrah, Juanda Abdullah SE MM, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan berdasarkan informasi dari keuchik setempat, korban merupakan warga Aceh Utara yang tinggal di Panton Bili bersama istrinya. “Korban menumpang ojek, kendaraan terpeleset karena air menggenangi jalan. Pengendara selamat, sementara korban jatuh ke aliran air deras,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kasatgas SAR Bireuen, Agus Saputra. Menurutnya, korban ditemukan warga setelah terseret arus dan langsung dievakuasi ke darat. Jenazah Abdul Karim telah dibawa ke rumah istrinya di Gampong Panton Bili, Kecamatan Pandrah, untuk disemayamkan.
Di berbagai daerah terdampak, warga berharap pemerintah daerah dan pusat segera mengambil langkah cepat dan menyeluruh. Tanpa penanganan serius terhadap sungai, drainase, serta infrastruktur pengendali banjir, bencana serupa dikhawatirkan akan terus berulang dan memperpanjang trauma masyarakat Aceh setiap kali hujan deras mengguyur wilayah pedalaman.
Reporter berita yang mengutamakan akurasi dan objektivitas. Ia memiliki ketertarikan pada isu sosial dan ekonomi, serta mengikuti perkembangan dunia digital. Waktu luangnya dihabiskan untuk membaca laporan penelitian, mendengarkan podcast edukasi, dan berjalan santai di taman kota. Motto: "Fakta adalah kompas bagi setiap penulis."












