Dewi Astutik, Bandar Narkoba 2 Ton yang Ditangkap di Ponorogo

Peran dan Keterlibatan Dewi Astutik dalam Jaringan Narkoba Internasional

Dewi Astutik, yang kini menjadi perhatian utama dalam kasus penyelundupan narkoba internasional, merupakan sosok penting dalam jaringan narkoba yang terorganisir. Ia dikenal sebagai gembong narkoba asal Kecamatan Balong, Ponorogo, yang juga menjadi buronan Interpol atas kasus penyelundupan 2 ton sabu senilai Rp 5 triliun. Penangkapan ini terjadi di Sihanoukville, Kamboja, setelah satu tahun bersembunyi.

Dewi Astutik diduga menjadi otak dari penyelundupan 2 ton sabu yang berasal dari KM Sea Dragon Tarawa di perairan Karimun, Kepulauan Riau, pada 20 Mei 2025. Penyelundupan ini menimbulkan kerugian besar bagi pemerintah Indonesia dan menggemparkan dunia hukum. Penangkapan Dewi Astutik dilakukan melalui operasi lintas negara yang dipimpin oleh Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Roy Hardi Siahaan.

Identitas Asli dan Nama Samaran

Nama asli Dewi Astutik adalah Paryantin. Ia juga memiliki sejumlah nama samaran seperti Kak Jinda dan Dinda. Namun, identitas aslinya tidak dikenal secara luas karena ia menggunakan identitas palsu. Warga sekitar mengenalnya dengan inisial PA, bukan Dewi Astutik. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Dusun Sumber Agung, Gunawan, yang menyatakan bahwa tidak ada nama Dewi Astutik di lingkungan tersebut.

Selain itu, warga setempat mengatakan bahwa PA bekerja di luar negeri, termasuk di Hongkong, Taiwan, dan terakhir di Kamboja. Hal ini memperkuat dugaan bahwa Dewi Astutik menggunakan identitas palsu untuk menyembunyikan identitas aslinya.

Peran Sentral dalam Jaringan Golden Triangle

Dewi Astutik diketahui memiliki peran penting dalam jaringan Golden Triangle. Ia diduga menjadi pemimpin lapangan sekaligus perekrut kurir, dengan sebagian besar kurir berasal dari Indonesia. Perannya terkuak setelah aparat mengamankan dua ton sabu dari kapal MT Sea Dragon Tarawa di perairan Kepulauan Riau pada 22 Mei 2025.

Empat awak kapal berstatus WNI diketahui memiliki keterkaitan langsung dengannya. Berdasarkan temuan BNN, tiket perjalanan para kurir dipesan oleh pihak yang berhubungan dengan Dewi Astutik. Fakta ini menguatkan posisinya sebagai pengendali jaringan.

Kendalikan Ratusan Kurir WNI

BNN menyatakan bahwa Dewi Astutik diduga telah mengendalikan ratusan kurir narkoba, mayoritas warga negara Indonesia. Sudah lebih dari 110 WNI yang ditangkap di berbagai negara mengaku berada dalam jaringan yang dikendalikan Dewi Astutik.

Penangkapan para kurir tersebut terjadi di berbagai wilayah, mulai dari Asia hingga Amerika Latin dan Afrika, mengindikasikan luasnya jangkauan operasi jaringan yang dipimpinnya. Ini menunjukkan bahwa jaringan narkoba yang dikendalikan Dewi Astutik tidak hanya terbatas di wilayah Asia Tenggara, tetapi juga mencakup pasar internasional.

Terhubung dengan Sindikat Afrika

Selain berperan di Golden Triangle, Dewi Astutik juga disebut terhubung dengan sindikat narkoba Afrika yang beroperasi di Thailand dan kawasan Semenanjung Malaya. Meski diyakini BNN bukan sebagai pimpinan tertinggi, Dewi Astutik dinilai memiliki posisi strategis dalam struktur organisasi jaringan tersebut.

Koneksi lintas benua itu membuat Dewi Astutik masuk radar otoritas internasional, termasuk sempat menjadi buronan Korea Selatan. Penangkapan ini menjadi langkah penting dalam upaya pemberantasan narkoba di tingkat global.

Atikah Zahirah

Seorang Penulis berita yang menelusuri tren budaya pop, musik, dan komunitas kreatif. Ia suka menghadiri acara seni, menonton konser, serta memotret panggung. Waktu luangnya ia gunakan untuk mendengarkan playlist indie. Motto: “Budaya adalah denyut kehidupan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *