Daerah  

Mahyuni bertahan 8 hari berkat bantuan warga, tanpa bantuan pemerintah

Pengalaman Warga Aceh Tamiang Saat Banjir Dahsyat

Warga Kabupaten Aceh Tamiang menghadapi banjir yang sangat mengerikan pada 26 November 2025. Tanpa bantuan pemerintah, mereka bertahan selama delapan hari dengan saling membantu satu sama lain. Salah satu korban, Darussalam (29), warga Desa Sungai Liput, Kecamatan Kejuruan Muda, mengungkapkan pengalamannya saat banjir menyerang rumahnya.

Pada dini hari tanggal 26 November, Darussalam bersama istrinya, Mahyuni, dan empat anaknya memutuskan meninggalkan rumah karena air mulai meluap. Meski berada di atas bukit, rumah tersebut tetap tenggelam akibat banjir yang sangat besar. “Tetangga yang di bawah naik ke halaman rumah kami. Itu pun tenggelam juga, kami lihat air begitu deras,” ujar Mahyuni.

Air diperkirakan mencapai enam meter dari badan jalan. Pada pukul 03.00 WIB, air terus meninggi. Listrik padam, hujan deras, dan angin kencang. Warga nekat menyeberangi anak sungai menggunakan batang pinang sebagai jembatan darurat. “Anak sungai itu hanya pohon pinang jadi jembatannya. Itulah yang kami lewati, ada yang bawa bayi dan lain sebagainya,” cerita Mahyuni.

Mereka berjalan menelusuri bukit, menghindari air bah yang mulai mencapai kaki bukit. Hujan deras dan jalan licin dilalui hingga menemukan sebuah rumah yang berada lebih tinggi, tempat mereka bertahan selama delapan hari. “Kami bertahan di situ hingga hari kedelapan. Warga bantu warga. Tidak bicara lagi bantuan pemerintah, tidak ada sama sekali,” katanya.

Bahan makanan diperoleh dari pedagang yang menjualnya lewat perahu, tetapi dengan harga sangat tinggi. Gas 3 kilogram yang normalnya Rp20.000 dijual Rp150.000. Beras lima kilogram dijual Rp120.000, dan mi instan Rp200.000 per kardus. “Kami tidak punya pilihan, anak-anak harus makan. Seberapa mahal pun kami beli. Padahal beras itu sudah terendam banjir, kami beli juga,” ujarnya.

Pada 2 Desember 2025, mereka akhirnya bisa keluar dari desa. “Desa kami sekitar 600 jiwa, 90 persen rumah hancur,” katanya. Kini Mahyuni dan anak-anak tinggal sementara di rumah saudara di Lhokseumawe. Sementara Darussalam kembali ke Aceh Tamiang untuk membersihkan rumah dan membantu warga lain.

“Anak dan istri di Lhokseumawe itu. Biar aman,” pungkasnya.

Banjir di kawasan tersebut menghancurkan ratusan rumah, memutus listrik, dan menghambat evakuasi korban.

Kesaksian Rizqi Shafriyaldi

Tiga hari tiga malam bertahan di atap rumah di Kabupaten Aceh Tamiang, inilah kesaksian Rizqi Shafriyaldi (30), salah satu korban. Pikirannya masih dihantui banjir bandang yang menghantam desanya. Dalam benaknya, tak pernah terbayang air bah bisa sampai memasuki kawasan pusat Aceh Tamiang di Kecamatan Karang Baru yang kini bak kota mati.

Rumah Rizqi berada di Desa Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru. Di kawasannya, air mulai masuk sejak Rabu (26/11/2025) subuh. Kondisi fisik Rizqi kini mulai melemah. Bahkan, sesekali ia kerap terbangun dari tidur, seolah air banjir tersebut datang kembali.

Sebelum air memasuki kawasan Karang Baru, sejak Senin (24/12/2025), air sudah lebih dulu memasuki beberapa permukiman warga di desa lainnya. Sejak saat itu, Rizqi dan orang tuanya memang sudah khawatir, tetapi mereka masih yakin air tidak akan sampai. Sebab, Desa Tanah Terban posisinya sedikit lebih tinggi ketimbang wilayah lain di Aceh Tamiang.

Bahkan, beberapa keluarga (saudara) dari desa yang sudah terdampak ikut mengungsi ke rumah Rizqi. Sehari sebelum banjir melanda, Rizqi dan keluarganya tetap berusaha mengevakuasi barang-barang seadanya. Mereka membuat tangga darurat dari kayu-kayu yang berserakan agar bisa naik ke bagian atap rumah.

“Jadi, air masuk itu pertama subuh. Sebelumnya, barang-barang kami naikkan terus ke atas rumah, kami coba usaha,” kata Rizki kepada Kompas.com, Rabu (4/12/2025). “Rupanya usaha kami sia-sia karena air sampai ke atap rumah,” imbuhnya.

Subuh itu, kata Rizqi, hentakan air cukup kuat dan langsung masuk ke dalam rumah. Rizqi dan keluarganya pun bergegas naik ke atas atap (genteng) untuk menyelamatkan diri. “Terjebak kami di atas atap tiga hari tiga malam, tidak makan apa-apa. Saat pagi, kami naik ke atas atap, ketika malam, turun ke atap beton dekat dengan plafon,” ujarnya.

Minggu (30/11/2025), air perlahan mulai surut. Rizqi dan saudara laki-laki lainnya berusaha turun meski harus berjalan di dalam air. Mereka mencari makanan apa pun yang bisa dikonsumsi akibat kelaparan. “Selama banjir kami tidak makan apa-apa, makanya waktu turun warga sudah seperti zombie. Apa yang ada untuk bisa dimakan walaupun roti sudah terendam dalam air,” tuturnya.

Rizqi bersyukur rumahnya masih kokoh. Namun, dia menyaksikan langsung bagaimana rumah tetangganya hancur dan mobil-mobil hanyut di bawa air. Kondisi air pada saat itu benar-benar tinggi. “Tinggi kali airnya. Kalau tsunami kan hantaman gelombang. Kalau kami bukan hantaman gelombang, tetapi kiriman balok-balok besar dari gunung.”

“Dari situlah rusak rumah warga, dari hantaman-hantaman kayu itu,” katanya.

Saat ini, kata Rizqi, kondisi Aceh Tamiang kekeringan. Suasana kota tandus dan berdebu hasil akibat lumpur banjir di tengah kondisi masyarakat kesulitan mencari air bersih. “Logistik sudah mulai berdatangan, tetapi masih sangat minim. Kami kelaparan, sudah seminggu terjebak banjir,” ungkapnya.

Rizqi menyebutkan, kondisi Aceh Tamiang saat ini belum kondusif mulai dari pusat kota hingga ke pedesaan. Dia berharap, bantuan bisa terus berdatangan dan menyebar ke seluruh masyarakat. “Aceh Tamiang benar-benar butuh perhatian, sangat memprihatinkan.” “Kenapa visual kondisi tempat kami (Aceh Tamiang) baru beredar ketimbang daerah lain karena kami tidak ada jaringan listrik dan internet selama terjebak banjir,” tuturnya.

Faiqa Amalia

Jurnalis yang fokus pada isu pendidikan, karier, dan pengembangan diri. Ia suka membaca buku motivasi, mengikuti seminar online, dan menulis rangkuman belajar. Hobinya adalah minum teh sambil menenangkan pikiran. Motto: “Pengetahuan harus dibagikan, bukan disimpan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *