Budaya  

Dari tungku ke waktu, 26 tahun kesetiaan Ibu Warsiah pada carabikang

Keunikan Carabikang Ibu Warsiah di Jalan Gandekan Lor



Asap tipis perlahan mengepul dari sebuah tungku arang kecil di sudut jalan Gandekan Lor, tepat di belakang Kawasan Malioboro. Aromanya hangat, bercampur antara santan, gula, dan adonan tepung yang mulai matang. Pagi belum benar-benar ramai, namun tangan Ibu Warsiah sudah sibuk sejak pukul setengah sembilan. Dengan gerakan yang tenang dan berulang, ia menuang adonan ke cetakan besi yang dipanaskan di atas bara. Setiap detik terasa penting, seolah waktu di lapak kecil itu berjalan lebih cepat dari biasanya.

Di sanalah Ibu Warsiah menghabiskan sebagian paginya tidak seharian penuh, hanya sampai pukul sebelas. Dua setengah jam yang nyaris tak pernah berubah selama 26 tahun terakhir. Dalam rentang waktu sesingkat itu, ia menghidupkan kembali satu per satu carabikang yang dibuat dadakan, satu per satu, tanpa mesin, tanpa kompor gas, hanya tungku dan kesabaran.

Sejarah dan Perubahan Harga

Ibu Warsiah sudah berjualan carabikang sejak lebih dari dua dekade lalu. Saat itu, harga satu biji carabikang masih sekitar lima ratus rupiah. Uang receh yang dulu terasa cukup, kini tinggal kenangan. Seiring waktu berjalan dan harga bahan pokok terus naik, carabikang buatannya kini dijual seharga dua ribu rupiah per biji. Namun, baginya, perubahan harga tidak pernah menjadi alasan untuk mengubah cara. “Dulu lima ratus, sekarang dua ribu. Ya ikut zaman aja. Tapi caranya tetap sama,” ujarnya singkat.

Kesamaan itu bukan hanya soal cara memasak, tetapi juga tampilan. Di saat banyak jajanan tradisional kini hadir dengan berbagai warna dan rasa demi menarik perhatian, carabikang Ibu Warsiah tetap setia pada satu warna. “Dari dulu cuma satu warna, ga pernah macem-macem,” ujar Bu Warsiah. Baginya, warna bukan sekadar soal estetika. Satu warna itu adalah penanda keaslian, penanda bahwa carabikang yang ia buat masih sama seperti yang dulu ia jual puluhan tahun lalu. Tidak ada pewarna tambahan, tidak ada variasi rasa. Yang ada hanya rasa carabikang sebagaimana mestinya.

Warisan Keluarga dan Kebiasaan

Berjualan carabikang bagi Ibu Warsiah bukan sekadar pekerjaan, tapi kebiasaan yang ia pelajari sejak kecil dari orang tuanya. Dari mereka, ia belajar cara menyiapkan adonan, menyalakan tungku, dan menjaga kualitas rasa. “Dari orang tua dulu saya belajar semuanya,” tuturnya. Didikan itulah yang membentuk carabikang buatan Ibu Warsiah hingga kini tetap dibuat dadakan dan satu warna.

Lapak Ibu Warsiah tidak mencolok. Tidak ada spanduk besar atau promosi berlebihan. Namun setiap pagi, aroma carabikang yang mengepul dari tungku arang menjadi penanda tak tertulis bahwa ia sudah mulai berjualan. Pelanggan datang silih berganti sebagian memang sudah hafal jam bukanya, sebagian lain berhenti karena penasaran dengan kue tradisional yang kini kian jarang ditemui. “Biasanya yang beli itu orang-orang lama, udah tahu jamnya. Kalau kesiangan, ya habis,” ungkapnya.

Waktu Berjualan dan Rencana Harian

Setiap pagi, Ibu Warsiah mulai membuka lapak sekitar pukul setengah sembilan. Waktunya berjualan singkat hanya sampai pukul sebelas siang. Setelah itu, ia akan membereskan peralatan, mematikan tungku, dan kembali ke rutinitas rumah. Bukan karena carabikangnya tak laku, melainkan karena tenaga dan bahan yang ia siapkan memang terbatas. Baginya, berjualan bukan soal mengejar sebanyak-banyaknya pembeli, melainkan tentang menjaga ritme hidup yang ia sanggupi.

Pendapatan dari berjualan carabikang itulah yang selama ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tidak berlebih, tetapi cukup. “Ya cukuplah buat makan keluarga, buat kebutuhan sehari-hari,” terangnya sambil tersenyum tipis, matanya tetap mengawasi adonan yang mulai merekah di atas cetakan panas.

Ketahanan Tradisi di Tengah Modernisasi

Di tengah gempuran jajanan modern dengan aneka warna dan kemasan menarik, carabikang Ibu Warsiah hadir sebagai kebalikan. Tidak berubah, tidak mengikuti tren, dan tidak berusaha mengejar perhatian. Justru dalam kesederhanaan itulah letak kekuatannya. Pelanggan Ibu Warsiah datang dari berbagai kalangan. Ada yang sengaja mampir karena rindu rasa carabikang masa kecil, ada pula yang baru pertama kali mencoba setelah mencium aromanya dari kejauhan. Manda, seorang pembeli yang merantau dari luar jawa mengatakan bahwa carabikang ini unik dan enak. ” Rasanya tuh kayak ada manis gurihnya gitu, terus aku suka sih waktu pertama nyobain. Padahal awalnya karena aromanya aja yang kayak enak banget,” Ujar Manda.

Di tengah maraknya jajanan kekinian dan makanan cepat saji, carabikang Ibu Warsiah berdiri sebagai pengingat bahwa ada tradisi yang bertahan bukan karena tren, melainkan karena kesetiaan. Kesetiaan pada rasa, pada cara, dan pada hidup yang dijalani apa adanya.

Penutup: Ketekunan yang Tak Terlihat

Ketika jarum jam mendekati pukul sebelas, cetakan terakhir diangkat dari tungku. Asap perlahan memudar, dan lapak kecil itu kembali sunyi. Ibu Warsiah mengemasi peralatannya dengan gerakan yang sama seperti puluhan tahun lalu. Besok pagi, di waktu yang sama, ia akan kembali menyalakan tungku dan mengulangi semuanya.

Dan selama tungku itu masih menyala, selama tangannya masih sanggup menuang adonan, carabikang Ibu Warsiah akan terus hadir menjadi saksi bahwa ketekunan tak selalu berteriak, kadang hanya mengepul pelan dari sebuah tungku kecil di pagi hari.

Nurlela Rasyid

Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *