Budaya  

Media Sosial Pengaruhi Perilaku Gen Z dalam Pernikahan?

Peran Media Sosial dalam Pengambilan Keputusan Pernikahan Gen Z

Media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Gen Z. Dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam pengambilan keputusan besar seperti pernikahan, media sosial memainkan peran penting. Lewat platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter, Gen Z dapat menyaksikan beragam konten viral, termasuk soal pernikahan. Konten-konten tersebut mungkin saja memengaruhi Gen Z dan akhirnya mereka mengikuti tren tersebut.

Namun, apakah semua Gen Z seperti itu? Untuk mengetahui lebih lanjut, para spesialis wedding melakukan wawancara eksklusif di Gran Meliá Jakarta. Berikut penjelasan tentang bagaimana media sosial bisa memengaruhi Gen Z dalam pernikahan.

Tak Sedikit Gen Z yang Mengikuti Arus Media Sosial

Berdasarkan penuturan Franciska, Project Manager dari Riviera Wedding Organizer, mayoritas pasangan Gen Z masih ingin pernikahan mereka terlihat up to date. Menurutnya, sekitar 60 persen dari mereka cenderung mengikuti tren dekorasi dan warna yang sedang populer, seperti chandelier atau nuansa burgundy, hijau, dan biru. Dorongan agar mereka bisa terlihat mengikuti perkembangan terkini itu terutama karena adanya exposure media sosial, sehingga membuat banyak pasangan merasa perlu memilih konsep yang sedang naik daun agar pernikahannya relevan secara visual.

“Yang 60 persen itu mereka ‘Oke deh, sekarang mau di musim ini. Kalau aku nggak ikutin tren ini, nanti wedding aku nggak up to date’,” kata Franciska. Walau begitu, ada pula sekitar 40 persen pasangan tetap mempertahankan gaya personal mereka. Mereka tahu persis apa yang mereka inginkan dan tidak mengikuti detail dekor yang sedang viral. Bagi mereka yang punya pendirian, keaslian identitas dan preferensi pribadi lebih penting daripada mengikuti arus tren, sehingga gaya mereka cenderung timeless dan tidak terpengaruh siklus viral.

“Jadi 60 persen mereka mau ngikut, yang 40 persen itu nggak. Mereka sudah punya kemauan, mulai dari warna dan temanya. Meskipun sekarang lagi trend warna burgundy, hijau, atau biru, tetap mereka nggak. Misal, mereka mau yang klasikal, mau putih, pink, merah,” jelasnya.

Media Sosial sebagai Referensi dan Pembanding untuk Menentukan Pernikahan

Menurut Peggy Sharon, Wedding Stylist dari Pggyshrn Stylist, media sosial kini menjadi referensi sekaligus pembanding terkuat bagi hampir semua pasangan. Seperti contoh, pasangan tersebut akan melihat contohnya dari teman mereka yang menikah lalu diunggah ke media sosial. Unggahan tersebut menjadi acuan awal untuk menentukan gaya pernikahan mereka akan masuk atau tidak kalau mengikuti temannya. Namun media sosial bukan satu-satunya penentu, tentunya mereka tetap menyaring referensi tersebut melalui filter preferensi pribadi yang sudah mereka miliki.

“Kalau mereka sudah punya standard taste masing-masing, apa yang ingin mereka tunjukkan, mungkin dari sweet memory yang mereka sudah hadapin kayak liburan atau pre-wed, something yang mereka pengin kasih. Tetap mereka akan jadiin social media itu sebutannya reference and pembanding. Tetap acuannya dari mereka sendiri, mereka akan bandingkan kira-kira dengan social media,” tutur Peggy.

Gen Z Cepat dalam Menentukan Tren yang Cocok untuk Pernikahannya

Gen Z dikenal sebagai generasi dengan kesadaran diri yang kuat. Menurut tim dari vendor Pggyshrn Stylist, mereka sangat cepat menentukan apakah sebuah tren untuk pernikahannya itu cocok atau tidak dengan gaya mereka, hanya dengan melihat referensi visual di media sosial.

“Social media sudah pasti jadi reference buat mereka, tapi sebenarnya mereka dalam brainstorming menentukan apakah itu cocok atau nggak, mereka itu lebih decisive. Jadi, kayak dari benchmark-nya social media, mereka sudah bisa langsung lihat kayak ‘Ini nggak cocok buat gue’ atau ‘Ini cocok buat gue’,” ucapnya. Baginya, keputusan Gen Z lebih tegas dan terarah, sehingga mereka jarang terbawa arus tanpa adanya pertimbangan. Hasilnya, mereka secara spesifik lebih tahu pernikahan yang diinginkan seperti apa.

Gen Z Punya Keinginan Sendiri untuk Pernikahannya

Adapun menurut Accessibility Manager, Sri Yoko, walau media sosial menjadi sebuah tolak ukur bagi Gen Z sebagai inspirasi untuk pernikahannya, mereka tidak sepenuhnya terpaku pada tren. Mereka kini lebih sadar akan preferensi pribadi dan ingin mengekspresikan jati diri mereka dalam pernikahan.

Seperti yang dialami oleh beberapa klien Sri Yoko, pasangan-pasangan tersebut memilih untuk tidak mengundang tamu orangtua. Kemudian, mereka juga punya beberapa permintaan yang tidak biasa, seperti dekorasi bunga diganti dengan batu asli.

“Memang kebetulan yang terakhir (klien) ini pengantinnya memang tidak suka bunga. Real tidak ada bunga. Itu pun hanya dikasih dari dekor, itu bunganya pun bunga yang kering. Lebih lucunya lagi maunya dekorasi batu, ya real batu,” kata Sri Yoko. Meskipun dana masih banyak berasal dari orangtua, keputusan desain dan konsep kini hampir sepenuhnya ada pada pasangan. Menurutnya, pasangan Gen Z bebas mengatur segalanya sesuai budget yang diberikan. Tahun 2026 akan menjadi era di mana kendali kreatif pasangan pengantin berada di puncaknya.

“Ini menunjukkan bahwa orangtua ada power, tapi lebih yang sudah menyerahkan ke anak-anaknya, bahkan tidak menutup kemungkinan sekarang banyak dana dari orangtua, tetap saja sekarang sudah pasrah. Orangtua cuma bisa kasih segini, ya mereka atur itu. Kalau menurut saya sekarang lagi banyaknya begitu, yang atur dari sesuai budget yang diberikan orangtua itu mereka atur sendiri,” lanjut Sri Yoko.

Dina Nabila

Penulis yang mengamati perkembangan gaya hidup sehat dan tren olahraga ringan. Ia suka jogging sore, membaca artikel kesehatan mental, dan mencoba menu makanan sehat. Menurutnya, menulis adalah cara menjaga keseimbangan pikirannya. Motto: “Sehat dalam pikiran, kuat dalam tulisan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *