Budaya  

Harapan di Senja yang Membentuk

Mimpi dan Harapan yang Tak Pernah Berhenti

Setiap orang memiliki harapan masing-masing, baik itu berupa kebaikan atau keburukan. Yang terpenting adalah letak kebahagiaan yang tersimpan dalam diri mereka. Namun, tidak semua harapan bisa tercapai sesuai dengan apa yang diharapkan.

Aku adalah seorang gadis yang hanya bisa bermimpi dan mengkhayal. Dengan harapan yang mungkin sulit untuk dicapai, aku ingin menjadi seorang penulis, tapi sampai saat ini belum berhasil. Aku menjunjung tinggi mimpi-mimpi yang semakin tak terkendali, menembus langit dengan keyakinan dan kekuatan hati. Semua itu mungkin, jika Tuhan menghendaki.

Pagi hari, matahari mulai bersinar perlahan, menyinari segala yang ada di dunia. Cahaya yang terpancar menghiasi cakrawala. Aku terbangun dengan silau dari sinar matahari, seolah sedang mengintip melalui celah-celah buku mata. Burung-burung berkicau menjadi pengingat masa lalu, meskipun itu hanyalah kenangan yang telah berlalu. Sambil meregangkan otot-otot yang kaku, aku melafalkan doa dan harapan untuk hari ini.

Belum saja selesai dengan itu, sebuah gedoran dan gebrakan datang menghantam kamar ku. Tidak lama kemudian, aku melihat seseorang yang ku tebak sebagai pelakunya. Itu adalah abangku. Abang yang selalu mematahkan sayap-sayap kecilku, menjadi komando yang menjatuhkan dan membinasakan semua yang kuinginkan.

Meski kami lahir dari rahim yang sama dan tumbuh bersama, mengapa Tuhan membuatnya membenciku? Ia seolah jijik dengan kehadiranku. Setiap kali ia mengatakan, “Bangunlah! Mimpimu terlalu jauh, tak akan lama kau pasti mengeluh. Kau tak akan bisa menggali atau menggapai mimpi yang kau inginkan dengan berseri-seri.” Ucapan itu sangat menyakitkan, namun harus kuperjuangkan.

Harapan adalah harga dari diri. Keinginan adalah tujuan dalam diri. Kita berharap apa yang kita inginkan, dan hanya diri sendiri yang paham tentang perasaan itu. Tidak ada yang akan mengerti selain diri sendiri, yang datang dan pergi dari diri, dan apapun itu, tergantung pada diri kita sendiri.

Entah apa dendam yang abangku pendam, ia membenci ku seolah-olah kita tidak memiliki ikatan. Kami seperti rival dengan status kembar yang samar. Ia selalu memunculkan rasa keraguan di tengah-tengah keyakinanku. Aku tidak ingin dipaksa menjadi sempurna.

Sehingga aku usahakan memiliki prinsip: teruslah melangkah dan jangan pernah menyerah. Tidak ada hidup tanpa masalah, dan tidak ada yang berjuang tanpa merasa lelah. Tercapai adalah anugerah, dan terhenti bukanlah masalah. Semua percaya dengan keyakinan dan kekuatan sampai tujuan.

Abang adalah luka, namun juga penyembuh lara. Meskipun jauh, purusartha adalah keindahan dalam masa. Mimpi yang ku jadikan pujangga dalam hati.

Di sore itu, aku pergi bersama payung putih yang senada dengan pakaianku. Taman masih ramai dengan beberapa orang, tetapi terasa sunyi dan penuh kesulitan. Payung adalah bukti dari keterlambatan isi hati. Diriku pernah menjadi yang tersakiti, namun dengan percaya diri aku yakin dengan semua seni yang ku anggap bisa mengobati.

Namun, itu semua adalah tanda tiba sebuah luka, yang menusuk pasukan rongga dalam jiwa, menyeret lara dalam raga. Putih adalah warna yang ku pakai dengan sentuhan cinta, lambang kesucian yang terkesan menyakitkan. Payung kehidupan yang membuat ku kehilangan seorang pahlawan.

Ketika rintik hujan berjatuhan, aku mainkan payung itu di daratan meskipun sedikit kehujanan. Di bawah pohon dengan dedaunan yang rindang, aku ucapkan rindu yang tak terbalaskan. Senja mulai datang, menenggelamkan matahari di ufuk barat dan mendatangkan bulan yang menggantikan. Taman mulai menyepi, aku hanya seorang diri, memeluk rindu yang menyelimuti.

Hingga ada sesuatu yang menyentuh pundak ku dengan tenang, lembut, dan menenangkan. Disaat itu, aku semakin terhanyut, bukan untuk menoleh mencari siapa gerangan tersebut. “Tak ada yang abadi di dunia ini, mau itu kebahagiaan ataupun keterpurukan. Karena hanya Tuhan yang menakdirkan.” Sampai akhirnya aku mendengar dia berkata pelan namun tegas dan jelas.

“Kamu bisa meski kejamnya dunia meraja.” Lanjutnya, dia mengusap pundak ku pelan, seolah-olah menguatkan apa yang menjadi tambatan dalam keyakinan dan kebingungan. Suaranya serak, ku tebak dia seorang pria yang sudah berumur.

“Terus semangat meski banyak yang menghambat!” Sekali lagi dia berkata dengan lemah dan lembut, aku tak bisa menyahut itu, malah semakin terhanyut oleh keadaan dan ucapan yang di lontarkan pak tua itu.

Perlahan usapan di pundak ku sedikit tak terasa, hingga usapan itu kembali menyapa namun di atas kepala, ia mengacak rambutku haru, lalu tak terasa ia pergi meninggalkan aku seorang diri, yang di selimuti dengan rasa iri. Iya! Iri hati.

Aku iri dengan siapa adek atau anak dari pak tua tersebut. Dengan menanggahkan kepala, melontarkan banyak pertanyaan, namun tak bisa ku ucapkan. Aku mencari siapa pemilik dari suara tadi. Namun terlihat semakin jauh, punggung itu seperti menaruh sesuatu yang akan rapuh, jalan pelan dan perlahan sampai tak terlihat siapa gerangan?

Aku pulang dengan beralaskan impian dan harapan yang mungkin jauh dari kenyataan. Malam itu langit bertaburan bintang dan rembulan menjadi tambatan lawan, setelah hujan seperkian detik menyisakan malam yang berganti cerah namun sedikit pekat.

Masih teringat jelas kata yang tadi diberikan pak tua itu. Tak ada yang abadi di dunia ini, mau itu kebahagiaan ataupun keterpurukan. Karena hanya Tuhan yang menakdirkan.

Jika dalam kebahagiaan tak abadi maka kesedihan pun harus diakhiri. Aku percaya takdir yang diberikan Tuhan, meski hati tak menyambut dengan sopan, tapi akan ku ikhlaskan, jika semua yang ditakdirkan padaku hanyalah sebuah harapan yang tak bisa menjadi kenyataan.

Tapi aku yakin dengan sebuah doa dan usaha yang ku lakukan akan membuat sesuatu yang tak mungkin menjadi terwujud. Aku bisa meski aku tau betapa kejamnya dunia, karena kejamnya dunia hanya sementara.

Aku akan buktikan pada dunia dan warga bahwa aku bisa! Bisa menjadi apa yang ku harapkan dan ku impikan!

Rusmawan

Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *