Kisah Sarmi dan Toni, Lansia Hipertensi yang Selalu Periksa Kesehatan

Program Rumah Rasa: Bantuan untuk Lansia yang Mengidap Hipertensi dan Depresi



Jakarta, mungkin banyak dari kita pernah merasa kesulitan membujuk orang tua yang sudah lanjut usia untuk memeriksakan kesehatannya. Namun, kisah Sarmi Chairul (63) dan Toni (73) bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang. Keduanya merupakan peserta dari program Rumah Rasa, inovasi dari Lentera (Layanan Terapi Hipertensi dan Depresi pada Lansia) yang berada di Puskesmas Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Program ini dirancang khusus untuk membantu lansia menghadapi tantangan kesehatan seperti hipertensi dan depresi. Dalam program tersebut, para peserta diberikan berbagai kegiatan yang bermanfaat, seperti pemeriksaan tekanan darah, meditasi, berbagi cerita dengan psikolog, dan juga aktivitas fisik seperti berkeliling Hutan Kota GBK serta bermain permainan sederhana.

Cerita Sarmi Chairul: Periksa ke Dokter Daripada Tidak Sama Sekali

Sarmi Chairul sempat terkejut ketika melihat hasil pemeriksaan tekanan darahnya di Rumah Rasa. Alat tersebut menunjukkan angka 171, jauh dari biasanya yang sekitar 130 atau 135. Meskipun ia mengaku sedang sakit kepala, Sarmi tetap tampak riang dan penuh semangat.

“Jadi tumben itu (tekanan darah) saya 171, kalau enggak salah. Saya juga kan ke posyandu lansia tiap bulannya jadi saya tahu karena, kok tumben, apa saya kecapekan? Memang sih, dalam minggu-minggu ini kegiatan banyak,” ujarnya.

Selain tekanan darah, hasil pemeriksaan kolesterolnya juga cukup tinggi, yaitu 215. Ia mengaku bahwa hal ini disebabkan oleh stres akibat menjaga pola makan. Makanan seperti bakso dan gorengan tidak ia sukai, namun ia tetap memperhatikan asupan makanannya.

Sebagai pengidap hipertensi, Sarmi memahami pentingnya menjaga kondisi tubuhnya. Ia menghindari makanan tertentu, pastikan memiliki durasi istirahat yang cukup, dan menerima penyuluhan untuk minum obat setiap hari.

Meski terkejut dengan hasil pemeriksaan, Sarmi merasa bahwa hal tersebut menjadi peringatan baginya sendiri. “Tapi alhamdulillah-nya ya, hasilnya jadi warning. Jadi kita bisalah nantinya ke depannya kita bisa ngerem, apa yang bisa kita cegah,” katanya.

Ia juga menyadari bahwa rutin memeriksakan diri ke dokter lebih baik daripada hanya memeriksakan diri ketika sudah sakit parah. “Kita lebih baik periksa daripada enggak sama sekali, kan, kita lebih takut. Justru saya penasaran,” tambahnya.

Cerita Toni: Rutin Periksa ke Dokter dan Minum Obat

Toni mengaku sudah mengidap hipertensi sejak lama. Hasil pemeriksaan tekanan darahnya mencapai 213, meskipun kadang turun naik. “Turun naik sih kalau tekanan darah, kemarin cuma 153,” ujarnya.

Ia mengatakan bahwa ketika tekanan darahnya tinggi, bagian belakang lehernya kerap terasa sakit, dan tubuhnya juga terasa kurang enak sehingga menghambat aktivitasnya.

Sama seperti Sarmi, Toni rutin memeriksakan diri ke dokter setiap setengah bulan atau sebulan sekali. Ia juga rutin minum obat dan selalu mengecek apakah obatnya masih ada atau tidak.

Sebagai nenek dari sembilan cucu, Toni cukup aktif dalam kehidupan sehari-harinya. Ia tidak hanya gemar berolahraga, tapi juga membantu menggosok pakaian.

Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan Rutin bagi Lansia

Cerita Sarmi dan Toni menunjukkan bahwa pemeriksaan kesehatan rutin sangat penting bagi lansia, terutama yang hidup dengan hipertensi. Deteksi dini dan perawatan sederhana dapat membuat lansia tetap aktif dan mandiri.

Dengan program seperti Rumah Rasa, lansia dapat mendapatkan dukungan dan pengawasan yang diperlukan untuk menjaga kesehatan mereka. Ini menjadi contoh bahwa perawatan kesehatan yang tepat dapat memberikan dampak positif bagi kualitas hidup lansia.

Faridah Hasna

Reporter berita yang mengulas peristiwa cepat dan trending topic. Ia gemar memantau media sosial, mencoba aplikasi baru, dan membuat konten singkat. Waktu senggangnya dihabiskan dengan mendengarkan podcast opini. Motto: “Kecepatan harus sejalan dengan ketepatan.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *