Kondisi Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar yang Semakin Parah
Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar) terus menimbulkan dampak serius. Hingga hari Minggu (7/12/2025), jumlah korban meninggal dunia mencapai 921 orang, sementara 392 orang masih hilang, dan lebih dari 975.075 warga terpaksa mengungsi. Laporan tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, dalam rapat koordinasi bersama Presiden Prabowo Subianto di Posko Terpadu Penanganan Bencana Alam Aceh.
Wilayah Paling Terdampak
Menurut data BNPB, dua kabupaten di Aceh menjadi wilayah paling parah akibat bencana ini, yaitu Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah. Di Bener Meriah, sebanyak 232 kelurahan terdampak banjir dan longsor, sedangkan di Aceh Tengah, 295 desa di 14 kecamatan mengalami kerusakan berat. Proses evakuasi dan pendataan korban masih terus dilakukan di lapangan untuk memastikan semua warga terlindungi.
Presiden Prabowo Soroti Kerusakan Infrastruktur
Dalam rapat tersebut, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan perhatian khusus terhadap kerusakan infrastruktur yang signifikan. Sawah-sawah pertanian rusak, bendungan jebol, dan beberapa jembatan putus akibat bencana. Salah satu proyek yang sedang dikerjakan adalah pembangunan Jembatan Bailey Teupin Mane oleh Kementerian PUPR dan TNI. Jembatan penghubung utama antara Medan dan Banda Aceh ini ditargetkan dapat beroperasi dalam waktu satu minggu.
Selain itu, tiga jembatan lain juga direncanakan dibangun untuk mempercepat akses logistik dan evakuasi warga. Presiden memerintahkan kementerian dan pemerintah daerah segera melakukan rehabilitasi serta memenuhi kebutuhan mendesak bagi para korban bencana.
Kerusakan pada Sawah dan Bendungan
Presiden Prabowo juga menyampaikan laporan mengenai kerusakan lahan pertanian dan infrastruktur air. Banyak bendungan besar maupun kecil mengalami kerusakan, sementara irigasi terganggu dan perlu diperbaiki. Banyak rumah warga rusak berat dan harus dibangun kembali. Dengan situasi ini, pemerintah diminta untuk segera bertindak guna memulihkan kondisi masyarakat yang terdampak.
Upaya Penanganan yang Terus Dipercepat
TNI, BNPB, dan berbagai instansi terkait terus bekerja keras untuk mempercepat pembukaan akses, distribusi bantuan, serta pembangunan infrastruktur darurat. Bencana ini dianggap sebagai salah satu yang terbesar di Sumatra dalam beberapa tahun terakhir.
Solidaritas dari Perantau Aceh di Tangerang Selatan
Di tengah kesulitan yang masih berlangsung, solidaritas datang dari para perantau Aceh di luar daerah, termasuk di Kota Tangerang Selatan. Melalui jejaring komunitas, bantuan mulai digalang dalam waktu singkat, seperti pakaian, kebutuhan anak, hingga membuka akses pertolongan bagi sesama perantau yang turut kesulitan.
El Adi, salah satu perantau Aceh yang tinggal di Kota Tangerang Selatan, mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap kondisi anak-anak yang terjebak tanpa makanan dan air bersih. Meski jauh dari kampung halaman, ia memilih untuk tidak tinggal diam. “Yang paling sedih itu anak-anak… kita saja satu hari nggak makan sudah susah, apalagi mereka nyangkut di pohon, pertahan rumah malam,” ujarnya.
Dari lokasi perantauannya, Adi bersama komunitas Aceh lainnya menyiapkan pos bantuan. Mereka mengumpulkan pakaian layak pakai, perlengkapan anak, serta membuka pintu bagi para perantau Aceh yang juga terdampak dan membutuhkan dukungan. “Silakan datang ke warung-warung Aceh atau pengusaha-pengusaha Aceh… insya Allah kita siap bantu,” ujar Adi.
Selain menggalang donasi, komunitas Aceh juga mengoordinasikan distribusi bantuan agar dapat segera disalurkan ke kampung halaman. Menurut Adi, apa yang mereka lakukan hanyalah bentuk kepedulian bagi keluarga dan warga yang sedang berjuang bertahan. Di tengah kesulitan yang masih berlangsung, harapan terbesar para perantau tetap sederhana: keselamatan keluarga dan terpenuhinya kebutuhan dasar warga. Mereka juga berharap upaya pemerintah dalam memulihkan daerah terdampak semakin kuat, sehingga bantuan dari rantau dapat menjadi pelengkap yang meringankan beban masyarakat.
“Ini hanya doa… pemerintah sudah berusaha, kita juga berusaha. Tapi anak-anak itu yang paling kita harapkan selamat,” tutup Adi.
Rusmawan adalah seorang penulis berita online yang serbabisa dalam menguraikan berbagai peristiwa menjadi berita yang jelas dan ringan. Ia suka membaca opini, melakukan riset pendek, dan membuat rangkuman harian. Di waktu senggang, ia menikmati musik instrumental. Motto: “Informasi yang baik dimulai dari niat yang baik.”












