Sejarah dan Perjalanan Kendal Tornado FC Menuju Pegadaian Championship 2025/2026
Kendal Tornado FC, yang akan menjadi lawan Persiba Balikpapan di pekan ke-13 Pegadaian Championship 2025/2026, adalah kuda hitam yang mengejutkan sejumlah penggemar sepak bola Indonesia. Klub ini memiliki julukan “Laskar Badai Pantura” dan berawal dari Tornado FC Pekanbaru, yang didirikan pada tahun 2018. Dengan prestasi yang luar biasa, mereka berhasil meraih gelar Runner-up Liga Nusantara 2024/2025, sehingga memperoleh promosi ke Liga 2.
Di bawah pelatih Stefan Rullin Keeltjes, KTFC dikenal dengan taktik “Tiki Taka Badai Pantura”. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut tentang perjalanan klub ini:
Awal Mula di Pekanbaru (2018–2024)
Sejarah Kendal Tornado FC dimulai di Pulau Sumatera, tepatnya di Pekanbaru, Riau, pada tahun 2018. Saat itu, klub ini masih dikenal dengan nama Tornado FC Pekanbaru. Pendirian klub ini bertujuan untuk mengembangkan bakat-bakat sepak bola lokal dan menciptakan wadah kompetitif yang serius.
Tornado FC Pekanbaru segera menunjukkan taringnya di kompetisi regional Liga 3. Dalam waktu singkat, mereka berhasil meraih sejumlah prestasi membanggakan di level provinsi. Puncak kejayaan awal mereka terjadi pada tahun 2019, ketika mereka sukses merengkuh gelar Juara Liga 3 Zona Riau. Keberhasilan ini menjadi fondasi kuat, membuktikan bahwa Tornado FC memiliki struktur dan manajemen serius dalam membangun tim.
Setelah pencapaian juara tersebut, Tornado FC terus menjadi kekuatan dominan di Liga 3 Riau, bahkan berhasil dua kali menduduki posisi runner-up di edisi 2021 dan 2023. Konsistensi inilah yang akhirnya membawa mereka ke panggung nasional. Pada musim 2024–2025, Tornado FC Pekanbaru berhasil melaju ke putaran nasional Liga Nusantara. Di sinilah mereka menghadapi ujian sesungguhnya, bersaing dengan puluhan tim terbaik dari seluruh penjuru Indonesia untuk memperebutkan tiket promosi ke kasta kedua.
Dengan perjuangan heroik, Tornado FC berhasil menjadi runner-up Liga Nusantara musim 2024–2025. Hasil ini adalah lompatan besar yang mengamankan satu tempat di Liga 2. Promosi ini adalah hadiah atas kerja keras selama bertahun-tahun di level amatir.
Eksodus ke Tanah Jawa: Kelahiran Kendal Tornado FC (2025)
Momen krusial dalam sejarah klub ini terjadi pada tahun 2025. Setelah berhasil mengamankan tiket promosi ke Liga 2, manajemen klub membuat keputusan besar dan strategis: memindahkan markas klub dari Pekanbaru ke Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, sekaligus mengubah nama klub secara resmi menjadi Kendal Tornado Football Club (KTFC).
Keputusan ini tidak lepas dari visi sang pemilik klub, Junianto (Anto Van Java), seorang pengusaha yang dikenal memiliki kecintaan mendalam terhadap sepak bola dan semangat untuk memajukan daerah. Kendal dipilih sebagai markas baru karena dianggap memiliki potensi besar, baik dari segi basis suporter maupun dukungan infrastruktur. Kepindahan ini disambut antusias oleh masyarakat Kendal, yang mendambakan tim sepak bola profesional yang dapat mereka banggakan.
Kabupaten Kendal, yang terletak strategis di Jalur Pantura, kini memiliki representasi di kompetisi sepak bola tertinggi kedua di Indonesia. Nama “Laskar Badai Pantura” yang disematkan menjadi julukan baru mencerminkan semangat juang tim yang kini berjuang di wilayah pesisir utara Jawa.
Infrastruktur dan Modernisasi Manajemen
Untuk mengimbangi ambisi besar di kasta kedua, KTFC tidak main-main dalam membangun fondasi klub. Mereka menjadikan Stadion Utama Kebondalem, Kendal, sebagai markas utama mereka, dengan kapasitas yang mencapai sekitar 15.000 penonton. Meskipun Stadion Kebondalem masih dalam tahap renovasi, klub berhasil mengamankan Stadion Jatidiri, Semarang, sebagai markas sementara untuk mengarungi musim perdana mereka di Liga 2.
Lebih dari sekadar stadion, manajemen Kendal Tornado FC juga berinvestasi besar pada fasilitas pengembangan pemain. Mereka membangun Charlie Sport Center di Limbangan, Kendal, sebuah pusat pelatihan terpadu yang mencakup lapangan latihan, mess pemain yang nyaman, dan fasilitas gym modern. Rencana untuk menambah fasilitas lain seperti lapangan futsal indoor dan kolam renang menunjukkan komitmen jangka panjang klub terhadap profesionalisme.
Di bawah kepemimpinan Ketua Umum Fardan Nandana dan Manajer Heri Sasongko, klub merekrut pelatih kepala yang berkualitas, Stefan Rullin Keeltjes, yang mulai bertugas sejak Mei 2025. Keeltjes, yang sebelumnya pernah menangani klub seperti Gresik United dan Nusantara United, membawa filosofi permainan cepat dan disiplin, yang terbukti cocok dengan karakter “Badai” yang diusung klub. Kolektifitas permainan membuat Kendal Tornado FC dikenal dengan Tiki Taka Badai Pantura.
Untuk memperkuat visi teknis, legenda Liga Indonesia, Danilo Fernando, dipercaya sebagai Direktur Teknik klub, menunjukkan keseriusan Kendal Tornado FC dalam merancang strategi pengembangan tim, termasuk pembinaan pemain muda.
Musim Perdana di Championship
Memasuki kompetisi Pegadaian Championship 2025–2026, Kendal Tornado FC, yang berstatus tim promosi, dipandang sebelah mata oleh banyak pihak, terutama karena harus bersaing di grup yang dipenuhi tim-tim legendaris Liga Indonesia. Namun, Laskar Badai Pantura segera membuktikan bahwa mereka adalah “kuda hitam” terbaik sejauh ini.
Dengan komposisi skuad yang memadukan pemain-pemain lokal berkualitas dan tiga pemain asing yang didatangkan, seperti bek Kolombia Juan Pablo Morales, gelandang serang Brasil-Portugal Felipe Ryan, dan penyerang Brasil Patrick Cruz, KTFC tampil mengejutkan. Kecepatan dan kedisiplinan taktis yang diterapkan oleh pelatih Stefan Keeltjes menjadi kunci utama.
Salah satu hasil paling mengesankan adalah kemenangan tandang 3-2 atas Persipura Jayapura di Jayapura (28 September 2025), yang menjadi sinyal peringatan keras bagi kontestan lainnya. Hingga November 2025, Kendal Tornado FC berhasil duduk di posisi empat besar klasemen Grup 2, mencatatkan diri sebagai tim promosi paling efektif dengan selisih gol surplus yang impresif. Keberhasilan ini tidak hanya diukur dari poin, tetapi juga dari cara mereka bermain: kolektif, cepat, dan penuh kejutan.
Stefan Keeltjes memuji kedisiplinan dan kerja keras para pemainnya, sementara Juan Pablo Morales menekankan bahwa kemenangan datang dari fokus dan komitmen tim.
Visi Masa Depan
Kendal Tornado FC tidak hanya berfokus pada prestasi di lapangan. Klub ini secara aktif menjalin hubungan erat dengan masyarakat Kendal. Acara-acara seperti doa bersama jelang musim kompetisi, yang bahkan melibatkan Pondok Pesantren Al Wahdah Boja, menunjukkan upaya klub untuk mendapatkan dukungan spiritual dan mempererat ikatan dengan komunitas.
Visi jangka panjang dari pemilik klub, Junianto, adalah untuk mengorbitkan talenta-talenta muda, tidak hanya untuk klub tetapi juga untuk tim nasional. Program seleksi talenta muda Kendal yang sukses menjaring pemain lokal pedalaman Kendal adalah bukti nyata komitmen ini.
Dengan sejarah yang diawali dengan badai ambisi di Pekanbaru dan kini mendarat menjadi simbol harapan di Kendal, Kendal Tornado FC telah menjelma dari klub kecil menjadi kekuatan yang diperhitungkan.
Jurnalis digital yang menaruh perhatian besar pada perkembangan teknologi dan komunikasi. Ia senang membaca jurnal ilmiah, mencoba aplikasi baru, dan melakukan riset kecil untuk mempertajam analisis. Hobinya termasuk bermain catur dan mendengarkan musik klasik. Motto: "Pemahaman mendalam menghasilkan berita yang bernilai."












