Sejarah yang Terawat di Balikpapan
Balikpapan, kota yang dikenal sebagai pusat industri dan jasa di Kalimantan Timur, memiliki sejarah panjang yang masih terjaga hingga saat ini. Di balik geliat pembangunan dan aktivitas ekonomi, terdapat beberapa situs bersejarah yang menjadi saksi perjalanan bangsa, khususnya terkait sejarah militer dan industri perminyakan di wilayah tersebut.
Dua lokasi penting yang kini menjadi destinasi wisata edukasi adalah Museum Kodam VI/Mulawarman dan Rumah Dahor Heritage. Kehadiran kedua tempat ini menjadi ruang pembelajaran bagi masyarakat, baik pelajar maupun wisatawan, untuk memahami bagaimana peran militer dan industri minyak membentuk Balikpapan seperti yang kita kenal sekarang.
Museum Kodam VI/Mulawarman: Penyimpan Kenangan Militer
Museum Kodam VI/Mulawarman merupakan salah satu museum militer yang ada di Kota Balikpapan. Lokasinya berada di Jalan Letjen Suprapto Nomor 04, Baru Tengah, Balikpapan Barat, Kalimantan Timur. Museum ini mudah diakses dan berada di kawasan dengan nilai historis tinggi.
Museum ini menyimpan berbagai koleksi yang berkaitan erat dengan sejarah Tentara Nasional Indonesia (TNI) di wilayah Kalimantan Timur. Koleksi tersebut mencakup senjata, seragam militer, foto dokumentasi, serta artefak pendukung lainnya yang menggambarkan perjalanan dan peran TNI dari masa ke masa.
Melalui koleksi-koleksi ini, pengunjung dapat melihat bagaimana dinamika pertahanan dan keamanan wilayah Kalimantan Timur berkembang seiring waktu. Museum ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga sebagai pusat edukasi yang menyampaikan nilai perjuangan, pengabdian, serta peran strategis TNI dalam menjaga kedaulatan negara dan mendukung pembangunan daerah.
Penataan ruang pamer yang runtut memudahkan pengunjung mengikuti alur sejarah secara kronologis. Museum ini terbuka untuk umum, baik pengunjung individu maupun rombongan. Jam kunjungan dibuka setiap Senin hingga Jumat, mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WITA. Pengunjung tidak dikenakan biaya masuk atau gratis, namun untuk kunjungan rombongan diwajibkan melakukan surat pemberitahuan resmi terlebih dahulu.
Bagi pelajar dan generasi muda, museum ini menjadi sarana pembelajaran sejarah yang kontekstual. Mereka tidak hanya membaca dari buku, tetapi juga melihat langsung peninggalan sejarah yang menjadi saksi perjalanan militer di Kalimantan Timur.
Rumah Dahor Heritage: Saksi Perkembangan Industri Minyak

Selain museum militer, Balikpapan juga memiliki bangunan cagar budaya yang menyimpan kisah panjang industri minyak, yakni Rumah Dahor Heritage. Rumah panggung berusia lebih dari satu abad ini terletak di Jalan Letjen Suprapto, Balikpapan Barat, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
Rumah Dahor dibangun pada era 1920-an oleh Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM), sebuah perusahaan minyak asal Belanda yang kemudian menjadi cikal bakal Pertamina. Pada masa kolonial, bangunan ini digunakan sebagai tempat tinggal pekerja kelas menengah di lingkungan kilang minyak Balikpapan, yang kala itu menjadi salah satu pusat industri energi terpenting di Asia Tenggara.
Secara arsitektur, Rumah Dahor mengadopsi konsep rumah panggung yang merupakan perpaduan antara rumah adat Lamin milik suku Dayak dan rumah Banjar dari Kalimantan Selatan. Struktur panggung dipilih sebagai solusi adaptasi lingkungan, terutama untuk mengantisipasi banjir air laut serta melindungi penghuni dari ancaman hewan liar pada masa itu.
Material bangunan Rumah Dahor juga menunjukkan kualitas tinggi. Rumah ini dibangun menggunakan kayu-kayu pilihan seperti ulin, meranti, dan bengkirai, yang dikenal memiliki daya tahan luar biasa. Fondasi bangunan kini diperkuat dengan beton, membuat rumah tersebut tetap kokoh meskipun usianya telah melampaui satu abad.
Pengelola Rumah Dahor, Rudiansyah, menjelaskan bahwa secara umum bangunan ini tidak mengalami perubahan signifikan sejak pertama kali dibangun. Keaslian bentuk dan struktur tetap dijaga sebagai bagian dari upaya pelestarian warisan budaya.
Setelah sempat dikosongkan, Rumah Dahor ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya pada 14 November 2011 di era Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi. Status ini kemudian diperkuat kembali pada tahun 2023 oleh Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud, dengan dukungan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB).
Sejak tahun 2016, Rumah Dahor beralih fungsi menjadi destinasi wisata edukasi.
Rumah ini dikelola oleh Rudiansyah bersama Komunitas Dahor Heritage Balikpapan. Di dalamnya, pengunjung dapat melihat dokumentasi sejarah Balikpapan, khususnya pada masa kolonial Belanda. Dokumentasi tersebut diperoleh dari berbagai museum dan arsip perang, termasuk dari Australia.
Minat masyarakat untuk mengunjungi Rumah Dahor tergolong tinggi. Berdasarkan catatan pengelola, jumlah kunjungan berkisar antara 300 hingga 400 orang per bulan. Pengunjung berasal dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak taman kanak-kanak, mahasiswa, akademisi, masyarakat lokal, hingga wisatawan dari luar kota dan mancanegara.
Untuk berkunjung ke Rumah Dahor, pengunjung perlu melakukan janji temu terlebih dahulu. Tidak ada tiket masuk resmi, namun pengunjung dipersilakan memberikan donasi seikhlasnya sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian cagar budaya.
Menjaga Memori Sejarah Balikpapan
Keberadaan Museum Kodam VI/Mulawarman dan Rumah Dahor Heritage menunjukkan bahwa Balikpapan memiliki kekayaan sejarah yang layak dipelajari dan diwariskan. Kedua tempat ini merepresentasikan dua pilar penting dalam perjalanan kota, yakni peran militer dalam menjaga wilayah dan peran industri minyak dalam membentuk identitas Balikpapan sebagai kota energi.
Melalui kunjungan ke museum dan rumah bersejarah, masyarakat tidak hanya berwisata, tetapi juga belajar memahami perjalanan panjang yang membentuk daerahnya. Dengan demikian, sejarah tidak berhenti sebagai catatan masa lalu, melainkan menjadi sumber pembelajaran untuk masa depan.
Penulis online yang antusias mendalami topik kesehatan dan gaya hidup. Ia rutin mengikuti webinar, membaca jurnal kesehatan, dan menulis catatan pribadi tentang pola hidup seimbang. Hobi lain yang ia tekuni adalah membuat smoothie dan meditasi. Motto: "Informasi adalah alat untuk hidup lebih baik."












